Luas Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) di wilayah Kabupaten Sarolangun yang merupakan rumah bagi ribuan Orang Rimba berkurang hingga 14 ribu ha. Berkurangnya luasan hutan ini menjadi pertanyaan, Tumenggung Tarip, satu di antara pimpinan Orang Rimba di TNBD yang sudah tahu merosotnya luasan tempat hidup mereka.

“Kalau dulu taman kita luasnya 65 ribu ha, sekarang katanya dikurangi dan menjadi 50 ribu ha lebih. Kita belum teliti siapa yang minta dikeluarkan dari taman, kita juga belum tahu apakah memang dalam taman atau hutan adat,” kata Tumenggung Tarip kemarin.

Satu di antara sesepuh dan pimpinan Orang Rimba di TNBD ini mengatakan jika pengurangan luasan hutan itu dimanfaatkan bagi kepentingan Orang Rimba hal tersebut tidak akan membawa kerugian bagi mereka. Tapi, jika dimanfaatkan perusahaan menurutnya orang rimba yang dirugikan, pasalnya wilayah jelajah bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup bakal berkurang. “Kalau hutan adat ya itu silakan, kan dikelola pemerintah. Tapi kalau dalam taman sebenarnya itu tidak bisa,” ungkap Tarip.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNBD Sarolangun, Nukman, mengiyakan luas TNBD saat ini berkurang hingga mencapai 14 ribu ha, di dalam peta disebutkan luasannya yakni 65 ribu ha, akan tetapi setelah dilakukan penatabatasan di lapangan diketahui hanya 50.549, 32 ha. “Setelah didata ternyata yang disahkan Menhut hanya 50549, 32 ha,” kata Nukman, Minggu (5/4).

Luas lahan 14 ribu ha lebih itu katanya prakteknya saat ini hutan banyak yang sudah menjadi peladangan dan pemukiman penduduk. Sehingga sejak November 2014 kemarin lahan tersebut dikeluarkan dari kawasan taman nasional. “Itu bukan kita yang mengeluarkan dari kawasan taman, tapi dikeluarkan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan 13 di Bangka Belitung. Dan kami belum menerima hard copy dari peta yang disahkan itu,” katanya.

Staf Khusus Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanni Adiati, pada kunjungannya ke Jambi beberapa waktu lalu mengaku baru mendapat laporan pengurangan kawasan TNBD. “Saya baru mendapat laporan tentang hal ini. Katanya direvisi bulan Januari kemarin, saya belum lihat petanya. Jadi pengurangannya kemana dan dimana saya belum lihat, masih draf. Tapi pengurangan itu resmi,” kata Hanni.

Pengurangan kawasan taman menurut dia biasanya terjadi karena kawasan taman ada yang berubah menjadi perkampungan, Area Pengguna Lain (APL) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). “Kalau pun itu jadi APL kita minta Pemda untuk tetap bisa mendukung kehidupan orang rimba. Perusahaan juga begitu, harus ada tanggung jawab sosial terutama soal pencemaran. Perusahaan harus memperhatikan ekosistim sekitar taman dan orang. Artinya bukan orang rimba saja, tapi masyarakat luas,” ujarnya.

Sumber: Laporan wartawan Tribun Bandot

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Luas Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) di wilayah Kabupaten Sarolangun yang merupakan rumah bagi ribuan Orang Rimba berkurang hingga 14 ribu ha. Berkurangnya luasan hutan ini menjadi pertanyaan, Tumenggung Tarip, satu di antara pimpinan Orang Rimba di TNBD yang sudah tahu merosotnya luasan tempat hidup mereka.

    “Kalau dulu taman kita luasnya 65 ribu ha, sekarang katanya dikurangi dan menjadi 50 ribu ha lebih. Kita belum teliti siapa yang minta dikeluarkan dari taman, kita juga belum tahu apakah memang dalam taman atau hutan adat,” kata Tumenggung Tarip kemarin.

    Satu di antara sesepuh dan pimpinan Orang Rimba di TNBD ini mengatakan jika pengurangan luasan hutan itu dimanfaatkan bagi kepentingan Orang Rimba hal tersebut tidak akan membawa kerugian bagi mereka. Tapi, jika dimanfaatkan perusahaan menurutnya orang rimba yang dirugikan, pasalnya wilayah jelajah bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup bakal berkurang. “Kalau hutan adat ya itu silakan, kan dikelola pemerintah. Tapi kalau dalam taman sebenarnya itu tidak bisa,” ungkap Tarip.

    Kepala Sub Bagian Tata Usaha TNBD Sarolangun, Nukman, mengiyakan luas TNBD saat ini berkurang hingga mencapai 14 ribu ha, di dalam peta disebutkan luasannya yakni 65 ribu ha, akan tetapi setelah dilakukan penatabatasan di lapangan diketahui hanya 50.549, 32 ha. “Setelah didata ternyata yang disahkan Menhut hanya 50549, 32 ha,” kata Nukman, Minggu (5/4).

    Luas lahan 14 ribu ha lebih itu katanya prakteknya saat ini hutan banyak yang sudah menjadi peladangan dan pemukiman penduduk. Sehingga sejak November 2014 kemarin lahan tersebut dikeluarkan dari kawasan taman nasional. “Itu bukan kita yang mengeluarkan dari kawasan taman, tapi dikeluarkan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan 13 di Bangka Belitung. Dan kami belum menerima hard copy dari peta yang disahkan itu,” katanya.

    Staf Khusus Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanni Adiati, pada kunjungannya ke Jambi beberapa waktu lalu mengaku baru mendapat laporan pengurangan kawasan TNBD. “Saya baru mendapat laporan tentang hal ini. Katanya direvisi bulan Januari kemarin, saya belum lihat petanya. Jadi pengurangannya kemana dan dimana saya belum lihat, masih draf. Tapi pengurangan itu resmi,” kata Hanni.

    Pengurangan kawasan taman menurut dia biasanya terjadi karena kawasan taman ada yang berubah menjadi perkampungan, Area Pengguna Lain (APL) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). “Kalau pun itu jadi APL kita minta Pemda untuk tetap bisa mendukung kehidupan orang rimba. Perusahaan juga begitu, harus ada tanggung jawab sosial terutama soal pencemaran. Perusahaan harus memperhatikan ekosistim sekitar taman dan orang. Artinya bukan orang rimba saja, tapi masyarakat luas,” ujarnya.

    Sumber: Laporan wartawan Tribun Bandot

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on