Sekalipun perannya penting bagi kelangsungan hidup manusia, masalah kualitas tanaman pangan jarang menjadi perhatian publik. Padahal, beberapa hasil penelitian menunjukkan hasil cukup mengkhawatirkan. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mengindikasikan terjadinya penurunan kandungan vitamin dan mineral dalam apel, jeruk, dan beberapa buah lain sebesar 25-50 persen selama generasi terakhir. Berdasarkan tabel komposisi milik Pemerintah Amerika Serikat, sayuran kehilangan banyak kalsium, besi, dan elemen penting lain sejak tahun 1960-an dan 1970-an.

Sebuah tim di bawah pimpinan Samuel Myers, peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Harvard, fokus pada konsentrasi seng, besi, dan protein dalam berbagai biji-bijian. Seng dan zat besi merupakan masalah besar karena kekurangan nutrisi ini mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk bertahan melawan penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 2 miliar orang tidak mendapatkan cukup seng dan besi dalam makanan mereka. Kondisi itu memperpendek hidup 63 juta orang setiap tahun.

Laporan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature berfokus pada dampak yang lebih berbahaya dari peningkatan karbon dioksida (CO2). Studi ini berpijak pada pertanyaan apakah meningkatnya konsentrasi CO2-yang terus terjadi sejak Revolusi Industri-akan mengancam nutrisi manusia. Pada gandum, misalnya, pada kadar CO2 yang makin tinggi, konsentrasi seng turun hampir 10 persen, sedangkan konsentrasi zat besi dan protein turun sekitar 5 persen. Sementara itu, konsentrasi seng dan besi dalam beras, kacang polong, dan kacang kedelai turun 3-8 persen. Hal tersebut tidak terjadi pada jagung dan sorgum (tanaman C4) karena fotosintesis tanaman C4 berbeda dengan tanaman C3 (gandum dan beras).

Studi lain di bawah pimpinan Prof Arnold Bloom menyimpulkan, CO2 kadar tinggi menghambat konversi nitrat menjadi protein. Asimilasi (pengolahan) nitrogen memainkan peran sangat penting dalam pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Dalam kasus tanaman pangan, hal ini sangat penting karena tanaman menggunakan nitrogen untuk memproduksi protein penting untuk kebutuhan gizi manusia. Gandum, misalnya, menyediakan hampir seperempat protein yang dibutuhkan tubuh manusia.

Kadar CO2

Hanya dalam 40-60 tahun ke depan, konsentrasi rata-rata CO2 global diperkirakan mencapai 550 ppm, yakni tingkat yang diuji dalam penelitian tim Myers. Kehilangan 5-10 persen dari beberapa nutrisi mungkin terdengar tidak banyak, tetapi hal itu berdampak besar pada kesehatan, terutama di wilayah dengan ragam makanan terbatas.

Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), 1,9 miliar orang tinggal di negara-negara di mana setidaknya 70 persen kebutuhan seng atau besi mereka peroleh dari tanaman C3. Penurunan kandungan gizi dalam makanan membuat mereka berisiko lebih besar untuk terkena berbagai penyakit, seperti malaria, pneumonia, dan diare.

Penurunan kandungan nutrisi tanaman pangan akan memengaruhi konsumsi manusia, sementara CO2 atmosfer dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat secara signifikan dan itu akan terus terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Bukan tidak mungkin manusia akan mengonsumsi makanan tanpa nutrisi tinggi. Diperkirakan bakal terjadi perubahan fisik dan ukuran tubuh jika peningkatan CO2 tidak ditanggapi sejak dini.

Kondisi Indonesia

Indonesia belum memiliki data tentang kualitas tanaman pangan. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus terjadi. Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar (2003), Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun, dari luasan hutan yang tersisa itu, hampir setengahnya terdegradasi.

Kawasan hutan lindung di Jalan Takengon-Blangkejeren, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Senin (23/3), yang rusak. Para perambah liar membuka lahan dengan cara menebang pohon di hutan dan membakar lahan. Tindakan itu pada gilirannya akan meningkatkan emisi karbon dioksida yang bisa mengurangi kandungan gizi tanaman pangan.

Kompas/Adrian FajriansyahKawasan hutan lindung di Jalan Takengon-Blangkejeren, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Senin (23/3), yang rusak. Para perambah liar membuka lahan dengan cara menebang pohon di hutan dan membakar lahan. Tindakan itu pada gilirannya akan meningkatkan emisi karbon dioksida yang bisa mengurangi kandungan gizi tanaman pangan.

Hutan berperan penting sebagai penjaga fungsi tata air, penyerap dan penyimpan CO2 untuk diubah menjadi oksigen, serta sumber air bagi kebutuhan makhluk hidup. Berkurangnya luas hutan akan menyebabkan terjadinya pelepasan emisi karbon yang telah diserap oleh hutan tersebut.

Sejak tahun 1970, penggundulan hutan mulai marak di Indonesia. Pada tahun 1996-2000, laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Laju kehilangan hutan selama tahun 2000-2005 setara dengan 364 lapangan bola per jam. Menurut laporan Bank Dunia, Indonesia telah melepaskan 300 ton emisi karbon untuk setiap 1 hektar lahan hutan yang dibuka menjadi perkebunan.

Indonesia memiliki 20 juta hektar lahan gambut, sebagian besar terletak di Sumatera dan Kalimantan. Hutan gambut adalah penyerap dan pelepas emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Jika lahan gambut dibuka, apalagi dibakar, emisi GRK yang dilepaskan ke atmosfer sangat besar, yakni 3-10 kali emisi GRK yang dilepas oleh ekosistem lain di daratan. Kebakaran hutan tahun 1997-1998 telah melahap sekitar 10 juta lahan gambut. Akibatnya, 0,81-2,57 gigaton karbon dilepas ke atmosfer. Pelepasan karbon (CO) ke udara (O2) akan membentuk senyawa CO2.

Kondisi tersebut menempatkan Indonesia di posisi ketiga negara produsen emisi GRK terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat. Dalam hal ini, 85 persen emisi berasal dari kerusakan dan berkurangnya luas hutan.

Sumber: Litbang KOMPAS

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sekalipun perannya penting bagi kelangsungan hidup manusia, masalah kualitas tanaman pangan jarang menjadi perhatian publik. Padahal, beberapa hasil penelitian menunjukkan hasil cukup mengkhawatirkan. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mengindikasikan terjadinya penurunan kandungan vitamin dan mineral dalam apel, jeruk, dan beberapa buah lain sebesar 25-50 persen selama generasi terakhir. Berdasarkan tabel komposisi milik Pemerintah Amerika Serikat, sayuran kehilangan banyak kalsium, besi, dan elemen penting lain sejak tahun 1960-an dan 1970-an.

    Sebuah tim di bawah pimpinan Samuel Myers, peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Harvard, fokus pada konsentrasi seng, besi, dan protein dalam berbagai biji-bijian. Seng dan zat besi merupakan masalah besar karena kekurangan nutrisi ini mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk bertahan melawan penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 2 miliar orang tidak mendapatkan cukup seng dan besi dalam makanan mereka. Kondisi itu memperpendek hidup 63 juta orang setiap tahun.

    Laporan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature berfokus pada dampak yang lebih berbahaya dari peningkatan karbon dioksida (CO2). Studi ini berpijak pada pertanyaan apakah meningkatnya konsentrasi CO2-yang terus terjadi sejak Revolusi Industri-akan mengancam nutrisi manusia. Pada gandum, misalnya, pada kadar CO2 yang makin tinggi, konsentrasi seng turun hampir 10 persen, sedangkan konsentrasi zat besi dan protein turun sekitar 5 persen. Sementara itu, konsentrasi seng dan besi dalam beras, kacang polong, dan kacang kedelai turun 3-8 persen. Hal tersebut tidak terjadi pada jagung dan sorgum (tanaman C4) karena fotosintesis tanaman C4 berbeda dengan tanaman C3 (gandum dan beras).

    Studi lain di bawah pimpinan Prof Arnold Bloom menyimpulkan, CO2 kadar tinggi menghambat konversi nitrat menjadi protein. Asimilasi (pengolahan) nitrogen memainkan peran sangat penting dalam pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Dalam kasus tanaman pangan, hal ini sangat penting karena tanaman menggunakan nitrogen untuk memproduksi protein penting untuk kebutuhan gizi manusia. Gandum, misalnya, menyediakan hampir seperempat protein yang dibutuhkan tubuh manusia.

    Kadar CO2

    Hanya dalam 40-60 tahun ke depan, konsentrasi rata-rata CO2 global diperkirakan mencapai 550 ppm, yakni tingkat yang diuji dalam penelitian tim Myers. Kehilangan 5-10 persen dari beberapa nutrisi mungkin terdengar tidak banyak, tetapi hal itu berdampak besar pada kesehatan, terutama di wilayah dengan ragam makanan terbatas.

    Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), 1,9 miliar orang tinggal di negara-negara di mana setidaknya 70 persen kebutuhan seng atau besi mereka peroleh dari tanaman C3. Penurunan kandungan gizi dalam makanan membuat mereka berisiko lebih besar untuk terkena berbagai penyakit, seperti malaria, pneumonia, dan diare.

    Penurunan kandungan nutrisi tanaman pangan akan memengaruhi konsumsi manusia, sementara CO2 atmosfer dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat secara signifikan dan itu akan terus terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Bukan tidak mungkin manusia akan mengonsumsi makanan tanpa nutrisi tinggi. Diperkirakan bakal terjadi perubahan fisik dan ukuran tubuh jika peningkatan CO2 tidak ditanggapi sejak dini.

    Kondisi Indonesia

    Indonesia belum memiliki data tentang kualitas tanaman pangan. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus terjadi. Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar (2003), Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun, dari luasan hutan yang tersisa itu, hampir setengahnya terdegradasi.

    Kawasan hutan lindung di Jalan Takengon-Blangkejeren, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Senin (23/3), yang rusak. Para perambah liar membuka lahan dengan cara menebang pohon di hutan dan membakar lahan. Tindakan itu pada gilirannya akan meningkatkan emisi karbon dioksida yang bisa mengurangi kandungan gizi tanaman pangan.

    Kompas/Adrian FajriansyahKawasan hutan lindung di Jalan Takengon-Blangkejeren, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Senin (23/3), yang rusak. Para perambah liar membuka lahan dengan cara menebang pohon di hutan dan membakar lahan. Tindakan itu pada gilirannya akan meningkatkan emisi karbon dioksida yang bisa mengurangi kandungan gizi tanaman pangan.

    Hutan berperan penting sebagai penjaga fungsi tata air, penyerap dan penyimpan CO2 untuk diubah menjadi oksigen, serta sumber air bagi kebutuhan makhluk hidup. Berkurangnya luas hutan akan menyebabkan terjadinya pelepasan emisi karbon yang telah diserap oleh hutan tersebut.

    Sejak tahun 1970, penggundulan hutan mulai marak di Indonesia. Pada tahun 1996-2000, laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Laju kehilangan hutan selama tahun 2000-2005 setara dengan 364 lapangan bola per jam. Menurut laporan Bank Dunia, Indonesia telah melepaskan 300 ton emisi karbon untuk setiap 1 hektar lahan hutan yang dibuka menjadi perkebunan.

    Indonesia memiliki 20 juta hektar lahan gambut, sebagian besar terletak di Sumatera dan Kalimantan. Hutan gambut adalah penyerap dan pelepas emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar. Jika lahan gambut dibuka, apalagi dibakar, emisi GRK yang dilepaskan ke atmosfer sangat besar, yakni 3-10 kali emisi GRK yang dilepas oleh ekosistem lain di daratan. Kebakaran hutan tahun 1997-1998 telah melahap sekitar 10 juta lahan gambut. Akibatnya, 0,81-2,57 gigaton karbon dilepas ke atmosfer. Pelepasan karbon (CO) ke udara (O2) akan membentuk senyawa CO2.

    Kondisi tersebut menempatkan Indonesia di posisi ketiga negara produsen emisi GRK terbesar di dunia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat. Dalam hal ini, 85 persen emisi berasal dari kerusakan dan berkurangnya luas hutan.

    Sumber: Litbang KOMPAS

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on