Jum’at, 01 Mei 2015
Manokwari, MAJALAH  SELANGKAH-Kepolisian Resort (Polres) Manokwari dan Brigade Mobil  (Brimob) di Manokwari, Papua Barat  dikabarkan telah melakukan penangkapan terhadap 12 orang pemuda aktivis mahasiswa pada Kamis, (30/4/15)  dan sekitar 150 orang lainnya pada Jumat, (1/5/15).
Mereka tidak hanya ditangkap. Dalam keterangan tertulisnya, Jumat, (1/5/15), Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari,  Yan Christian Warinussy  mengatakan,  para aktivis yang ditangkap itu mengalami tindakan kekerasan berupa siksaan di Markas Komando Detasemen Brimob, Rendani atas – Manokwari, Provinsi Papua Barat .
“Ini merupakan sebuah “tamparan” keras terhadap Presiden Republik Indonesia, Ir.H.Joko Widodo yang sedang mempersiapkan langkah untuk memberi perhatian dalam konteks pemberian grasi, amnesty dan atau abolisi bagi para aktivis politik di tanah Papua dalam waktu dekat ini. Bagaimana tidak, ini terjadi di saat Presiden Jokowi sedang berupaya membangun komunikasi-komunikasi konstruktif dengan berbagai komponen masyarakat di Tanah Papua, guna mencari bentuk penyelesaian konflik sosial-politik yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun di Tanah Papua,” kata Yan.
Ternyata, kata dia, justru Presiden Jokowi diperhadapkan pada tindakan aparat negara yang seharusnya berada di bawah komanda dan kendalinya untuk tidak terus melakukan tindakan-tindakan destruktif dan melawan hukum bahkan melanggar hak asasi manusia sebagaimana halnya dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Kapolres Manokwari saat ini maupun Kapolda Papua Barat serta Komandan Sub Detasemen Brimob di Manokwari tersebut.
“Hal ini tentu akan menjadi preseden yang sangat buruk bagi citra Indonesia sebagai sebuah negara yang sedang dikategorikan sebagai pelanggar hak asasi manusia warga negaranya sendiri, khususnya di Tanah Papua,” kata Yan.
Sekaligus, dijelaskan dalam keterangan tertulis itu, makin memperkuat desakan internasional beberapa hari lalu lewat kampanye di sekitar 20 negara di dunia untuk mendesak dibukanya akses bagi jurnalis asing, pekerja kemanusiaan dan lembaga hak asasi manusia internasional untuk masuk ke Tanah Papua yang dinilai sudah ditutup selama lebih dari 50 tahun, terhitung semenjak integrasi 1 Mei 1963 yang lalu.
“12 orang aktivis yang ditangkap pada Kamis, 30/4 di Manokwari sebagaimana dilaporkan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Manokwari, mereka diciduk aparat Polres Manokwari saat sedang membagi-bagikan selebaran ajakan aksi demo damai memperingati tanggal 1 Mei sebagai Hari Aneksasi Papua Barat,” kata dia.
Sedangkan 150 orang aktivis lainnya, kata Yan,  yang sebagaian besara adalah mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Manokwari, mereka ditangkap di depan kampus Universitas Papua (Unipa) di Amban – Manokwari dan juga ada yang ditangkap di depan Mapolsek Amban – Manokwari.
Menurut keterangan sumber LP3BH, mereka 150 orang ini baru datang berkumpul untuk melakukan aksi damai dan belum melakukan tindakan apapaun, tapi tiba-tiba sejumlah iring-iringan sepeda motor sekitar 20 buah dikemudikan anggota Brimob bersenjata lengkap dan beberapa buah truk serta kendaraan lapis baja (barakua) datang menghampiri mereka dan mereka para aktivis diperintahkan naik dan dibawa menuju Mako Brimob – Manokwari.
LP3BH Manokwari sudah diminta bantuan hukum dari Pimpinan KNPB Wilayah Manokwari dan WPNA untuk memberikan pendampingan sesuai hak-hak para tersangka tersebut, dan sedang dipersiapkan untuk melakukan pendampingan hukum kepada para aktivis tersebut. (Putri Papua/MS)
Sumber: http://majalahselangkah.com/content/-penangkapan-100-an-aktivis-di-manokwari-tamparan-buat-jokowi
Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA
    Jum’at, 01 Mei 2015
    Manokwari, MAJALAH  SELANGKAH-Kepolisian Resort (Polres) Manokwari dan Brigade Mobil  (Brimob) di Manokwari, Papua Barat  dikabarkan telah melakukan penangkapan terhadap 12 orang pemuda aktivis mahasiswa pada Kamis, (30/4/15)  dan sekitar 150 orang lainnya pada Jumat, (1/5/15).
    Mereka tidak hanya ditangkap. Dalam keterangan tertulisnya, Jumat, (1/5/15), Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari,  Yan Christian Warinussy  mengatakan,  para aktivis yang ditangkap itu mengalami tindakan kekerasan berupa siksaan di Markas Komando Detasemen Brimob, Rendani atas – Manokwari, Provinsi Papua Barat .
    “Ini merupakan sebuah “tamparan” keras terhadap Presiden Republik Indonesia, Ir.H.Joko Widodo yang sedang mempersiapkan langkah untuk memberi perhatian dalam konteks pemberian grasi, amnesty dan atau abolisi bagi para aktivis politik di tanah Papua dalam waktu dekat ini. Bagaimana tidak, ini terjadi di saat Presiden Jokowi sedang berupaya membangun komunikasi-komunikasi konstruktif dengan berbagai komponen masyarakat di Tanah Papua, guna mencari bentuk penyelesaian konflik sosial-politik yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun di Tanah Papua,” kata Yan.
    Ternyata, kata dia, justru Presiden Jokowi diperhadapkan pada tindakan aparat negara yang seharusnya berada di bawah komanda dan kendalinya untuk tidak terus melakukan tindakan-tindakan destruktif dan melawan hukum bahkan melanggar hak asasi manusia sebagaimana halnya dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Kapolres Manokwari saat ini maupun Kapolda Papua Barat serta Komandan Sub Detasemen Brimob di Manokwari tersebut.
    “Hal ini tentu akan menjadi preseden yang sangat buruk bagi citra Indonesia sebagai sebuah negara yang sedang dikategorikan sebagai pelanggar hak asasi manusia warga negaranya sendiri, khususnya di Tanah Papua,” kata Yan.
    Sekaligus, dijelaskan dalam keterangan tertulis itu, makin memperkuat desakan internasional beberapa hari lalu lewat kampanye di sekitar 20 negara di dunia untuk mendesak dibukanya akses bagi jurnalis asing, pekerja kemanusiaan dan lembaga hak asasi manusia internasional untuk masuk ke Tanah Papua yang dinilai sudah ditutup selama lebih dari 50 tahun, terhitung semenjak integrasi 1 Mei 1963 yang lalu.
    “12 orang aktivis yang ditangkap pada Kamis, 30/4 di Manokwari sebagaimana dilaporkan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Manokwari, mereka diciduk aparat Polres Manokwari saat sedang membagi-bagikan selebaran ajakan aksi demo damai memperingati tanggal 1 Mei sebagai Hari Aneksasi Papua Barat,” kata dia.
    Sedangkan 150 orang aktivis lainnya, kata Yan,  yang sebagaian besara adalah mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Manokwari, mereka ditangkap di depan kampus Universitas Papua (Unipa) di Amban – Manokwari dan juga ada yang ditangkap di depan Mapolsek Amban – Manokwari.
    Menurut keterangan sumber LP3BH, mereka 150 orang ini baru datang berkumpul untuk melakukan aksi damai dan belum melakukan tindakan apapaun, tapi tiba-tiba sejumlah iring-iringan sepeda motor sekitar 20 buah dikemudikan anggota Brimob bersenjata lengkap dan beberapa buah truk serta kendaraan lapis baja (barakua) datang menghampiri mereka dan mereka para aktivis diperintahkan naik dan dibawa menuju Mako Brimob – Manokwari.
    LP3BH Manokwari sudah diminta bantuan hukum dari Pimpinan KNPB Wilayah Manokwari dan WPNA untuk memberikan pendampingan sesuai hak-hak para tersangka tersebut, dan sedang dipersiapkan untuk melakukan pendampingan hukum kepada para aktivis tersebut. (Putri Papua/MS)
    Sumber: http://majalahselangkah.com/content/-penangkapan-100-an-aktivis-di-manokwari-tamparan-buat-jokowi
    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on