Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kembali mengirimkan beras ke sejumlah kabupaten di Provinsi Papua pada awal musim kemarau ini. Menurut Kepala Badan Urusan Logistik Subdivisi Regional III Bojonegoro Efdal Sulaiman, pengiriman beras ke Papua tersebut atas permintaan dari Bulog pusat. Alasannya, untuk pemerataan sektor pangan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. “Kebetulan sebentar lagi Bojonegoro memasuki panen kedua,” ujarnya kepada Tempo, Senin, 15 Juni 2015.

Data dari Kantor Bulog Subdivisi Regional III Bojonegoro menyebutkan jumlah beras yang dikirim ke Papua sebanyak 5.000 ton untuk beberapa kabupaten, antara lain Fakfak, Nabire, dan Manokwari. Rata-rata tiap kabupaten mendapatkan jatah seribu ton dan mulai dikirim pada pertengahan Juni 2015.

Selama Januari-Juni Bulog Bojonegoro telah mengirim beras ke luar Jawa dengan jumlah total 27.000 ton. Beras sebanyak itu dikirim ke beberapa provinsi, di antaranya Bengkulu, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Riau.

Beras dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan juga diminati para pedagang dari sejumlah kota di Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Biasanya para pedagang dari daerah ini lebih agresif dalam membeli beras dan gabah kering giling. Tak jarang mereka langsung membeli ke petani.

Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Ahmad Djupari mengatakan daerahnya memasuki masa panen kedua sekitar dua pekan ke depan. Daerah yang panen meliputi Kecamatan Kedungadem, Sekar, Kanor dan sebagian Sumberejo. Itu belum termasuk sawah-sawah di tepian Bengawan Solo, seperti di Kecamatan Kalitidu, Trucuk, Malo,  Padangan, Dander dan Kapas. “Ya, dua pekan lagi panen kedua,” ujarnya.

Menurut Djupari, ada dua jenis padi yang akan dipetik akhir bulan Juni dan awal Juli, yaitu padi hibrida yang bisa menghasilkan 8 ton per hektare serta nonhibrida, seperti Ciherang, C-4, dan Bengawan. Diperkirakan ada sekitar 40.000 ton gabah kering untuk panen kedua ini. Ia optimistis produksi beras 2015 dapat memenuhi target 900 ribu ton. Apalagi untuk tahun ini panen bisa berlangsung minimal dua kali, terutama di daerah areal pertanian di sekitar Bengawan Solo. (tempo.co)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kembali mengirimkan beras ke sejumlah kabupaten di Provinsi Papua pada awal musim kemarau ini. Menurut Kepala Badan Urusan Logistik Subdivisi Regional III Bojonegoro Efdal Sulaiman, pengiriman beras ke Papua tersebut atas permintaan dari Bulog pusat. Alasannya, untuk pemerataan sektor pangan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. “Kebetulan sebentar lagi Bojonegoro memasuki panen kedua,” ujarnya kepada Tempo, Senin, 15 Juni 2015.

    Data dari Kantor Bulog Subdivisi Regional III Bojonegoro menyebutkan jumlah beras yang dikirim ke Papua sebanyak 5.000 ton untuk beberapa kabupaten, antara lain Fakfak, Nabire, dan Manokwari. Rata-rata tiap kabupaten mendapatkan jatah seribu ton dan mulai dikirim pada pertengahan Juni 2015.

    Selama Januari-Juni Bulog Bojonegoro telah mengirim beras ke luar Jawa dengan jumlah total 27.000 ton. Beras sebanyak itu dikirim ke beberapa provinsi, di antaranya Bengkulu, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Riau.

    Beras dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan juga diminati para pedagang dari sejumlah kota di Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Biasanya para pedagang dari daerah ini lebih agresif dalam membeli beras dan gabah kering giling. Tak jarang mereka langsung membeli ke petani.

    Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Ahmad Djupari mengatakan daerahnya memasuki masa panen kedua sekitar dua pekan ke depan. Daerah yang panen meliputi Kecamatan Kedungadem, Sekar, Kanor dan sebagian Sumberejo. Itu belum termasuk sawah-sawah di tepian Bengawan Solo, seperti di Kecamatan Kalitidu, Trucuk, Malo,  Padangan, Dander dan Kapas. “Ya, dua pekan lagi panen kedua,” ujarnya.

    Menurut Djupari, ada dua jenis padi yang akan dipetik akhir bulan Juni dan awal Juli, yaitu padi hibrida yang bisa menghasilkan 8 ton per hektare serta nonhibrida, seperti Ciherang, C-4, dan Bengawan. Diperkirakan ada sekitar 40.000 ton gabah kering untuk panen kedua ini. Ia optimistis produksi beras 2015 dapat memenuhi target 900 ribu ton. Apalagi untuk tahun ini panen bisa berlangsung minimal dua kali, terutama di daerah areal pertanian di sekitar Bengawan Solo. (tempo.co)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on