Usai masuknya Rajawali sebagai pemegang saham mayoritas PT BW Plantation Tbk (BWPT), emiten perkebunan ini pun resmi berganti nama. Kini, nama PT BW Plantation Tbk berubah menjadi PT Eagle High Plantations Tbk.

“Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh perjanjian, cek, giro, dan/atau segala hak dan kewajiban yang melekat dan pernah dibuat saat masih menggunakan BW Plantation tetap berlaku dan mengikat,” sebut Direksi BWPT, dalam pengumuman, Rabu, 4 Februari 2015.

BWPT telah memperoleh akta penyataan keputusan rapat tertanggal 24 Desember 2014. Lalu, BWPT pun meraih persertujuan Menteri Hukum dan HAM dan surat penerimaan pemberitahuan perubahan data perseroan per tanggal 29 Desember 2014.

Sekedar informasi, BWPT menggelar right issue atau Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) 27,02 miliar saham baru atau setara 85,71% modal ditempatkan dan disetor penuhnya. BWPT melabelkan harga Rp 400 per saham untuk aksi right issue tersebut. Publik hanya menyerap 16% dari right issue tersebut. Sehingga, PT Rajawali Capital International sebagai pembeli siaga pun mencaplok 74% saham BWPT.

BWPT meraih dana Rp 10,8 triliun dari right issue itu. Nah, sebesar Rp 10,53 triliun dari hasil right issue BWPT gunakan untuk mengakuisisi 100% saham Green Eagle Holdings Pte. Ltd, perusahaan terafiliasi PT Rajawali Corpora.

Eagle High Plantation Bakal Ekspansi ke Produk Hilir Sawit

Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantation berencana merambah produk hilir minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dalam beberapa waktu ke depan. Perusahaan beralasan, kebijakan pemerintah serta pasar penjualan yang dimiliki pemegang saham mayoritas Felda Global Ventures (FGV) membuat perusahaan berani melakukan ekspansi.

“Memang saat ini kami hanya produksi CPO, namun dengan masuknya FGV, ada berencana ekspansi ke industri hilir. Apalagi ada kebijakan pemerintah yang memberlakukan mandatori B15 yang bisa menyerap hampir 6 juta ton biodiesel,” jelas Darjoto Setyawan, Komisaris Utama Eagle High di Jakarta, Kamis (25/6).

Ia menambahkan, pemegang saham baru bisa membantu Eagle High mengembangkan usaha hilir terlebih perusahaan asal Malaysia tersebut memiliki 113 toko ritel dan memiliki banyak mitra perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) sehingga produk olahan CPO dari Eagle High diharapkan bisa terserap.

“FGV adalah salah satu perusahaan tertua di bidang pengolahan kelapa sawit. Mereka memiliki teknologi dan riset yang baik, sehingga kami berharap bisa memanfaatkannya juga. Selain itu, mereka juga menjalin kerjasama pemasaran dengan level global,” tambah Darjoto.

Ia menambahkan, perusahaan rencananya akan merambah produksi biodiesel, minyak goreng, dan oleochemical. Kendati demikian, Darjato menyatakan bahwa rencana tersebut belum bisa direalisasikan karena belum didiskusikan lebih jauh secara internal.

“Kami akan segera membahas terkait hal tersebut. Bulan depan, akan diadakan strategic planning session di Bali dimana kedua perusahaan akan duduk sama-sama. Kami juga minta bantuan Boston Consulting Group (BCG) untuk memimpin pertemuan tersebut. Nanti kami akan lihat, produk hilir apa yang akan dikembangkan lebih dulu, pendanaan, kapasitas, dan lainnya,” jelasnya.

Investasi US$ 200 Juta

Dengan kegiatan produksi hilir CPO yang tak bisa dilakukan dalam waktu dekat, maka tahun ini perusahaan akan tetap fokus dalam memproduksi CPO yang dipasarkan bagi pasar domestik. Untuk menambah produksi CPO, rencananya perusahaan akan membangun dua unit pabrik baru di Kalimantan Barat dan Papua dengan total nilai US$ 200 juta.

Kedua pabrik tersebut masing-masing memiliki kapasitas sebesar 45 ton per jam dan diharapkan bisa beroperasi pada tahun 2016 mendatang. Kedua pabrik baru tersebut melengkapi kedua pabrik yang dibangun tahun sebelumnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan kapasitas masing-masing sebesar 45 ton per jam dan 60 ton per jam.

Selain fokus di CPO, perusahaan juga berharap tetap bisa menanam 5 ribu hingga 10 ribu ton tanaman per tahun demi meningkatkan produksi buah tandan segar. Kendati demikian, perusahaan tetap akan fokus di pasar domestik mengingat harga CPO di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan harga CPO luar negeri.

“Kami masih lihat pasar domestik sangat menjanjikan karena harganya yang jauh lebih tinggi. Dengan demikian, kami tidak terkena kutipan CPO fund untuk beberapa saat ini. Tapi ke depan jika ekspor terlihat lebih menarik, ada kemungkinan kami akan lakukan hal itu karena diprediksi produksi CPO kami bertambah dua kali lipat menjadi 800 ribu ton dalam lima tahun mendatang,” ujar Sekretaris Perusahaan Eagle High Rudy Suhendra di tempat yang sama.

Sebagai informasi, Eagle High saat ini memiliki total lahan sebesar 425 ribu hektare, dengan 67 persen berlokasi di Kalimantan, 9 persen di Papua, 19 persen di Sulawesi dan 5 persen di Sumatera. Terdapat perkebunan seluas 152 ribu hektare dengan 76 persen wilayah yang sudah menghasilkan dan 24 persen belum menghasilkan. Sedangkan umur rata-rata tanaman yang sudah menghasilkan adalah 8 tahun. (Dari berbagai sumber)

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Usai masuknya Rajawali sebagai pemegang saham mayoritas PT BW Plantation Tbk (BWPT), emiten perkebunan ini pun resmi berganti nama. Kini, nama PT BW Plantation Tbk berubah menjadi PT Eagle High Plantations Tbk.

    “Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh perjanjian, cek, giro, dan/atau segala hak dan kewajiban yang melekat dan pernah dibuat saat masih menggunakan BW Plantation tetap berlaku dan mengikat,” sebut Direksi BWPT, dalam pengumuman, Rabu, 4 Februari 2015.

    BWPT telah memperoleh akta penyataan keputusan rapat tertanggal 24 Desember 2014. Lalu, BWPT pun meraih persertujuan Menteri Hukum dan HAM dan surat penerimaan pemberitahuan perubahan data perseroan per tanggal 29 Desember 2014.

    Sekedar informasi, BWPT menggelar right issue atau Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) 27,02 miliar saham baru atau setara 85,71% modal ditempatkan dan disetor penuhnya. BWPT melabelkan harga Rp 400 per saham untuk aksi right issue tersebut. Publik hanya menyerap 16% dari right issue tersebut. Sehingga, PT Rajawali Capital International sebagai pembeli siaga pun mencaplok 74% saham BWPT.

    BWPT meraih dana Rp 10,8 triliun dari right issue itu. Nah, sebesar Rp 10,53 triliun dari hasil right issue BWPT gunakan untuk mengakuisisi 100% saham Green Eagle Holdings Pte. Ltd, perusahaan terafiliasi PT Rajawali Corpora.

    Eagle High Plantation Bakal Ekspansi ke Produk Hilir Sawit

    Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantation berencana merambah produk hilir minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dalam beberapa waktu ke depan. Perusahaan beralasan, kebijakan pemerintah serta pasar penjualan yang dimiliki pemegang saham mayoritas Felda Global Ventures (FGV) membuat perusahaan berani melakukan ekspansi.

    “Memang saat ini kami hanya produksi CPO, namun dengan masuknya FGV, ada berencana ekspansi ke industri hilir. Apalagi ada kebijakan pemerintah yang memberlakukan mandatori B15 yang bisa menyerap hampir 6 juta ton biodiesel,” jelas Darjoto Setyawan, Komisaris Utama Eagle High di Jakarta, Kamis (25/6).

    Ia menambahkan, pemegang saham baru bisa membantu Eagle High mengembangkan usaha hilir terlebih perusahaan asal Malaysia tersebut memiliki 113 toko ritel dan memiliki banyak mitra perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) sehingga produk olahan CPO dari Eagle High diharapkan bisa terserap.

    “FGV adalah salah satu perusahaan tertua di bidang pengolahan kelapa sawit. Mereka memiliki teknologi dan riset yang baik, sehingga kami berharap bisa memanfaatkannya juga. Selain itu, mereka juga menjalin kerjasama pemasaran dengan level global,” tambah Darjoto.

    Ia menambahkan, perusahaan rencananya akan merambah produksi biodiesel, minyak goreng, dan oleochemical. Kendati demikian, Darjato menyatakan bahwa rencana tersebut belum bisa direalisasikan karena belum didiskusikan lebih jauh secara internal.

    “Kami akan segera membahas terkait hal tersebut. Bulan depan, akan diadakan strategic planning session di Bali dimana kedua perusahaan akan duduk sama-sama. Kami juga minta bantuan Boston Consulting Group (BCG) untuk memimpin pertemuan tersebut. Nanti kami akan lihat, produk hilir apa yang akan dikembangkan lebih dulu, pendanaan, kapasitas, dan lainnya,” jelasnya.

    Investasi US$ 200 Juta

    Dengan kegiatan produksi hilir CPO yang tak bisa dilakukan dalam waktu dekat, maka tahun ini perusahaan akan tetap fokus dalam memproduksi CPO yang dipasarkan bagi pasar domestik. Untuk menambah produksi CPO, rencananya perusahaan akan membangun dua unit pabrik baru di Kalimantan Barat dan Papua dengan total nilai US$ 200 juta.

    Kedua pabrik tersebut masing-masing memiliki kapasitas sebesar 45 ton per jam dan diharapkan bisa beroperasi pada tahun 2016 mendatang. Kedua pabrik baru tersebut melengkapi kedua pabrik yang dibangun tahun sebelumnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan kapasitas masing-masing sebesar 45 ton per jam dan 60 ton per jam.

    Selain fokus di CPO, perusahaan juga berharap tetap bisa menanam 5 ribu hingga 10 ribu ton tanaman per tahun demi meningkatkan produksi buah tandan segar. Kendati demikian, perusahaan tetap akan fokus di pasar domestik mengingat harga CPO di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan harga CPO luar negeri.

    “Kami masih lihat pasar domestik sangat menjanjikan karena harganya yang jauh lebih tinggi. Dengan demikian, kami tidak terkena kutipan CPO fund untuk beberapa saat ini. Tapi ke depan jika ekspor terlihat lebih menarik, ada kemungkinan kami akan lakukan hal itu karena diprediksi produksi CPO kami bertambah dua kali lipat menjadi 800 ribu ton dalam lima tahun mendatang,” ujar Sekretaris Perusahaan Eagle High Rudy Suhendra di tempat yang sama.

    Sebagai informasi, Eagle High saat ini memiliki total lahan sebesar 425 ribu hektare, dengan 67 persen berlokasi di Kalimantan, 9 persen di Papua, 19 persen di Sulawesi dan 5 persen di Sumatera. Terdapat perkebunan seluas 152 ribu hektare dengan 76 persen wilayah yang sudah menghasilkan dan 24 persen belum menghasilkan. Sedangkan umur rata-rata tanaman yang sudah menghasilkan adalah 8 tahun. (Dari berbagai sumber)

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on