Resah dan gelisah, itulah derita masa kini dihadapi warga adat Yerisiam Goa paska hadirnya industri sawit dan penebangan kayu. Berasal dari satu moyang dan punya tujuh ikon leluhur, suku ini berkembang dengan cara mereka. Jejak bekas mereka temukan pada tempat keramat yang menjadi cerita pendahulu sampai sekarang. Sebut saja lapangan sima, kampung lama hamuku dan kini kampung Sima sebagai tempat menetap suku ini.

Orang Yerisiam tidak akan pernah berubah menjadi suku lain, tapi tetap Yerisiam. Disanalah surga dan madu bagi komunitas ini. Adatnya, budayanya, kekerabatanya, cara meramu dan mencari makan. Peradaban Yerisiam memang unik. Sebagian dari suku besar ini telah menyebar dari utara Papua ke selatan. Turun termurun dalam sub suku yang dikenal Suku Waoha, Sarakwari, Koroba dan Akaba.

Lapangan Sima, salah satu tempat keramat bagi suku tersebut dikisahkan pada waktu itu, para moyang mendirikan rumah seluas lapangan. Lapangan berbentuk pesawat alien (ufo) itu sebagai gambaran rumah. Bagian dapur dibagian utara dengan tungku masak yang arangnya masih membekas hingga kini. Rumah tersebut terbakar seketika anak dari seorang ibu mereka dibunuh. Disitulah penyebaran terjadi. Orang Yerisiam juga pada jaman perang hongi ikut terlibat dengan tujuan mempertahankan tanah leluhur mereka.

Ikatan emosional orang Yerisiam masa kini masih kental. Walau sudah terurai garis keturunan sejak moyang dan leluhur, namun cara mengenal antar mereka mudah. Orang Yerisiam mudah diindetifikasi dari hubungan darah. Garis ibu atau ayah, itulah orang Yerisiam. Cara tersebut menjadi budaya kekerabatan hingga sekarang. Sampai pada pembagian hak pun dilihat dari pertalian darah. Satu dapat makan untuk semua orang, itu prinsip komunal yang masih terpelihara hingga sekarang. Pada saat ini, masing-masing sub suku diberi kewenangan untuk menjaga wilayah tertentu, bukan hak milik suku tersebut tetapi tugasnya hanya jaga. Sebab pemiliknya semuanya orang Yerisiam.

Tempat Keramat (RUIJA) Lapangan SIMA IMG_20150506_172108

Tempat Keramat (RUIJA) Lapangan SIMA IMG_20150506_172108

Pasca Investasi

Awalnya, PT. Jati Dharma Indah (PT.JDI) Perusahaan kayu loging beroperasi disini dan menguasai 50 ribu hektar. Pemerintah dan perusahaan bentuk koperasi dengan tujuan berkomunikasi sebagai pihak masyarakat yang dipercayai. Disinilah hubungan masyarakat komunal mulai tercerai berai. Sejarah investasi selanjutnya simak: Riwayat Konsensi Perusahaan di Wilayah Adat Yerisiam Tanah Papua.

Nabire Baru yang kini bersama PT. Sariwana Adi Perkasa, mengembangkan usaha sawit bentrok lahan dengan PT.JDI, mengakuisisi 14 ribu hektar lahan. Lahan ini sebenarnya dibicarakan dengan masyarakat untuk usaha kayu, namun oleh pemodal dialihkan fungsikan ke sawit. Perusahaan mengambil peran dari para pemimpin koperasi sebagai orang kepercayaan mereka.

Curiga pun muncul di tengah komunitas Yerisiam. Ketika melihat hutan rata, sawit sudah tumbuh, timbul pertanyaan siapa yang suruh mereka? Siapa yang kasi ijin? Tanya punya tanya kemudian jadilah saling cemburu antar saudara sendiri. Pemodal hanya percaya kepada kepengurusan koperasi, seolah-olah memisahkan segelintir orang dari kekerabatan besar yang sudah terbangun selama berabad-abd.

Jadi, konflik muncul karena hubungan komunal orang Yerisiam mulai renggang pasca masuknya investasi dimana kapitalisme mengedepankan invidu sementara masyarakat adat kedepankan kebersamaan. Watak tersebut memang sering dijumpai di belahan komunitas adat manapun ketika menghadapi corak individu yang datang.

Pemeliharaan Konflik

Orang Yerisiam selama menerima perubahan luar, sebelum adanya perusahaan, membangun hubungan yang dinamis antar sesama. Misal, ketika pemerintah ingin mengambil tanah ulayat suku ini untuk transmigrasi yang kini dikenal SP Wami, masyakat hanya minta dikasi bahan bagunan untuk bangun gereja. Namun, proses pada transmigrasi berbeda ketika hadir perusahaan.

Semakin menjauhkan diri dari hubungan perusahaan dengan suku besar Yerisiam dengan hadirnya Brimob POLDA Papua selaku PAM Swakarsa. Di daerah lain, PAM Swakarsa dikenal hanya berisi penduduk sipil yang dibebankan jaga perusahaan, tetapi di Tanah yerisiam maupun sebagaina tempat di Tanah Papua, PAM Swakarsa itu aparat negara (TNI/POLRI). Kehadiran aparat disini semakin menutup upaya duduk bicara yang dilakukan oleh masyarakat adat dengan pemilik perusahaan dalam upaya menuntut hak.

Ketika masyarakat yang kelola kayu mereka, didatangi brimob intimdasi bahwa ini hutan sudah milik PT.Nabire Baru jadi kamorang jangan ambil kayu disini. Bahkan, sebelum brimob, satpol PP pernah diterjunkan untuk menjaga perusahaan. Perusahaan dengan payung PMA sehingga harus dijaga keamanan.

Brimob setempat kerap menagih pajak kepada truk pemuat kayu dengan denda 500 ribu, padahal pos Dinas Kehutanan untuk hasil kayu sudah ada di tempat strategis lalu lintas pemuatan kayu. Bahkan masyarakat adat pemilik tanah pun disuruh bayar kepada perusahan.

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Resah dan gelisah, itulah derita masa kini dihadapi warga adat Yerisiam Goa paska hadirnya industri sawit dan penebangan kayu. Berasal dari satu moyang dan punya tujuh ikon leluhur, suku ini berkembang dengan cara mereka. Jejak bekas mereka temukan pada tempat keramat yang menjadi cerita pendahulu sampai sekarang. Sebut saja lapangan sima, kampung lama hamuku dan kini kampung Sima sebagai tempat menetap suku ini.

    Orang Yerisiam tidak akan pernah berubah menjadi suku lain, tapi tetap Yerisiam. Disanalah surga dan madu bagi komunitas ini. Adatnya, budayanya, kekerabatanya, cara meramu dan mencari makan. Peradaban Yerisiam memang unik. Sebagian dari suku besar ini telah menyebar dari utara Papua ke selatan. Turun termurun dalam sub suku yang dikenal Suku Waoha, Sarakwari, Koroba dan Akaba.

    Lapangan Sima, salah satu tempat keramat bagi suku tersebut dikisahkan pada waktu itu, para moyang mendirikan rumah seluas lapangan. Lapangan berbentuk pesawat alien (ufo) itu sebagai gambaran rumah. Bagian dapur dibagian utara dengan tungku masak yang arangnya masih membekas hingga kini. Rumah tersebut terbakar seketika anak dari seorang ibu mereka dibunuh. Disitulah penyebaran terjadi. Orang Yerisiam juga pada jaman perang hongi ikut terlibat dengan tujuan mempertahankan tanah leluhur mereka.

    Ikatan emosional orang Yerisiam masa kini masih kental. Walau sudah terurai garis keturunan sejak moyang dan leluhur, namun cara mengenal antar mereka mudah. Orang Yerisiam mudah diindetifikasi dari hubungan darah. Garis ibu atau ayah, itulah orang Yerisiam. Cara tersebut menjadi budaya kekerabatan hingga sekarang. Sampai pada pembagian hak pun dilihat dari pertalian darah. Satu dapat makan untuk semua orang, itu prinsip komunal yang masih terpelihara hingga sekarang. Pada saat ini, masing-masing sub suku diberi kewenangan untuk menjaga wilayah tertentu, bukan hak milik suku tersebut tetapi tugasnya hanya jaga. Sebab pemiliknya semuanya orang Yerisiam.

    Tempat Keramat (RUIJA) Lapangan SIMA IMG_20150506_172108

    Tempat Keramat (RUIJA) Lapangan SIMA IMG_20150506_172108

    Pasca Investasi

    Awalnya, PT. Jati Dharma Indah (PT.JDI) Perusahaan kayu loging beroperasi disini dan menguasai 50 ribu hektar. Pemerintah dan perusahaan bentuk koperasi dengan tujuan berkomunikasi sebagai pihak masyarakat yang dipercayai. Disinilah hubungan masyarakat komunal mulai tercerai berai. Sejarah investasi selanjutnya simak: Riwayat Konsensi Perusahaan di Wilayah Adat Yerisiam Tanah Papua.

    Nabire Baru yang kini bersama PT. Sariwana Adi Perkasa, mengembangkan usaha sawit bentrok lahan dengan PT.JDI, mengakuisisi 14 ribu hektar lahan. Lahan ini sebenarnya dibicarakan dengan masyarakat untuk usaha kayu, namun oleh pemodal dialihkan fungsikan ke sawit. Perusahaan mengambil peran dari para pemimpin koperasi sebagai orang kepercayaan mereka.

    Curiga pun muncul di tengah komunitas Yerisiam. Ketika melihat hutan rata, sawit sudah tumbuh, timbul pertanyaan siapa yang suruh mereka? Siapa yang kasi ijin? Tanya punya tanya kemudian jadilah saling cemburu antar saudara sendiri. Pemodal hanya percaya kepada kepengurusan koperasi, seolah-olah memisahkan segelintir orang dari kekerabatan besar yang sudah terbangun selama berabad-abd.

    Jadi, konflik muncul karena hubungan komunal orang Yerisiam mulai renggang pasca masuknya investasi dimana kapitalisme mengedepankan invidu sementara masyarakat adat kedepankan kebersamaan. Watak tersebut memang sering dijumpai di belahan komunitas adat manapun ketika menghadapi corak individu yang datang.

    Pemeliharaan Konflik

    Orang Yerisiam selama menerima perubahan luar, sebelum adanya perusahaan, membangun hubungan yang dinamis antar sesama. Misal, ketika pemerintah ingin mengambil tanah ulayat suku ini untuk transmigrasi yang kini dikenal SP Wami, masyakat hanya minta dikasi bahan bagunan untuk bangun gereja. Namun, proses pada transmigrasi berbeda ketika hadir perusahaan.

    Semakin menjauhkan diri dari hubungan perusahaan dengan suku besar Yerisiam dengan hadirnya Brimob POLDA Papua selaku PAM Swakarsa. Di daerah lain, PAM Swakarsa dikenal hanya berisi penduduk sipil yang dibebankan jaga perusahaan, tetapi di Tanah yerisiam maupun sebagaina tempat di Tanah Papua, PAM Swakarsa itu aparat negara (TNI/POLRI). Kehadiran aparat disini semakin menutup upaya duduk bicara yang dilakukan oleh masyarakat adat dengan pemilik perusahaan dalam upaya menuntut hak.

    Ketika masyarakat yang kelola kayu mereka, didatangi brimob intimdasi bahwa ini hutan sudah milik PT.Nabire Baru jadi kamorang jangan ambil kayu disini. Bahkan, sebelum brimob, satpol PP pernah diterjunkan untuk menjaga perusahaan. Perusahaan dengan payung PMA sehingga harus dijaga keamanan.

    Brimob setempat kerap menagih pajak kepada truk pemuat kayu dengan denda 500 ribu, padahal pos Dinas Kehutanan untuk hasil kayu sudah ada di tempat strategis lalu lintas pemuatan kayu. Bahkan masyarakat adat pemilik tanah pun disuruh bayar kepada perusahan.

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on