“Papua Itu Kita” Berjuang Bersama

0
403

Paradigma tentang Tanah Papua telah diluncurkan oleh kalangan pemerhati masalah di Jakarta. Selama ini orang luar memandang negri di ufuk timur Indonesia sebagai tanah kaya, negri yang dieksploitasi, kekerasan, separatis dan berbagai kasus-kasus negatif lebih dominan. Padahal, mengenal Papua begitu dekat, tidaklah demikian anggapan itu.

Dari Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat, 13 Juni 2015, jam 13.00-malam waktu Indonesia barat, generasi pembebasan rakyat tertindas melakukan rangkaian acara budaya; berbicara ala Papua, masakan Papua, pentas tari dan nyanyi lagu-lagu khas. Gerakan ini didukung dari berbagai kalangan, dari pemuda pemudi Papua baik di Jakarta, Papua maupun Australia serta seniman, aktris, sanggar budaya dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Papua itu kita. Persoalan Papua itu masalah kita semua. Apa yang terjadi saat ini di Tanah Papua, itulah Indonesia. Itulah nasib yang dihadapai rakyat Papua saat ini sama dengan nasib rakyat sipil di seantero dunia.

Mengapa “Papua Itu Kita” di Luncurkan?

Gliran Melanie Subono cerita. Melani punya kesan tersendiri terhadap tanah Papua. Artis sekaligus aktivis lingkungan ini menilai Papua sebagai pulau terindah dan terkaya di Indonesia. Orang Papua juga dimata Melanie Subono adalah orang-orang hebat, ramah dan menarik. Kesan itu didapati Melanie ketika berkunjung ke wilayah paling timur Indonesia tersebut.

Pertama Papua itu daerah yang tercantik di Indonesia, orang-orang papua orang-orang terhebat dan terkaya di Indonesia sebenarnya” ujar Melanie Subono melalui testimoni dalam acara “Papua Itu Kita”, TIM Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/06). Selain itu, Melanie Subono, sebagimana dilansir media, juga mengingatkan agar pemerintah lebih memperhatikan Papua, terutama pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan pendidikan masyarakat Papua.

Melani bilang, pemerintah kita cuma melihat Papua sebelah mata, ketika melihat ada daerah kaya yang kepikir uang masuk, padahal yang harus mereka pikirkan adalah memajukan pendidikan masyarakat setempat, kritik Melanie Subono. Sementara Zely, seorang inisatior kegiatan tersebut, mengatakan Papua sejauh ini jamak dikenal sebagai daerah konflik, Organisas Papua Merdeka (OPM), keterbelakangan, otonomi khusus dan lain sebagainya. Itu ditambah stereotip dan stigma yang sering ditujukan kepada masyarakat asli Papua.

Zely bilang, pengetahuan ini luas pengaruhi kita (ko, saya, kamorang, mereka) yang tak pernah berinteraksi langsung dengan orang Papua, atau mengetahui sejarahnya. Ditengah terbatas dan terdistorsinya informasi terkait Papua, kita saksikan masalah yang ternyata lebih fundamental lagi bahwa pengetahuan publik kita terhadap sejarah negerinya sangat sedikit,” ujar Zely di TIM, dialnsir media Jakarta, Sabtu (13/6/2015).

Sayangnya, lanjut dia, stigma dan distorsi informasi ini dipelihara oleh pemberitaan media dan pendekatan keamanan pemerintah terhadap Papua selama ini. Papua Itu Kita adalah gerakan yang hendak meningkatkan kesadaran publik Indonesia tentang berbagai persoalan sosial budaya dan politik ekonomi di Papua, dan bergerak bersama dalam semangat kepedulian dan solidaritas untuk mengubah pendekatan negara terhadap Papua,” beber Zely.

Peluncuran “Papua Itu Kita” di Jakarta semakin tajam dengan hadirnya Jhon Tobing. Pencipta lagu Darah Juang ini kemudian menyanyikan lagu ciptaan dia khusus untuk Papua. Makin bergetar, menggetarkan siapa saja yang hadir disini, memori pasionis orang Papua dibuka, dibingkai dalam bentuk nyanyi, seni tari dan pernyataan dari berbagai pemerhati yang datang ke panggung itu.

Investasi disertai Perampasan Hak

Nasib Papua pasca intergasi kedalam NKRI semenjak tahun 1969 mengemuka sampai sekarang. Hutan makin rata, air makin kotor, orang Papua makin sakit-sakitan, sementara dominasi budaya luar begitu meningkat berbarengan dengan peningkatan investasi dan praktik kekerasan militer negara, bikin negri ini dipandang dari berbagai sudut pemahaman yang berbeda bagi siapa saja memandangnya. Papua itu kita, masalah Papua bukan hanya orang Papua saja yang berjuang, tapi kita semua. Masalah apa saja di Papua adalah masalah Indonesia.

Arena ini dekmas dalam bentuk panggung cerita. Dari cerita lelucon (mob), pelanggaran HAM, pementasan music tradisional dan seni tari. Hadir sebagai keynote speace, Direktur Yayasan PUSAKA, Y.L Franky mengemukakan sejumlah permasalahan investasi berupa perkebunan sawit. Angki menjelaskan seputar diterbitkan Atlas Sawit Papua “Dibawah Kendali Pemodal”. Pemerintah cenderung mendatangkan investasi sebagai alat untuk meningkatkan kejeahteraan bagi rakyat Papua agar penduduk setempat sama taraf hidupnya dengan sebagian saudara mereka di wilayah lainya. Nyatanya, kepentingan investasi justru merusak hutan, tanah dan meminggirkan penduduk asli Papua, kata Angki. Mega Proyek yang dikenal MIFEE nyatanya datang merampas Tanah dan menggusur masyarakat disini. Begitu juga kekuatan militer dipakai untuk menopang investasi malah menimbulkan kekerasan yang berujung pada pelanggaran HAM.

Ditegaskan pula oleh korban investasi sawit dari Wasior dan Sorong. Menurut para korban, investasi yang hadir diatas tanah mereka justru bikin mereka susah dan menderita. Kami dulu berburu, meramu karena hutan dan dusun kami masih ada, sekarang sudah tidak ada lagi, kata Ompai, dari Wasior. Begitu nasib yang diderita orang Papua lain yang kedatangan investor sawit. Rata-rata penduduk Papua itu hidupnya meramu dan berkebun, sehingga Hutan sebagai ruang hidup mereka.

Sementara itu, Iwan-Sekjend Konsorsium Pembaruan Agraria bilang, kehadiran investasi di Merauke dan Timika telah menyengsarakan masyarakat adat yang menetap dan mengelola tanah sejak turun temurun disini. Di Papua trada tanah kosong, pemerintah harus bangun Papua dari paradigma orang Papua itu Sendiri, bukan mengadopsi konsep pembangunan dari luar, kata Iwan.

Matrhen Goo, aktivis Papua Itu Kita bercerita tentang upaya penegakan HAM terkait tragedi Enarotali Paniai Desember 2014 silam. Matrhen menyangkan pernyataan menkopolhukam era Jokowi ini punya pernyataan bahwa kasus penembakan sudah diselesaikan melalui cara budaya. Menurut Goo, apa yang disampaikan oleh menkopolhukam RI sangat tidak masuk akal. Seban di Paniai trada (tidak) ada seremoni adat. Justru masyarakat korban penembakan terus menagih pemerintah agar menghormati proses yang sedang dilakukan oleh KOMNASHAM.

Pdt. Benny Giyai bercerita lagi. Tokoh intelektual dan spiritual orang Papua berbagi cerita bagaimana pandangan Indonesia ke Papua lebih mengutamakan para pendatang. Pemerintah justru mementingkan orang diluar Papua yang ada di negri kami, sementara orang asli disini sama sekali tidak dipikirkan negara, kisahnya.

Pdt. Benny juga bilang, berbagai operasi sadar yang dilakukan negara Indonesia ke Papua hanya sebatas mengindoktrinasi orang Papua agar takluk menghadapi kolonialisme yang parah saat ini. Niat baik pemerintah untuk selesaikan masalah Papua dengan hati, menurut Giyai itu tidak sejalan dengan praktik di lapangan. Selama ini, lanjutnya, pendekatan militerisme di garis depan sebagai solusi, yang sebenarnya bertentangan dengan pandangan presiden Indonesia sendiri.

Terkait: Galeri Peluncuran Papua Itu Kita

(Arkilaus Baho)