Amat S. Kom menjelaskan, dalam perekonomian Indonesia, kelapasawit mempunyai peran yang cukup strategis, karena pertama, minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontiniu ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Kedua, sawit adalah sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor nonmigas.

“Komoditas ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak. Ketiga, dalam proses produksi maupun pengolahan, industri sawit juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Amat S.Kom.

Tapi Surya Candra mengingatkan, penyerapan air yang cukup besar oleh lahan perkebunan sawit menimbulkan dampak sulitnya air diserap pada pohon atau hutan di sekitarnya. Juga penggunaan pestisida dan pupuk yang kesemuanya dari bahan kimia dalam skala besar akan menimbulkan dampak pada udara, tingkat unsur hara tanah, lingkungan pohon atau hutan. Juga berdampak pada masyarakat di sekitarnya. Dampaknya tidak sekarang, nanti 10 atau 20 tahun ke depan. Jadi, kalau ada yang tidak pernah melihat hasil riset lembaga Independen yang tidak bisa disuap, jangan memberi komentar tidak berdampak buruk. “Dari sisi ekonomis, sawit adalah investasi yang cukup menggiurkan,” kata Surya Candra.

Nurlaila Tarigan sebagai orang awam terhadap perkembangan sawit d Indonesia, tetapi sering melihat dampak sosialnya terhadap masyarakat. Adanya konflik kepemilikan lahan, seringkali petani kecil yang dikalahkan. Juga mengenai pembebasan lahan, yang tadinya adalah hutan dari leluhur yang selama ini menjadi tempat mencari bahan pangan.

Kini berubah menjadi kebun sawit yang tidak bisa dimakan langsung. Di mana matapencaharian dan bahan pangan yang selama ini ada di hutan, sudah tidak bisa didapat lagi di kebun sawit. Juga mengenai pupuk dan pestisida yang menggunakan bahan kimia, tentu tidak sehat. “Dampaknya pasti ada dan tidak entah kapan bisa kita rasakan akibatnya,” Nurlaila Tarigan.

Kata Kawar Rekawan Saka Brahmana, jika memang merasa benar dan tidak bersalah, jangan hanya bisa beropini menampik tuduhan yang ditujukan. Buktikan dengan menunjukkan apa yang terjadi sebenarnya maka akan lebih terlihat jelas siapakah sebenarnya yang bersalah dalam hal ini. Bak kata pepatah, maling tak akan pernah mengaku maling meski sudah merugikan pihak lain.

“Namun maling teriak maling itu banyak ! Pada masa kini orang tak akan sembarang memfitnah karena ada hukum tertentu yang berlaku. Karena itu, jika memang merasa salah akui saja. Namun bila merasa difitnah, ya tinggal dilaporkan saja dengan tuduhan pencemaran nama baik,” ucap Kawar Rekawan Saka Brahmana.

Menurut Jeri, memang kalau dipikir-pikir ada benarnya. Kalau buka lahan sawit, otomatis pasti pohon-pohon atau hutan ditebang. Dan ini yang sangat berpengaruh terhadap kondisi iklim ke depannya. Pembukaan lahan sawit juga harus dibarengi dengan penanaman kembali bibit tumbuhan hutan nantinya, sehingga terjadi keseimbangan ekosistem.

Kalau tidak seimbang, di mana lebih besar pembukaan lahan sawit daripada penanaman bibit pohon hutan kembali, tidak tertutup kemungkinan kehidupan ekosistem akan terganggu. Ini adalah tugas perusahaan industri sawit juga. “Jangan hanya cari untungnya saja, tapi harus perhatian juga terhadap kondisi lingkungan,” pinta Jeri.

Kalau secara umum, Rini R Sari melihat sebabnya tadi tentu tidak hanya sawit yang dianggap merusak lahan ya. Kalau masalah hutan yang gundul, jangankan untuk dibuka kebun sawit, illegal logging pun mengakibatkan hutan gundul. Masih mending kalau mau ditanami sawit lagi, masih ada pohonnya. Faktanya sawit sangat menguntungkan dari sisi ekonomi.

Hasil olahannya juga banyak dibutuhkan masyarakat. Kalau masalah pencemaran dan merusak lingkungan diyakini semua industri pasti menimbulkan polusi. Semua industri pasti punya limbah. Jadi akar masalahnya itu tinggal bagaimana menanggulangi limbah dan polusi agar tidak mencemari lingkungan. Jangan hanya tahu mengeruk untungnya saja tapi enggak mau memikirkan limbahnya.

Oloan Ad Nurul Lubis yakin itu hanya unsur politik saja, karena Indonesia pemasok CPO (Crude Palm Oil) terbesar, sehingga negara yang mengatakan seperti itu takut kalah bersaing. Yang kita ketahui sawit ramah lingkungan dan menghijaukan. Kalau memang dikatakan dari penggundulan hutan, itukan hanya pergantian tanaman. Jadi istilah penggundulan hutan tidak ada.

Kalau dikatakan membunuh orangutan, pasti tidak. Karena orangutan sendiri itu suka memakan buah kelapasawit itu. Apakah tidak dibilang sumber makanan bagi orangutan. Dikatakan perampasan lahan masyarakat, itu juga tidak benar. Kalau memang dikatakan perampasan lahan, mari kembali lagi pada sejarah kepemilikan tanah, apakah itu tanah rakyat.

“Banyak sekarang rakyat itu menggarap tanah perkebunan sehingga isunya seperti ini. Intinya itu semua unsur politik perindustrian,” tegas Oloan Ad Nurul Lubis.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/07/09/174575/benar-atau-salah-sawit-merusak-lingkungan/#.VZ85i55SlvY

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Amat S. Kom menjelaskan, dalam perekonomian Indonesia, kelapasawit mempunyai peran yang cukup strategis, karena pertama, minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontiniu ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Kedua, sawit adalah sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor nonmigas.

    “Komoditas ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak. Ketiga, dalam proses produksi maupun pengolahan, industri sawit juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Amat S.Kom.

    Tapi Surya Candra mengingatkan, penyerapan air yang cukup besar oleh lahan perkebunan sawit menimbulkan dampak sulitnya air diserap pada pohon atau hutan di sekitarnya. Juga penggunaan pestisida dan pupuk yang kesemuanya dari bahan kimia dalam skala besar akan menimbulkan dampak pada udara, tingkat unsur hara tanah, lingkungan pohon atau hutan. Juga berdampak pada masyarakat di sekitarnya. Dampaknya tidak sekarang, nanti 10 atau 20 tahun ke depan. Jadi, kalau ada yang tidak pernah melihat hasil riset lembaga Independen yang tidak bisa disuap, jangan memberi komentar tidak berdampak buruk. “Dari sisi ekonomis, sawit adalah investasi yang cukup menggiurkan,” kata Surya Candra.

    Nurlaila Tarigan sebagai orang awam terhadap perkembangan sawit d Indonesia, tetapi sering melihat dampak sosialnya terhadap masyarakat. Adanya konflik kepemilikan lahan, seringkali petani kecil yang dikalahkan. Juga mengenai pembebasan lahan, yang tadinya adalah hutan dari leluhur yang selama ini menjadi tempat mencari bahan pangan.

    Kini berubah menjadi kebun sawit yang tidak bisa dimakan langsung. Di mana matapencaharian dan bahan pangan yang selama ini ada di hutan, sudah tidak bisa didapat lagi di kebun sawit. Juga mengenai pupuk dan pestisida yang menggunakan bahan kimia, tentu tidak sehat. “Dampaknya pasti ada dan tidak entah kapan bisa kita rasakan akibatnya,” Nurlaila Tarigan.

    Kata Kawar Rekawan Saka Brahmana, jika memang merasa benar dan tidak bersalah, jangan hanya bisa beropini menampik tuduhan yang ditujukan. Buktikan dengan menunjukkan apa yang terjadi sebenarnya maka akan lebih terlihat jelas siapakah sebenarnya yang bersalah dalam hal ini. Bak kata pepatah, maling tak akan pernah mengaku maling meski sudah merugikan pihak lain.

    “Namun maling teriak maling itu banyak ! Pada masa kini orang tak akan sembarang memfitnah karena ada hukum tertentu yang berlaku. Karena itu, jika memang merasa salah akui saja. Namun bila merasa difitnah, ya tinggal dilaporkan saja dengan tuduhan pencemaran nama baik,” ucap Kawar Rekawan Saka Brahmana.

    Menurut Jeri, memang kalau dipikir-pikir ada benarnya. Kalau buka lahan sawit, otomatis pasti pohon-pohon atau hutan ditebang. Dan ini yang sangat berpengaruh terhadap kondisi iklim ke depannya. Pembukaan lahan sawit juga harus dibarengi dengan penanaman kembali bibit tumbuhan hutan nantinya, sehingga terjadi keseimbangan ekosistem.

    Kalau tidak seimbang, di mana lebih besar pembukaan lahan sawit daripada penanaman bibit pohon hutan kembali, tidak tertutup kemungkinan kehidupan ekosistem akan terganggu. Ini adalah tugas perusahaan industri sawit juga. “Jangan hanya cari untungnya saja, tapi harus perhatian juga terhadap kondisi lingkungan,” pinta Jeri.

    Kalau secara umum, Rini R Sari melihat sebabnya tadi tentu tidak hanya sawit yang dianggap merusak lahan ya. Kalau masalah hutan yang gundul, jangankan untuk dibuka kebun sawit, illegal logging pun mengakibatkan hutan gundul. Masih mending kalau mau ditanami sawit lagi, masih ada pohonnya. Faktanya sawit sangat menguntungkan dari sisi ekonomi.

    Hasil olahannya juga banyak dibutuhkan masyarakat. Kalau masalah pencemaran dan merusak lingkungan diyakini semua industri pasti menimbulkan polusi. Semua industri pasti punya limbah. Jadi akar masalahnya itu tinggal bagaimana menanggulangi limbah dan polusi agar tidak mencemari lingkungan. Jangan hanya tahu mengeruk untungnya saja tapi enggak mau memikirkan limbahnya.

    Oloan Ad Nurul Lubis yakin itu hanya unsur politik saja, karena Indonesia pemasok CPO (Crude Palm Oil) terbesar, sehingga negara yang mengatakan seperti itu takut kalah bersaing. Yang kita ketahui sawit ramah lingkungan dan menghijaukan. Kalau memang dikatakan dari penggundulan hutan, itukan hanya pergantian tanaman. Jadi istilah penggundulan hutan tidak ada.

    Kalau dikatakan membunuh orangutan, pasti tidak. Karena orangutan sendiri itu suka memakan buah kelapasawit itu. Apakah tidak dibilang sumber makanan bagi orangutan. Dikatakan perampasan lahan masyarakat, itu juga tidak benar. Kalau memang dikatakan perampasan lahan, mari kembali lagi pada sejarah kepemilikan tanah, apakah itu tanah rakyat.

    “Banyak sekarang rakyat itu menggarap tanah perkebunan sehingga isunya seperti ini. Intinya itu semua unsur politik perindustrian,” tegas Oloan Ad Nurul Lubis.

    http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/07/09/174575/benar-atau-salah-sawit-merusak-lingkungan/#.VZ85i55SlvY

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on