Sedikitnya 10 hektare (ha) kawasan hutan, yang menjadi areal konservasi anggrek langka di Pematang Damar, Kecamatan Marsebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi terbakar. Akibatnya, sekitar 80 jenis anggrek alam yang selama ini dilestarikan di kawasan hutan tersebut musnah.

Camat Marisebo, Boy Satria menjelaskan, kebakaran kawasan konservasi anggrek di hutan damar, Desa Pematang Damar menyebabkan sebagian besar areal konservasi bunga anggrek alam itu rusak. Kebakaran hutan di kawasan konservasi anggrek tersebut sempat meluas karena terlambat dipadamkan.

Menurut Boy Satria, kebakaran kawasan konservasi bunga anggrek alam di Desa Pematang Damar sudah dilaporkan kepada Brigade Pemadam Kebakaran Hutan, Manggala Agni Jambi, akhir pekan lalu. Namun, mereka salah informasi mengenai lokasi kebakaran.

“Pasukan Manggala Agni terjun ke kawasan hutan, jauh dari hutan Desa Pematang Damar, sehingga melaporkan tak ada kebakaran. Karena tidak dipadamkan, akhirnya kebakaran hutan konservasi anggrek di Desa Pematang Damar semakin luas. Pemadaman hutan konservasi anggrek tersebut baru dilakukan hari ini,” katanya, di Jambi, Selasa (7/7).

Sementara itu, warga Desa Pematang Damar, Adi Ismanto mengatakan, kebakaran tersebut sudah hampir empat hari. Akibatnya, kawasan hutan yang hangus cukup luas. Kebakaran kawasan hutan konservasi anggrek alam tersebut diduga berasal dari areal pertanian di sekitarnya, yakni Desa Talang Tulo, Mudung dan Bakung, Kecamatan Marosebo, Muarojambi.

“Api cepat menjalar ke kawasan hutan konservasi anggrek tersebut, karena sebagian besar semak belukar di sekitarnya kering. Kekeringan tersebut disebabkan oleh kemarau yang sudah lebih dua bulan di daerah ini,”katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Irmansyah Rahman, mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan Mangala Agni ke lokasi kebakaran.

Siaga Kebakaran

Menurut Irmansyah, Jambi kini memasuki siaga kebakaran lahan dan hutan menyusul terus meningkatnya kebakaran lahan dan hutan di daerah itu. Hal tersebut sulit dihindarkan, karena kemarau masih melanda daerah itu. Kemarau yang sudah hampir dua bulan melanda Jambi menyebabkan terjadinya kekeringan di kawasan hutan.

Meningkatnya kebakaran lahan dan hutan di Jambi, lanjut Irmansyah nampak dari banyaknya jumlah hot spots (titik api) di Jambi beberapa pekan terakhir. Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, jumlah hot spots di Jambi, Minggu (5/7), mencapai 29 titik. Jumlah tersebut meningkat menjadi 73 titik, Selasa (7/7). Hot spots tersebar di Kabupaten Muarojambi, Tebo, Merangin, Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur.

Hot spots paling banyak di Kabupaten Muarojambi, yakni sebanyak 47 titik, sedangkan di Tanjungjabung Timur sebanyak 14 titik, Tanjungjabng Barat 7 titik, Merangin 3 titik, dan Tebo 2 titik. Hot spots tersebut berada di kawasan areal perkebunan, perusahaan kehutanan dan areal penggunaan lain atau semak – belukar.

Menurut Irmansyah, untuk mengendalikan kebakaran lahan dan hutan di daerah itu, Brigade Manggala Agni sudah menerjunkan sekitar 292 orang personel ke lokasi-lokasi rawan kebakaran lahan dan hutan. Pasukan, yang didukung 300 relawan itu disiagakan di Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Sarolangun dan Kota Jambi.

 Suara Pembaruan-Radesman Saragih/FAB

http://www.beritasatu.com/kesra/289105-kebakaran-hutan-di-muarojambi-kawasan-konservasi-anggrek-hangus.html

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sedikitnya 10 hektare (ha) kawasan hutan, yang menjadi areal konservasi anggrek langka di Pematang Damar, Kecamatan Marsebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi terbakar. Akibatnya, sekitar 80 jenis anggrek alam yang selama ini dilestarikan di kawasan hutan tersebut musnah.

    Camat Marisebo, Boy Satria menjelaskan, kebakaran kawasan konservasi anggrek di hutan damar, Desa Pematang Damar menyebabkan sebagian besar areal konservasi bunga anggrek alam itu rusak. Kebakaran hutan di kawasan konservasi anggrek tersebut sempat meluas karena terlambat dipadamkan.

    Menurut Boy Satria, kebakaran kawasan konservasi bunga anggrek alam di Desa Pematang Damar sudah dilaporkan kepada Brigade Pemadam Kebakaran Hutan, Manggala Agni Jambi, akhir pekan lalu. Namun, mereka salah informasi mengenai lokasi kebakaran.

    “Pasukan Manggala Agni terjun ke kawasan hutan, jauh dari hutan Desa Pematang Damar, sehingga melaporkan tak ada kebakaran. Karena tidak dipadamkan, akhirnya kebakaran hutan konservasi anggrek di Desa Pematang Damar semakin luas. Pemadaman hutan konservasi anggrek tersebut baru dilakukan hari ini,” katanya, di Jambi, Selasa (7/7).

    Sementara itu, warga Desa Pematang Damar, Adi Ismanto mengatakan, kebakaran tersebut sudah hampir empat hari. Akibatnya, kawasan hutan yang hangus cukup luas. Kebakaran kawasan hutan konservasi anggrek alam tersebut diduga berasal dari areal pertanian di sekitarnya, yakni Desa Talang Tulo, Mudung dan Bakung, Kecamatan Marosebo, Muarojambi.

    “Api cepat menjalar ke kawasan hutan konservasi anggrek tersebut, karena sebagian besar semak belukar di sekitarnya kering. Kekeringan tersebut disebabkan oleh kemarau yang sudah lebih dua bulan di daerah ini,”katanya.

    Secara terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Irmansyah Rahman, mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan Mangala Agni ke lokasi kebakaran.

    Siaga Kebakaran

    Menurut Irmansyah, Jambi kini memasuki siaga kebakaran lahan dan hutan menyusul terus meningkatnya kebakaran lahan dan hutan di daerah itu. Hal tersebut sulit dihindarkan, karena kemarau masih melanda daerah itu. Kemarau yang sudah hampir dua bulan melanda Jambi menyebabkan terjadinya kekeringan di kawasan hutan.

    Meningkatnya kebakaran lahan dan hutan di Jambi, lanjut Irmansyah nampak dari banyaknya jumlah hot spots (titik api) di Jambi beberapa pekan terakhir. Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, jumlah hot spots di Jambi, Minggu (5/7), mencapai 29 titik. Jumlah tersebut meningkat menjadi 73 titik, Selasa (7/7). Hot spots tersebar di Kabupaten Muarojambi, Tebo, Merangin, Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur.

    Hot spots paling banyak di Kabupaten Muarojambi, yakni sebanyak 47 titik, sedangkan di Tanjungjabung Timur sebanyak 14 titik, Tanjungjabng Barat 7 titik, Merangin 3 titik, dan Tebo 2 titik. Hot spots tersebut berada di kawasan areal perkebunan, perusahaan kehutanan dan areal penggunaan lain atau semak – belukar.

    Menurut Irmansyah, untuk mengendalikan kebakaran lahan dan hutan di daerah itu, Brigade Manggala Agni sudah menerjunkan sekitar 292 orang personel ke lokasi-lokasi rawan kebakaran lahan dan hutan. Pasukan, yang didukung 300 relawan itu disiagakan di Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Sarolangun dan Kota Jambi.

     Suara Pembaruan-Radesman Saragih/FAB

    http://www.beritasatu.com/kesra/289105-kebakaran-hutan-di-muarojambi-kawasan-konservasi-anggrek-hangus.html

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on