Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipiter) Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Yogie (32), di sebuah rumah di Ciherang, Dermaga, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/7/2015) kemarin. Yogie diduga kuat otak penyelundupan hewan liar. Ia juga diduga bagian dari jaringan internasional.

Dari kediaman Yogie, polisi menyita 30 ekor ular phyton hijau asal Papua, satu ekor biawak jenis Doeranus, tiga ekor biawak hijau asal Papua, satu ekor kadal payung dan beberapa ular jenis dilindungi. Hewan-hewan itu akan diselundupkan ke luar negeri. (Baca Juga: http://pusaka.or.id/sebanyak-5-284-kura-kura-moncong-babi-ini-hanya-bisa-hidup-di-papua/)

Berdasarkan penyelidikan, Yogie merupakan bagian dari sindikat penyelundupan hewan dengan jangkauan internasional. Polisi masih mendalami keberadaan kaki tangan Yogie dalam melakukan penyelundupan. Polisi juga masih mendalami pola kerja sindikat tersebut.

IPB Akan Tindak Mahasiswa Penjual Satwa Langka

Institut Pertanian Bogor (IPB) mendukung langkah kepolisian memproses kasus penjualan satwa langka ke Australia yang melibatkan mahasiswa. “Kalau memang benar pelakunya adalah mahasiswa IPB, kami akan proses di Komisi Disiplin,” kata Kepala Kantor Hukum, Promosi, dan Humas IPB Profesor Yatri Kusumastuti, Rabu, 8 Juli 2015.

Menurut Yatri, IPB belum mendapat laporan resmi dari kepolisian terkait dengan penggerebekan di rumah kos RD, mahasiswa IPB, di Desa Ciherang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. IPB, dia melanjutkan, akan menelusuri untuk mendapatkan informasi yang lengkap.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Mabes Polri Brigadir Jenderal Yazid Fanani mengatakan terbongkarnya penjualan satwa liar dan dilindungi via online ini berawal saat kepolisian mendapat laporan dari Australia Federal Police (AFP) dan Interpol.

Kepala Subdirektorat I Dittipiter Bareskrim Polri Kombes Sandi Nugroho saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/7/2015). Yogie dijerat Pasal 21 ayat (2) huruf a juncto Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ia terancam hukuman penjara maksimal lima tahun.

Informasi dari Australia

Polisi setempat mengatakan, penangkapan Yogie berawal dari banyaknya laporan masyarakat soal adanya peredaran hewan dilindungi di kalangan tertentu. Puncaknya, awal 2015 lalu, polisi Australia menangkap penyelundup hewan dilindungi di wilayahnya. Penyelundup menyebut hewan itu didapat dari seorang warga negara Indonesia. (Baca Juga: http://pusaka.or.id/lagi-perdagangan-satwa-papua/)

Pada Senin malam kemarin, petugas Direktorat Tindak Pidana Tertentu Markas Besar Kepolisian RI menyita semua reptil dari rumah kos RD. “Satwa ini memang milik RD yang saat ini sedang mudik ke kampung halamannya di Jawa,” ujar Dwi, saksi mata penggerebekan. Menurut Dwi, YY—yang ditangkap polisi—hanya bertugas mengurus hewan-hewan tersebut.

Polisi masih mendalami keberadaan kaki tangan Yogie dalam melakukan penyelundupan. Polisi juga masih mendalami pola kerja sindikat tersebut. Kami tidak mau berhenti di satu tersangka ini saja. Kami yakin dia punya kaki tangan. Dia ini kan yang menjual hewannya, pasti ada kurir-kurirnya,” kata Sandi.

Disunting dari berbagai sumber

(Arkilaus Baho)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipiter) Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Yogie (32), di sebuah rumah di Ciherang, Dermaga, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/7/2015) kemarin. Yogie diduga kuat otak penyelundupan hewan liar. Ia juga diduga bagian dari jaringan internasional.

    Dari kediaman Yogie, polisi menyita 30 ekor ular phyton hijau asal Papua, satu ekor biawak jenis Doeranus, tiga ekor biawak hijau asal Papua, satu ekor kadal payung dan beberapa ular jenis dilindungi. Hewan-hewan itu akan diselundupkan ke luar negeri. (Baca Juga: http://pusaka.or.id/sebanyak-5-284-kura-kura-moncong-babi-ini-hanya-bisa-hidup-di-papua/)

    Berdasarkan penyelidikan, Yogie merupakan bagian dari sindikat penyelundupan hewan dengan jangkauan internasional. Polisi masih mendalami keberadaan kaki tangan Yogie dalam melakukan penyelundupan. Polisi juga masih mendalami pola kerja sindikat tersebut.

    IPB Akan Tindak Mahasiswa Penjual Satwa Langka

    Institut Pertanian Bogor (IPB) mendukung langkah kepolisian memproses kasus penjualan satwa langka ke Australia yang melibatkan mahasiswa. “Kalau memang benar pelakunya adalah mahasiswa IPB, kami akan proses di Komisi Disiplin,” kata Kepala Kantor Hukum, Promosi, dan Humas IPB Profesor Yatri Kusumastuti, Rabu, 8 Juli 2015.

    Menurut Yatri, IPB belum mendapat laporan resmi dari kepolisian terkait dengan penggerebekan di rumah kos RD, mahasiswa IPB, di Desa Ciherang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. IPB, dia melanjutkan, akan menelusuri untuk mendapatkan informasi yang lengkap.

    Direktur Tindak Pidana Tertentu Mabes Polri Brigadir Jenderal Yazid Fanani mengatakan terbongkarnya penjualan satwa liar dan dilindungi via online ini berawal saat kepolisian mendapat laporan dari Australia Federal Police (AFP) dan Interpol.

    Kepala Subdirektorat I Dittipiter Bareskrim Polri Kombes Sandi Nugroho saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/7/2015). Yogie dijerat Pasal 21 ayat (2) huruf a juncto Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ia terancam hukuman penjara maksimal lima tahun.

    Informasi dari Australia

    Polisi setempat mengatakan, penangkapan Yogie berawal dari banyaknya laporan masyarakat soal adanya peredaran hewan dilindungi di kalangan tertentu. Puncaknya, awal 2015 lalu, polisi Australia menangkap penyelundup hewan dilindungi di wilayahnya. Penyelundup menyebut hewan itu didapat dari seorang warga negara Indonesia. (Baca Juga: http://pusaka.or.id/lagi-perdagangan-satwa-papua/)

    Pada Senin malam kemarin, petugas Direktorat Tindak Pidana Tertentu Markas Besar Kepolisian RI menyita semua reptil dari rumah kos RD. “Satwa ini memang milik RD yang saat ini sedang mudik ke kampung halamannya di Jawa,” ujar Dwi, saksi mata penggerebekan. Menurut Dwi, YY—yang ditangkap polisi—hanya bertugas mengurus hewan-hewan tersebut.

    Polisi masih mendalami keberadaan kaki tangan Yogie dalam melakukan penyelundupan. Polisi juga masih mendalami pola kerja sindikat tersebut. Kami tidak mau berhenti di satu tersangka ini saja. Kami yakin dia punya kaki tangan. Dia ini kan yang menjual hewannya, pasti ada kurir-kurirnya,” kata Sandi.

    Disunting dari berbagai sumber

    (Arkilaus Baho)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on