Dalam penelitian yang dipublikasi di jurnal Nature Climate Change terungkap jika hutan Indonesia terus terkikis, bahkan luasnya setara dengan negara Irlandia. Deforestasi hutan di Indonesia terburuk setelah Brasil.

Data ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh organisasi nirlaba global, Forest Stewardship Council (FSC). Menurut mereka, hutan alam Indonesia terus mengalami penurunan luasan akibat deforestasi sebesar 1,1 juta ha/tahun, atau hutan seukuran 1 lapangan bola habis dalam 1 detik, dan jumlah ini terancam terus meningkat. Deforestasi disebabkan oleh perubahan fungsi hutan untuk peternakan, pertanian komersial, perkebunan, dan infrastruktur atau pemukiman, belum termasuk illegal logging.

“FSC hadir di Indonesia untuk membantu mendorong pengelolaan hutan yang lebih baik, juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pola konsumsi baru yang ramah lingkungan dengan kemasan produk yang ramah hutan. Semua itu bisa terlihat lewat penyematan label FSC pada setiap produk yang ada,” ujar Hartono Prabowo, perwakilan FSC Indonesia di Jakarta, Rabu 8 Juli 2015.

Menurut Hartono, label FSC merupakan simbol yang menyatakan produk tersebut dihasilkan dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab baik secara lingkungan maupun sosial. Artinya, hutan dikelola secara berkelanjutan dengan mengedepankan aspek lingkungan dan sosial, misalnya konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, rehabilitasi hutan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat, masyarakat sekitar hutan, dan juga hak pekerja, namun tetap memperhatikan nilai perusahaan dan akses pasar.

Hartono mengklaim, saat ini FSC telah memiliki 2 juta hektar hutan yang tersertifikasi standar FSC. Targetnya, jumlah ini akan bertambah menjadi dua kali lipat dalam 3 sampai 4 tahun mendatang, atau baru mencapai 2 persen saja dari total luas hutan di Indonesia.

“Tessa Tissue menggunakan produk hutan yang konservasinya terjamin oleh FSC. Selain itu kemasan Susu Ultra, Teh Kotak, pensil Faber-Castell juga menggunakan kayu dari hutan yang kami jamin sertifikasinya. Tetra Pak juga telah lama bermitra dengan kami. Kemasan Tetra Pack berlabel FSC pertama di Inggris pada 2007,” papar Hartono.

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/648385-label-fsc–standar-baru-simbol-produk-ramah-hutan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Dalam penelitian yang dipublikasi di jurnal Nature Climate Change terungkap jika hutan Indonesia terus terkikis, bahkan luasnya setara dengan negara Irlandia. Deforestasi hutan di Indonesia terburuk setelah Brasil.

    Data ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh organisasi nirlaba global, Forest Stewardship Council (FSC). Menurut mereka, hutan alam Indonesia terus mengalami penurunan luasan akibat deforestasi sebesar 1,1 juta ha/tahun, atau hutan seukuran 1 lapangan bola habis dalam 1 detik, dan jumlah ini terancam terus meningkat. Deforestasi disebabkan oleh perubahan fungsi hutan untuk peternakan, pertanian komersial, perkebunan, dan infrastruktur atau pemukiman, belum termasuk illegal logging.

    “FSC hadir di Indonesia untuk membantu mendorong pengelolaan hutan yang lebih baik, juga ingin mengedukasi masyarakat tentang pola konsumsi baru yang ramah lingkungan dengan kemasan produk yang ramah hutan. Semua itu bisa terlihat lewat penyematan label FSC pada setiap produk yang ada,” ujar Hartono Prabowo, perwakilan FSC Indonesia di Jakarta, Rabu 8 Juli 2015.

    Menurut Hartono, label FSC merupakan simbol yang menyatakan produk tersebut dihasilkan dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab baik secara lingkungan maupun sosial. Artinya, hutan dikelola secara berkelanjutan dengan mengedepankan aspek lingkungan dan sosial, misalnya konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi karbon, rehabilitasi hutan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat, masyarakat sekitar hutan, dan juga hak pekerja, namun tetap memperhatikan nilai perusahaan dan akses pasar.

    Hartono mengklaim, saat ini FSC telah memiliki 2 juta hektar hutan yang tersertifikasi standar FSC. Targetnya, jumlah ini akan bertambah menjadi dua kali lipat dalam 3 sampai 4 tahun mendatang, atau baru mencapai 2 persen saja dari total luas hutan di Indonesia.

    “Tessa Tissue menggunakan produk hutan yang konservasinya terjamin oleh FSC. Selain itu kemasan Susu Ultra, Teh Kotak, pensil Faber-Castell juga menggunakan kayu dari hutan yang kami jamin sertifikasinya. Tetra Pak juga telah lama bermitra dengan kami. Kemasan Tetra Pack berlabel FSC pertama di Inggris pada 2007,” papar Hartono.

    http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/648385-label-fsc–standar-baru-simbol-produk-ramah-hutan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on