PANDEGLANG-Jangan ada lagi warga yang diusir dari hutan dan warga jangan masuk dan menetap di hutan. Warga harus menjaga ekosistem hutan karena itu akan menguntungkan penduduk. Akses masyarakat ke kawasan konservasi harus diselesaikan dengan baik dalam pengertian tidak boleh ada orang diusir-usir dari hutan. Pengelolaan lingkungan hidup dan hutan menjadi tanggung jawab semua pihak. Sudah sepatutnya keseimbangan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya diberdayakan secara bijaksana mulai sekarang.

Demikian sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada pembukaan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2015 di Desa Sumur, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten, Sabtu (8/8).   Jambore kemah konservasi ini digelar untuk memperingati HKAN setiap 10 Agustus berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 sebagai upaya untuk mengenalkan konservasi alam kepada masyarakat agar menjadi budaya bangsa.

Siti menerangkan, Kementerian LHK akan memperkenalkan kegiatan konservasi kepada masyarakat. Disebutkan, mulai hari ini, pihaknya telah mencanangkan pekan konservasi nasional yang terus digaungkan sepanjang 2015 dengan berbagai kegiatan. Jambore selama 3 hari sejak 8–10 Agustus ini diikuti lebih dari 300 peserta dari 77 unit pelaksana teknis (UPT) dari seluruh Indonesia, Kader Konservasi Alam, Kelompok Pecinta Alam, Kelompok Profesi yang terdiri dari guru, peneliti, dan lain-lain.

“Melalui Jambore ini untuk lebih mengenalkan pentingnya penyelamatan kawasan konservasi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi alam dan kelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistem,” papar Siti yang mengenakan kemeja putih-putih.

Menteri LHK meminta taman nasional dikelola dengan lebih baik dan profesional sehingga dapat menjadi sumber devisa baru. Menurutnya, hal itu sangat mungkin mengingat potensi 51 taman nasional di Indonesia. Di sisi lain, modal hutan Indonesia seluas 134 juta hektar atau 70 persen dari daratan Indonesia serta kekayaan hayati flora dan fauna di dunia sebanyak 17 persen harus dikelola dengan tepat guna memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, LSM dan pegiat lingkungan serta masyarakat agar implementasi ini dapat segera terwujud. Tema HKAN 2015 yakni Keberlanjutan Konservasi Alam untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan.

“Masalah jalan ke Taman Nasional Ujung Kulom ini, saya akan bicara dengan Kementeriaan PU,” pinta Siti disambut tepuk tangan undangan.

Jambore yang dirangkai dengan Deklarasi Gerakan Nasional Tumbuhan dan Satwa Liar memuat pernyataan rasa syukur rakyat Indonesia atas anugerah kekayaan keanekaragaman hayati dan janji untuk terus melestarikan, mempelajari dan memanfaatkan secara berkelanjutan untuk kejayaan bangsa. Deklarasi berlanjut dengan pelepasliaran 10 burung jalak sebagai simbol mengajak masyarakat berkomitmen menghargai alam dan lingkungannya, pameran kerajinan tangan, pemutaran film konservasi sumber daya alam, dan penanaman bibit pohon di pantai.

“Kita memberi apresiasi kepada masyarakat sebagai kader konservasi kehormatan yang telah berjasa menyelematkan badak jawa,” tegas Siti dihadapan ratusan peserta Jambore dan warga. Penghargaan Platinum Award diberikan kepada perusahaan nasional, sertifikat kepada 9 penangkar tumbuhan dan satwa liar terbaik.

Siti optimis, dengan dukungan LSM, aktivis, pendampingan dan dunia usaha, keseimbangan antara manusia dan hutan, antara manusia dan kawasan konservasi baik dalam bentuk wisata alam, taman nasional dan lain lain itu akan berhasil dilakukan. Maka berbagai model dan sistem harus dikembangkan oleh pemerintah. Sebab, kekayaan hutan ini milik bersama untuk keseimbangan, kemajuan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar

“Green Economy tidak hanya sekedar nama, tetapi betul-betul bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pintanya.

Sebelumnya, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung (PJLKKHL) Bambang Supriyanto mengungkapkan, Jambore HKAN ini agar peserta Jambore dapat lebih mengenal dan memahami pentingnya upaya konservasi dan penyelamatan kawasan konservasi. Melalui, HIKAN sebagai momentum untuk terus memasyarakatkan konservasi alam sebagai komitmen sikap hidup dan budaya semua unsur bangsa.

“Tujuan kegiatan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi alam dan kelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya bagi kesejahteraan masayarakat,” kata Bambang pada pembukaan Jambore Nasional HKAN

http://sinarharapan.co/news/read/150812002/menteri-lhk-jangn-usir-warga-dari-hutan5

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    PANDEGLANG-Jangan ada lagi warga yang diusir dari hutan dan warga jangan masuk dan menetap di hutan. Warga harus menjaga ekosistem hutan karena itu akan menguntungkan penduduk. Akses masyarakat ke kawasan konservasi harus diselesaikan dengan baik dalam pengertian tidak boleh ada orang diusir-usir dari hutan. Pengelolaan lingkungan hidup dan hutan menjadi tanggung jawab semua pihak. Sudah sepatutnya keseimbangan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya diberdayakan secara bijaksana mulai sekarang.

    Demikian sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada pembukaan Jambore Nasional Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2015 di Desa Sumur, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten, Sabtu (8/8).   Jambore kemah konservasi ini digelar untuk memperingati HKAN setiap 10 Agustus berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 sebagai upaya untuk mengenalkan konservasi alam kepada masyarakat agar menjadi budaya bangsa.

    Siti menerangkan, Kementerian LHK akan memperkenalkan kegiatan konservasi kepada masyarakat. Disebutkan, mulai hari ini, pihaknya telah mencanangkan pekan konservasi nasional yang terus digaungkan sepanjang 2015 dengan berbagai kegiatan. Jambore selama 3 hari sejak 8–10 Agustus ini diikuti lebih dari 300 peserta dari 77 unit pelaksana teknis (UPT) dari seluruh Indonesia, Kader Konservasi Alam, Kelompok Pecinta Alam, Kelompok Profesi yang terdiri dari guru, peneliti, dan lain-lain.

    “Melalui Jambore ini untuk lebih mengenalkan pentingnya penyelamatan kawasan konservasi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi alam dan kelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistem,” papar Siti yang mengenakan kemeja putih-putih.

    Menteri LHK meminta taman nasional dikelola dengan lebih baik dan profesional sehingga dapat menjadi sumber devisa baru. Menurutnya, hal itu sangat mungkin mengingat potensi 51 taman nasional di Indonesia. Di sisi lain, modal hutan Indonesia seluas 134 juta hektar atau 70 persen dari daratan Indonesia serta kekayaan hayati flora dan fauna di dunia sebanyak 17 persen harus dikelola dengan tepat guna memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, LSM dan pegiat lingkungan serta masyarakat agar implementasi ini dapat segera terwujud. Tema HKAN 2015 yakni Keberlanjutan Konservasi Alam untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan.

    “Masalah jalan ke Taman Nasional Ujung Kulom ini, saya akan bicara dengan Kementeriaan PU,” pinta Siti disambut tepuk tangan undangan.

    Jambore yang dirangkai dengan Deklarasi Gerakan Nasional Tumbuhan dan Satwa Liar memuat pernyataan rasa syukur rakyat Indonesia atas anugerah kekayaan keanekaragaman hayati dan janji untuk terus melestarikan, mempelajari dan memanfaatkan secara berkelanjutan untuk kejayaan bangsa. Deklarasi berlanjut dengan pelepasliaran 10 burung jalak sebagai simbol mengajak masyarakat berkomitmen menghargai alam dan lingkungannya, pameran kerajinan tangan, pemutaran film konservasi sumber daya alam, dan penanaman bibit pohon di pantai.

    “Kita memberi apresiasi kepada masyarakat sebagai kader konservasi kehormatan yang telah berjasa menyelematkan badak jawa,” tegas Siti dihadapan ratusan peserta Jambore dan warga. Penghargaan Platinum Award diberikan kepada perusahaan nasional, sertifikat kepada 9 penangkar tumbuhan dan satwa liar terbaik.

    Siti optimis, dengan dukungan LSM, aktivis, pendampingan dan dunia usaha, keseimbangan antara manusia dan hutan, antara manusia dan kawasan konservasi baik dalam bentuk wisata alam, taman nasional dan lain lain itu akan berhasil dilakukan. Maka berbagai model dan sistem harus dikembangkan oleh pemerintah. Sebab, kekayaan hutan ini milik bersama untuk keseimbangan, kemajuan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di sekitar

    “Green Economy tidak hanya sekedar nama, tetapi betul-betul bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pintanya.

    Sebelumnya, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung (PJLKKHL) Bambang Supriyanto mengungkapkan, Jambore HKAN ini agar peserta Jambore dapat lebih mengenal dan memahami pentingnya upaya konservasi dan penyelamatan kawasan konservasi. Melalui, HIKAN sebagai momentum untuk terus memasyarakatkan konservasi alam sebagai komitmen sikap hidup dan budaya semua unsur bangsa.

    “Tujuan kegiatan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi alam dan kelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya bagi kesejahteraan masayarakat,” kata Bambang pada pembukaan Jambore Nasional HKAN

    http://sinarharapan.co/news/read/150812002/menteri-lhk-jangn-usir-warga-dari-hutan5

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on