Acara 17 di Ilaga kabupaten Puncak Papua, seorang pemuda dikeroyok aparat polisi. Keributan yang berujung pada penahanan tersebut, awalnya pemuda bernama Jominus Tinal protes terkait pentas budaya. Dimana pemeda tidak melibatkan tarian asli suku, malah mendatangkan tarian budaya dari luar suku di Puncak.

Kejadian di Lapangan sepak bola ini, Jominus Tinal (35) tidak terima dengan budaya luar. Dengan asalan demi melestarikan budaya asli Puncak. Dia protes karena tarian wayase dari maluku bukan tarian asli mereka. Jominus marah kemudian pukul meja. Aparat yang berada langsung keroyok. Usai perkelahian, Jominus pulang. Sore sekitar jam 5 waktu setempat, dia ingin ke pos polisi untuk minta maaf. Disaat itulah polisi menahan yang bersangkutan.

Menurut kerabat korban pengeroyokan, Polisi setempat mengatakan penahanan tersebut sampai ada pembicaraan dengan bupati . Harus ada perintah dari bupati soal ini baru kami lepas. Kerabat korban kecewa kenapa masalah sepele saja Bupati perintahkan polisi tangkap dan tahan orang?

Mereka kemudian bertanya-tanya bila cara tersebut dikedepankan, Bupati Wilem Wandik ingin membangun atau mengacaukan daerah ini. Mendesak agar Jominus Tinal segera dibebaskan.

Semianus Tinal, SH.KP warga asal Kabupaten Puncak sebagaimana dihimpun oleh PUSAKA mengatakan bahwa insiden tersebut seharusnya tidak terjadi kalau saja Bupati Wilem Wandik mengutamakan budaya asli setempat dengan melibatkan penduduk yang ada disini. Entah pada saat itu maupun yang akan datang, Semianus bilang pemerintah daerah harusnya mendengar masukan dari warga agar tidak lagi menimbulkan kecemburuan sosial.

Harus ada respon cepat dari para pemangku kepentingan disana agar tidak menimbulkan kecemasan ditengah warga yang berujung pada kekacauan sosial, demikian Semius kepada PUSAKA lagi. Bupati seharusnya mengutamakan budaya suku lokal yang ada, bukan mendatangkan dominasi tarian dari suku lain, kecam Semianus. Bila kebijakan tidak pro masyarakat asli, Bupati dituding gagal membangun negeri Ilaga.

Arkilaus Baho

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Acara 17 di Ilaga kabupaten Puncak Papua, seorang pemuda dikeroyok aparat polisi. Keributan yang berujung pada penahanan tersebut, awalnya pemuda bernama Jominus Tinal protes terkait pentas budaya. Dimana pemeda tidak melibatkan tarian asli suku, malah mendatangkan tarian budaya dari luar suku di Puncak.

    Kejadian di Lapangan sepak bola ini, Jominus Tinal (35) tidak terima dengan budaya luar. Dengan asalan demi melestarikan budaya asli Puncak. Dia protes karena tarian wayase dari maluku bukan tarian asli mereka. Jominus marah kemudian pukul meja. Aparat yang berada langsung keroyok. Usai perkelahian, Jominus pulang. Sore sekitar jam 5 waktu setempat, dia ingin ke pos polisi untuk minta maaf. Disaat itulah polisi menahan yang bersangkutan.

    Menurut kerabat korban pengeroyokan, Polisi setempat mengatakan penahanan tersebut sampai ada pembicaraan dengan bupati . Harus ada perintah dari bupati soal ini baru kami lepas. Kerabat korban kecewa kenapa masalah sepele saja Bupati perintahkan polisi tangkap dan tahan orang?

    Mereka kemudian bertanya-tanya bila cara tersebut dikedepankan, Bupati Wilem Wandik ingin membangun atau mengacaukan daerah ini. Mendesak agar Jominus Tinal segera dibebaskan.

    Semianus Tinal, SH.KP warga asal Kabupaten Puncak sebagaimana dihimpun oleh PUSAKA mengatakan bahwa insiden tersebut seharusnya tidak terjadi kalau saja Bupati Wilem Wandik mengutamakan budaya asli setempat dengan melibatkan penduduk yang ada disini. Entah pada saat itu maupun yang akan datang, Semianus bilang pemerintah daerah harusnya mendengar masukan dari warga agar tidak lagi menimbulkan kecemburuan sosial.

    Harus ada respon cepat dari para pemangku kepentingan disana agar tidak menimbulkan kecemasan ditengah warga yang berujung pada kekacauan sosial, demikian Semius kepada PUSAKA lagi. Bupati seharusnya mengutamakan budaya suku lokal yang ada, bukan mendatangkan dominasi tarian dari suku lain, kecam Semianus. Bila kebijakan tidak pro masyarakat asli, Bupati dituding gagal membangun negeri Ilaga.

    Arkilaus Baho

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on