Sungai yang kami susuri selama 6 jam adalah bagian hulu sungai Kapuas. Pada penghujung kemarau  bulan Agustus, kedalamannya hanya selutut orang dewasa. Dengan telanjang kaki, kita bebas berenang sesuka hati, melihat  jernihnya riam, bersandar di batu-batu besar dan  berteduh di rimbunnya pepohonan. Keadaan  seperti ini, belum pernah kami temukan di sungai Kapuas bagian hilir yang semakin hari kondisinya makin memprihatinkan.

Nasib Hutan di Hulu Kapuas

Nasib Hutan di Hulu Kapuas

Inilah  Desa Tumbang Bukoi, Kecamatan Mandau Telawang, Kapuas, Kalimantan Tengah. Dari desa ini  mata air sungai Kapuas mengalir, memanjang hingga  600 km yang  berujung di Pelabuhan Batanjung. Desa ini berada paling hulu sungai Kapuas, sebagian besar kehidupan masyarakatnya sangat bergantung kepada  hutan, sehingga beragam jenis hutan seperti Sepan, Himba, Kaleka dan Pahewan masih  ditemukan keberadaannya, meski sekarang, kelestariannya kian terancam.

Misalnya, tak kurang sepukuh kilo meter ke arah hilir, terdapat ratusan kubik Log kayu seukuran tubuh kerbau terdampar di bantaran sungai. Kayu-kayu tersebut urung diangkut akibat surutnya hulu sungai Kapuas. Terlihat, sejumlah Kapal Motor bertuliskan Banjarmasin juga tertambat di  sungai yang sebagian telah menjadi daratan. Kayu-kayu itu merupakan hasil tebangan perusahaan HPH PT Gunung Meranti yang beroperasi sejak tahun 1970-an silam.

“Sejak lama, daerah kami menjadi konsesi perusahaan kayu, namun tidak ada kontribusi nyata bagi kemajuan desa”. Demikian kata Bidu, tokoh pemuda setempat. Mengenang nasib kampungnya yang selalu menjadi incaran para pemodal besar.

Nasib Hutan di Hulu Kapuas

Nasib Hutan di Hulu Kapuas

Menurutnya, selain perusahaan kayu PT Gunung Meranti, desanya juga berada dalam konsesi perusahaan HPH lainnya seperti PT Bumi Mas Permata Abadi, PT Praba Nugraha Teknologi ( 62000 ha), PT Domas Raya (8,4 000 ha).

“Perusahaan sawit juga coba mau masuk, namun warga menolaknya. Mereka belajar dari penderitaan kampung lain yang sudah terima sawit”. Tambahnya.

Tak cukup perusahaan kayu dan sawit, Tumbang Bukoi juga telah menjadi konsesi ekspolrasi tambang batu bara, beberapa perusahaan tambang seperti PT Harapan Bangsa, PT Hasna Munda dan PT Karya Perintis Sejati sudah mengkavling lahan dengan luas total  mencapai 25000 ha.

Sebelum menetap di perkampungan saat ini, leluhur masyarakat Tumbang Bukoi mengalami delapan kali perpindahan pemukiman. Banyak cerita mengenai alasan perpindahan kampung mereka, selain karena menghindar dari tradisi ngayau, pada tahun 1901, warga kampung hampir musnah akibat terkena penyakit kolera, atau warga setempat menyebutnya penyakit benes. Kala itu, banyak mayat bergelimpangan dan tak sempat dikuburkan.

“Kini tradisi nagayau sudah tak ada, penyakit benes sudah bisa di obati. Namun kami tak tahu kondisi kami dimasa depan, jika hutan kami musnah. Bisa jadi, dampaknya lebih dari benes”.

Tokoh masyarakat setempat lainnya, Hancung E Sajan, memaparkan itu. menurutnya, banyak kampung tetangga yang berada dalam konsesi perusahaan, warganya pindah. Kampung menjadi kosong tanpa penghuni. Itu terjadi di areal perkebunan sawit. Mereka pindah karena tak ada lagi hutan tersisa tempat mereka gantungkan hidup.

“Doakan saja warga disini kuat menahan gempuran itu. Jika tidak, saya yakin beberapa tahun kedepan, kampung ini hanya tinggal nama”.

 red/AP/27/08/2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sungai yang kami susuri selama 6 jam adalah bagian hulu sungai Kapuas. Pada penghujung kemarau  bulan Agustus, kedalamannya hanya selutut orang dewasa. Dengan telanjang kaki, kita bebas berenang sesuka hati, melihat  jernihnya riam, bersandar di batu-batu besar dan  berteduh di rimbunnya pepohonan. Keadaan  seperti ini, belum pernah kami temukan di sungai Kapuas bagian hilir yang semakin hari kondisinya makin memprihatinkan.

    Nasib Hutan di Hulu Kapuas

    Nasib Hutan di Hulu Kapuas

    Inilah  Desa Tumbang Bukoi, Kecamatan Mandau Telawang, Kapuas, Kalimantan Tengah. Dari desa ini  mata air sungai Kapuas mengalir, memanjang hingga  600 km yang  berujung di Pelabuhan Batanjung. Desa ini berada paling hulu sungai Kapuas, sebagian besar kehidupan masyarakatnya sangat bergantung kepada  hutan, sehingga beragam jenis hutan seperti Sepan, Himba, Kaleka dan Pahewan masih  ditemukan keberadaannya, meski sekarang, kelestariannya kian terancam.

    Misalnya, tak kurang sepukuh kilo meter ke arah hilir, terdapat ratusan kubik Log kayu seukuran tubuh kerbau terdampar di bantaran sungai. Kayu-kayu tersebut urung diangkut akibat surutnya hulu sungai Kapuas. Terlihat, sejumlah Kapal Motor bertuliskan Banjarmasin juga tertambat di  sungai yang sebagian telah menjadi daratan. Kayu-kayu itu merupakan hasil tebangan perusahaan HPH PT Gunung Meranti yang beroperasi sejak tahun 1970-an silam.

    “Sejak lama, daerah kami menjadi konsesi perusahaan kayu, namun tidak ada kontribusi nyata bagi kemajuan desa”. Demikian kata Bidu, tokoh pemuda setempat. Mengenang nasib kampungnya yang selalu menjadi incaran para pemodal besar.

    Nasib Hutan di Hulu Kapuas

    Nasib Hutan di Hulu Kapuas

    Menurutnya, selain perusahaan kayu PT Gunung Meranti, desanya juga berada dalam konsesi perusahaan HPH lainnya seperti PT Bumi Mas Permata Abadi, PT Praba Nugraha Teknologi ( 62000 ha), PT Domas Raya (8,4 000 ha).

    “Perusahaan sawit juga coba mau masuk, namun warga menolaknya. Mereka belajar dari penderitaan kampung lain yang sudah terima sawit”. Tambahnya.

    Tak cukup perusahaan kayu dan sawit, Tumbang Bukoi juga telah menjadi konsesi ekspolrasi tambang batu bara, beberapa perusahaan tambang seperti PT Harapan Bangsa, PT Hasna Munda dan PT Karya Perintis Sejati sudah mengkavling lahan dengan luas total  mencapai 25000 ha.

    Sebelum menetap di perkampungan saat ini, leluhur masyarakat Tumbang Bukoi mengalami delapan kali perpindahan pemukiman. Banyak cerita mengenai alasan perpindahan kampung mereka, selain karena menghindar dari tradisi ngayau, pada tahun 1901, warga kampung hampir musnah akibat terkena penyakit kolera, atau warga setempat menyebutnya penyakit benes. Kala itu, banyak mayat bergelimpangan dan tak sempat dikuburkan.

    “Kini tradisi nagayau sudah tak ada, penyakit benes sudah bisa di obati. Namun kami tak tahu kondisi kami dimasa depan, jika hutan kami musnah. Bisa jadi, dampaknya lebih dari benes”.

    Tokoh masyarakat setempat lainnya, Hancung E Sajan, memaparkan itu. menurutnya, banyak kampung tetangga yang berada dalam konsesi perusahaan, warganya pindah. Kampung menjadi kosong tanpa penghuni. Itu terjadi di areal perkebunan sawit. Mereka pindah karena tak ada lagi hutan tersisa tempat mereka gantungkan hidup.

    “Doakan saja warga disini kuat menahan gempuran itu. Jika tidak, saya yakin beberapa tahun kedepan, kampung ini hanya tinggal nama”.

     red/AP/27/08/2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on