Marga Gue Menggugat Perusahaan Kelapa Sawit PT. PPM

1
589

Marga Gue, Suku Iwaro, melalui kuasa hukumnya Jacobus Wogim, SH, Loury da Costa SH dan Yesaya Mayor, SH, mengajukan gugatan perbuatan melanggar hukum kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Permata Putera Mandiri (PT. PPM), anak perusahaan Austindo Nusantara Jaya Agri, yang berkantor pusat di Jakarta dan berkantor cabang di Jl. Ahmad Yani, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

Menurut Simon Soren, pimpinan Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Iwaro (IPPMI) di Sorong, “Penggugat yang diwakili Yakomina Gue sebagai perwakilan Marga Gue, sudah menyampaikan surat gugatan terhadap PT. PPM, kepada Ketua Pengadilan Negeri Sorong, pada Selasa (1/10/2015). Ini upaya hukum untuk menuntut hak-hak warga yang dirampas perusahaan PT. PPM”, jelas Simon.

Dalam surat gugatan disampaikan bahwa perusahaan PT. PPM telah melakukan tindakan penyerobotan, penguasaan dan pemanfaatan tanah adat tanpa seijin penggugat, yang bertentangan dengan sejumlah peraturan perundang-undangan, antara lain: UU No. 5 Tahun 1970 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35 Tahun 2012, SK Bupati Sorong Selatan No. 520/120/BSS/X/2011 tentang Penetapan Harga Dasar atas tanaman tumbuh di Kabupaten Sorong Selatan.

Alasan-alasan penggugat mengajukan gugatan, antara lain: bahwa Yakomina Gue sebagai perwakilan Marga Gue sebagai pemilik tanah adat yang diwariskan dari orang tua Kaire, lokasi tanah adat Marga Gue berada di Kampung Puragi, Distrik Metamani di Girio, lokasim, Adonami, Remanoudi, Yamarema, Kaporo, Wudo, Kumada, kabi, Gainai, Sobiara, Yerareba, Mioron, seluas ± 5.320 hektar, yang mana tanah dan hutan didaerah tersebut digusur dan dobongkat oleh PT. PPM untuk pembangunan jalan dan perkebunan kelapa sawit, tanpa ada persetujuan dan ijin sebagaimana mestinya dari Marga Gue sebagai pemilik tanah adat tersebut.

Akibatnya terjadi kerusakan dan penghilangan isi hutan didaerah Yamarema dan sekitarnya, luasnya hingga mencapai  ± 3.494 hektar, terjadi kerusakan lingkungan daerah aliran sungai dan mata air kering, kerusakan sumur minyak, penghilangan situs-situ keramat dan bersejarah, kerusakan dusun sagu dan areal perburuan hewan masyarakat yang seluruhnya menunjang kehidupan masyarakat, mata pencaharian masyarakat, sehingga masyarakat dirugikan dan terancam kehilangan identitas sosial dan budaya.

Loury da Costa, SH, kuasa hukum penggugat, menjelaskan “Kerugian materiil yang dialami masyarakat Rp. 6,6 triliun, terdiri dari kerugian hilangnya tanaman, hewan, kerusakan situs dan lubang minyak warga, dan sebagainya. Penggugat meminta Ketua PN Sorong untuk menghukum tergugat membayar semua kerugian, agar tergugat mengosongkan tanah sengketa dan mengembalikan kepada penggugat”, jelas Loury di Sorong.

Ank, Okt 2015