Dalam kepungan asap memasuki perkampungan di wilayah kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas-Kalteng, dedaunan nyaris tak bergerak, tak ada hembusan angin. Persis seperti diamnya pemerintah yang membiarkan warganya menghirup racun.

Meski presiden Jokowi telah mengeluarkan intruksi penanganan dampak asap hingga tahap evakuasi, di tingkat kampung intruksi tersebut sama sekali tak berlaku. Bahkan 22 warga Desa Mantangai Hulu melakukan evakuasi secara mandiri ke Banjarmasin (25/10/2015) tanpa difasilitasi pemerintah. Warga memilih evakuasi karena sudah tak sanggup bernapas dalam sesak.

Menembus kabut asap pembakaran lahan konsesi sawit eks PLG sejuta hektar, menjangkau desa-desa di Kecamatan Mantangai, Dadahup dan Kecamatan Kapuas Murung. Dengan segala keterbatasan mencoba mendistribusikan obat-obatan, masker, oksigen donasi dari penggalangan dana seadanya di Jakarta.

Dampak asap di kawasan gambut dengan kedalaman 3-15 meter kondisinya lebih pekat, menyisakan 20 meter jarak pandang. Asap tersebut mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Namun sejak kawasan ini terbakar pada bulan juli 2015 silam, pemerintah tak melakukan apapun untuk tangani warga terdampak asap.

“ Anak-anak banyak yang sakit pernapasan dan disentri , tak ada pelayanan kesehatan dari pemerintah. Ekonomi kami pun hancur, 90 persen kebun karet warga hangus di lalap api, saya tidak tahu lagi nasib setelah ini”.

Demikian kata Runjat, warga dari Desa Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas-Kalteng. Dengan suara parau ia merenungi nasibnya. Kebun karet seluas tujuh hektar di Sei Dahirang yang selama ini ia banggakan sebagai jaminan masa depan, kini hanya tinggal kenangan.

Hancurnya sector perekonomian warga tersebut, semakin memperburuk keadaan. Mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi bencana asap. Mengungsi ke tempat yang tidak terpapar asap tak ada biaya dan sanak saudara, berobat pun temapatnya jauh dari jangkauan. Warga tak punya pilihan selain menghirup udara seadanya.

“Jangankan warga, masker yang kami gunakan pun masker biasa warna hijau. Tak ada pembagian dari dinas dan suplai obat-obatan layak bagi korban asap”.

Ungkap salah satu pegawai Puskesmas kecamatan Mantangai. Ia dan rekan-rekannya hanya mencuci makser tersebut karena tak ada persediaan.

Asap Korporasi

Pasca orde baru membuka lahan gambut untuk kepentingan swasembada beras tahun 1996 silam, masyarakat di sekitar kawasan eks PLG seolah tak berhenti di dera derita. Di Kabuapten Kapuas, desa-desa yang terdampak asap mematikan itu berada di wilayah kecamatan   Timpah, Kapuas Barat, Dadahup, Kapuas Murung dan Mantangai. Wilayah tersebut dikenal memiliki gambut kedalaman mencapai 3-15 meter, yang kini sebagain besar beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

Perusahaan sawit seperti PT Globalindo Agung Lestari (24.000 ha), PT Usaha Handalan Perkasa (15.000 ha), PT Graha Inti Jaya ( 10.000 ha), PT Bangun Cipta Perkasa (16.000 ha), PT Rezeki Alam Semesta Raya (20.000 ha), PT Sakti Mait Jaya Langit (10.000 ha), PT Hijau Sawit Kapuas (5000 ha), PT Kahayan Agro Lestari ( 10.000 ha) PT Makmur Bersama Asia (15000 ha), PT Kalimantan Ria Sejahtera (17.000 ha) dan PT Kalimantan Lesari Mandiri (10.000 ha). Perusahaan tersebut seluruhnya beroperasi di wilayah gambut, bekerja tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kemenetrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Setiap tahun, kebakaran lahan terjadi di areal konsesi merembet ke kebun-kebun karet warga yang selama ini dipertahankan dari ekspansi sawit. Tidak menutup kemungkinan, setelah kebun karet terbakar dan warga berada dalam kondisi panik, perusahaan sawit datang menawarkan kemitraan dalam skema plasma.

warga Sei Ahas

warga Sei Ahas

Kondisi Terkini

Hampir seluruh kebun karet warga yang bermukim di sepanjang DAS Kapuas Sembilan puluh persen dilaporkan terbakar. Empat puluh persen warga kini mencari pekerjaan menambang emas di wilayah Muroi, Timpah dan Kapuas Hulu. Sembari menunggu musim hujan datang, warga bersiap berladang padi dengan cara manugal. Kemungkinan tak seberapa luas karena tak ada modal.

“ Kedepan kami hanya mengandalkan padi gunung yang luasnya tak seberapa, modal kami habis untuk menjaga api dan makan sehari-hari”.

Rewa, warga Sei Ahas mengaku dalam dua bulan terakhir ini kewalahan menghadapi api. Ia tak kuasa mecegah api untuk tidak membakar kebun karetnya. Ia berharap, pemerintah bisa menemukan solusi, yang pasti solusi itu bukan investasi sawit.

Mantangai Red/AP/27 Oktober 2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Dalam kepungan asap memasuki perkampungan di wilayah kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas-Kalteng, dedaunan nyaris tak bergerak, tak ada hembusan angin. Persis seperti diamnya pemerintah yang membiarkan warganya menghirup racun.

    Meski presiden Jokowi telah mengeluarkan intruksi penanganan dampak asap hingga tahap evakuasi, di tingkat kampung intruksi tersebut sama sekali tak berlaku. Bahkan 22 warga Desa Mantangai Hulu melakukan evakuasi secara mandiri ke Banjarmasin (25/10/2015) tanpa difasilitasi pemerintah. Warga memilih evakuasi karena sudah tak sanggup bernapas dalam sesak.

    Menembus kabut asap pembakaran lahan konsesi sawit eks PLG sejuta hektar, menjangkau desa-desa di Kecamatan Mantangai, Dadahup dan Kecamatan Kapuas Murung. Dengan segala keterbatasan mencoba mendistribusikan obat-obatan, masker, oksigen donasi dari penggalangan dana seadanya di Jakarta.

    Dampak asap di kawasan gambut dengan kedalaman 3-15 meter kondisinya lebih pekat, menyisakan 20 meter jarak pandang. Asap tersebut mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Namun sejak kawasan ini terbakar pada bulan juli 2015 silam, pemerintah tak melakukan apapun untuk tangani warga terdampak asap.

    “ Anak-anak banyak yang sakit pernapasan dan disentri , tak ada pelayanan kesehatan dari pemerintah. Ekonomi kami pun hancur, 90 persen kebun karet warga hangus di lalap api, saya tidak tahu lagi nasib setelah ini”.

    Demikian kata Runjat, warga dari Desa Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas-Kalteng. Dengan suara parau ia merenungi nasibnya. Kebun karet seluas tujuh hektar di Sei Dahirang yang selama ini ia banggakan sebagai jaminan masa depan, kini hanya tinggal kenangan.

    Hancurnya sector perekonomian warga tersebut, semakin memperburuk keadaan. Mereka tak bisa berbuat banyak menghadapi bencana asap. Mengungsi ke tempat yang tidak terpapar asap tak ada biaya dan sanak saudara, berobat pun temapatnya jauh dari jangkauan. Warga tak punya pilihan selain menghirup udara seadanya.

    “Jangankan warga, masker yang kami gunakan pun masker biasa warna hijau. Tak ada pembagian dari dinas dan suplai obat-obatan layak bagi korban asap”.

    Ungkap salah satu pegawai Puskesmas kecamatan Mantangai. Ia dan rekan-rekannya hanya mencuci makser tersebut karena tak ada persediaan.

    Asap Korporasi

    Pasca orde baru membuka lahan gambut untuk kepentingan swasembada beras tahun 1996 silam, masyarakat di sekitar kawasan eks PLG seolah tak berhenti di dera derita. Di Kabuapten Kapuas, desa-desa yang terdampak asap mematikan itu berada di wilayah kecamatan   Timpah, Kapuas Barat, Dadahup, Kapuas Murung dan Mantangai. Wilayah tersebut dikenal memiliki gambut kedalaman mencapai 3-15 meter, yang kini sebagain besar beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

    Perusahaan sawit seperti PT Globalindo Agung Lestari (24.000 ha), PT Usaha Handalan Perkasa (15.000 ha), PT Graha Inti Jaya ( 10.000 ha), PT Bangun Cipta Perkasa (16.000 ha), PT Rezeki Alam Semesta Raya (20.000 ha), PT Sakti Mait Jaya Langit (10.000 ha), PT Hijau Sawit Kapuas (5000 ha), PT Kahayan Agro Lestari ( 10.000 ha) PT Makmur Bersama Asia (15000 ha), PT Kalimantan Ria Sejahtera (17.000 ha) dan PT Kalimantan Lesari Mandiri (10.000 ha). Perusahaan tersebut seluruhnya beroperasi di wilayah gambut, bekerja tanpa izin pelepasan kawasan hutan dari Kemenetrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

    Setiap tahun, kebakaran lahan terjadi di areal konsesi merembet ke kebun-kebun karet warga yang selama ini dipertahankan dari ekspansi sawit. Tidak menutup kemungkinan, setelah kebun karet terbakar dan warga berada dalam kondisi panik, perusahaan sawit datang menawarkan kemitraan dalam skema plasma.

    warga Sei Ahas

    warga Sei Ahas

    Kondisi Terkini

    Hampir seluruh kebun karet warga yang bermukim di sepanjang DAS Kapuas Sembilan puluh persen dilaporkan terbakar. Empat puluh persen warga kini mencari pekerjaan menambang emas di wilayah Muroi, Timpah dan Kapuas Hulu. Sembari menunggu musim hujan datang, warga bersiap berladang padi dengan cara manugal. Kemungkinan tak seberapa luas karena tak ada modal.

    “ Kedepan kami hanya mengandalkan padi gunung yang luasnya tak seberapa, modal kami habis untuk menjaga api dan makan sehari-hari”.

    Rewa, warga Sei Ahas mengaku dalam dua bulan terakhir ini kewalahan menghadapi api. Ia tak kuasa mecegah api untuk tidak membakar kebun karetnya. Ia berharap, pemerintah bisa menemukan solusi, yang pasti solusi itu bukan investasi sawit.

    Mantangai Red/AP/27 Oktober 2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on