Sejak September 2015 lalu, terjadi kebakaran lahan gambut dan kawasan hutan disekitar DAS Kapuas dan DAS Mantangai, Kecamatan Mantangai dan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Prov. Kalimantan Tengah. Apinya terus meluas hingga saat ini sudah mendekati kampung, membakar kebun ladang, kebun rotan dan karet masyarakat. Hutan dan lahan gambut didaerah ini didaerah ini mempunyai kedalaman mencapai hingga 15 meter.

Warga di Kampung Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai, menjelaskan, “api sudah sampai dekat kampung hampir-hampir kubur terbakar, asap sangat pekat, apalagi kalau sore hari, jarang pandang hanya sekitar 30 meter”, jelas Domo, tokoh masyarakat Pulau Kaladan.

Diperkirakan ada lebih dari 30 kampung yang dihuni lebih dari 40.000 warga di dua kecamatan ini yang terkena dampak kebakaran lahan dan asap tebal. Masyarakat bersaksi dan melihat ada api di lahan-lahan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada dibelakang kampung mereka dan berbatasan dengan kawasan hutan dan lahan gambut. Kampung-kampung ini dikepung oleh 6 (enam) perusahaan kelapa sawit, diantaranya ada 5 (lima) perusahaan diketahui terdapat titik api dan terbakar, yakni: PT. Rezeki Alam Semesta Raya, PT. Usaha Handalan Perkasa, PT. Globalindo Agung Lestari, PT. Kalimantan Lestari Mandiri, PT. Graha Inti Jaya.

Menurut kesaksian warga setempat, kalau api sudah melahap sumber-sumber pangan dan pendapatan warga. Berikut kesaksian warga korban kebakaran dan asap:

“Api sangat deras, kebun karet habis semua terbakar desa kaladan hilang mata pencaharian” cerita Domo.
“Keadaan masyarakatnya semuanya sedih dan sakit hati kebun boleh dikatakan hampir habis terbakar, coba bayangkan luas wilayah Desa Sei Ahas kurang lebih 30 ribu hektar, jika dikumpulkan yang tidak terbakar paling banyak 3 ribu hektar, yang tersisa dipinggir DAS kapuas paling jauh 300 m sisa tidak terbakar, kata Misradi, tokoh masyarakat dari Desa Sei Ahas.

Kebakaran hutan dan lahan membuat kebun karet dan tanaman pangan masyarakat ikut terbakar sehingga masyarakat dirugikan, menderita dan semakin miskin. Warga juga tidak bisa sekolah, tidak dapat bekerja dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, “Kampung kami masih berasap pak, kebun karet semua terbakar tanpa sisa, asapnya sangat tebal dan sangat mengganggu kesehatan, sampai sekarang belum ada bantuang dari pemerintah,” jelas Tanduk, tokoh masyarakat dari Desa Pulau Kaladan.
“Masyarakat sekarang ini berlomba-lomba pergi mencari usaha diwilayah lain diperkirakan sudah mencapai 40 kelompok laki-laki dewasa dan anak-anak, mereka mininggalkan kampung,” kata Misradi.

Masyarakat yang rentan, seperti perempuan tua, ibu hamil dan anak kecil, sudah banyak mengeluh dikarenakan asap, “Banyak mereka terkena ISPA, Muntaber, susah bernapas, sakit kelapa, demam, panas, kejang-kejang, dan sebagainya. Anak-anak saya juga terkena ISPA, jelas Iwan, aktivis Yayasan Petak Danum di Kota Kapuas.
Bantuan penanganan kesehatan sangat minim dan dibeberapa kampung belum ada petugas medis dan banuan obat-obatan. Bapak Tanduk dari Pulau Kaladan menyangkan lambannya penanganan kesehatan. Masyarakat yang sudah menjadi korban terpaksa berusaha sendiri turun ke kota dan periksa kesehatan. Petugas puskesam di Kota juga tidak tanggap, mesti bayar dan sangat bertele-tele dalam memberikan bantuan.

Basri, Ketua Serika Tani menjelaskan dan berharap, adanya bantuan dari pemerintah dan masyarakat luas untuk bersolidaritas membantu pemuihan sumber-sumber kehidupan masyarakat dan memberikan sangsi kepada perusahaan yang mengakibatkan kebakaran, adapun bantuan yang diperlukan, seperti: masker, obat-obatan, alat sesak napas, oxigen dan vitamin. Persediaan bahan bantuan dari GAAS juga terbatas sehingga pemberian bantuan ke kampung dibatasi berdasarkan prioritas. “Kami perlu dukungan kawan2 berupa obat2an, tabung oksigen, vitamin, transportasi untuk pelayanan medis dan sebagainya”.

Presiden Jokowi telah memerintahkan agar pemerintah tidak mengeluarkan izin baru dilahan gambut dan hutan. Presiden Jokowi juga meminta Menteri Agraria dan Tata Ruang untuk tidak mengeluarkan HGU jika lahan perusahaan pemohon HGU terbakar.

Ank, Okt 2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sejak September 2015 lalu, terjadi kebakaran lahan gambut dan kawasan hutan disekitar DAS Kapuas dan DAS Mantangai, Kecamatan Mantangai dan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Prov. Kalimantan Tengah. Apinya terus meluas hingga saat ini sudah mendekati kampung, membakar kebun ladang, kebun rotan dan karet masyarakat. Hutan dan lahan gambut didaerah ini didaerah ini mempunyai kedalaman mencapai hingga 15 meter.

    Warga di Kampung Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai, menjelaskan, “api sudah sampai dekat kampung hampir-hampir kubur terbakar, asap sangat pekat, apalagi kalau sore hari, jarang pandang hanya sekitar 30 meter”, jelas Domo, tokoh masyarakat Pulau Kaladan.

    Diperkirakan ada lebih dari 30 kampung yang dihuni lebih dari 40.000 warga di dua kecamatan ini yang terkena dampak kebakaran lahan dan asap tebal. Masyarakat bersaksi dan melihat ada api di lahan-lahan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada dibelakang kampung mereka dan berbatasan dengan kawasan hutan dan lahan gambut. Kampung-kampung ini dikepung oleh 6 (enam) perusahaan kelapa sawit, diantaranya ada 5 (lima) perusahaan diketahui terdapat titik api dan terbakar, yakni: PT. Rezeki Alam Semesta Raya, PT. Usaha Handalan Perkasa, PT. Globalindo Agung Lestari, PT. Kalimantan Lestari Mandiri, PT. Graha Inti Jaya.

    Menurut kesaksian warga setempat, kalau api sudah melahap sumber-sumber pangan dan pendapatan warga. Berikut kesaksian warga korban kebakaran dan asap:

    “Api sangat deras, kebun karet habis semua terbakar desa kaladan hilang mata pencaharian” cerita Domo.
    “Keadaan masyarakatnya semuanya sedih dan sakit hati kebun boleh dikatakan hampir habis terbakar, coba bayangkan luas wilayah Desa Sei Ahas kurang lebih 30 ribu hektar, jika dikumpulkan yang tidak terbakar paling banyak 3 ribu hektar, yang tersisa dipinggir DAS kapuas paling jauh 300 m sisa tidak terbakar, kata Misradi, tokoh masyarakat dari Desa Sei Ahas.

    Kebakaran hutan dan lahan membuat kebun karet dan tanaman pangan masyarakat ikut terbakar sehingga masyarakat dirugikan, menderita dan semakin miskin. Warga juga tidak bisa sekolah, tidak dapat bekerja dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, “Kampung kami masih berasap pak, kebun karet semua terbakar tanpa sisa, asapnya sangat tebal dan sangat mengganggu kesehatan, sampai sekarang belum ada bantuang dari pemerintah,” jelas Tanduk, tokoh masyarakat dari Desa Pulau Kaladan.
    “Masyarakat sekarang ini berlomba-lomba pergi mencari usaha diwilayah lain diperkirakan sudah mencapai 40 kelompok laki-laki dewasa dan anak-anak, mereka mininggalkan kampung,” kata Misradi.

    Masyarakat yang rentan, seperti perempuan tua, ibu hamil dan anak kecil, sudah banyak mengeluh dikarenakan asap, “Banyak mereka terkena ISPA, Muntaber, susah bernapas, sakit kelapa, demam, panas, kejang-kejang, dan sebagainya. Anak-anak saya juga terkena ISPA, jelas Iwan, aktivis Yayasan Petak Danum di Kota Kapuas.
    Bantuan penanganan kesehatan sangat minim dan dibeberapa kampung belum ada petugas medis dan banuan obat-obatan. Bapak Tanduk dari Pulau Kaladan menyangkan lambannya penanganan kesehatan. Masyarakat yang sudah menjadi korban terpaksa berusaha sendiri turun ke kota dan periksa kesehatan. Petugas puskesam di Kota juga tidak tanggap, mesti bayar dan sangat bertele-tele dalam memberikan bantuan.

    Basri, Ketua Serika Tani menjelaskan dan berharap, adanya bantuan dari pemerintah dan masyarakat luas untuk bersolidaritas membantu pemuihan sumber-sumber kehidupan masyarakat dan memberikan sangsi kepada perusahaan yang mengakibatkan kebakaran, adapun bantuan yang diperlukan, seperti: masker, obat-obatan, alat sesak napas, oxigen dan vitamin. Persediaan bahan bantuan dari GAAS juga terbatas sehingga pemberian bantuan ke kampung dibatasi berdasarkan prioritas. “Kami perlu dukungan kawan2 berupa obat2an, tabung oksigen, vitamin, transportasi untuk pelayanan medis dan sebagainya”.

    Presiden Jokowi telah memerintahkan agar pemerintah tidak mengeluarkan izin baru dilahan gambut dan hutan. Presiden Jokowi juga meminta Menteri Agraria dan Tata Ruang untuk tidak mengeluarkan HGU jika lahan perusahaan pemohon HGU terbakar.

    Ank, Okt 2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on