Setelah kebun karet, rotan dan hutan yang dikelola bersama warga hancur terbakar, perusahaan sawit akan lebih mudah masuk. Itu sangat tidak adil, sebab perusahaan datang ditengah kepanikan sosial. Pembakaran, adalah salah satu upaya perusahaan untuk memperlancar perampasan lahan dan hutan yang dipertahankan rakyat”. 

Kabut asap perlahan telah berlalu. Meski belum merata, selama sepekan ini hujan mulai mengguyur wilayah Kalimantan Tengah, jarak pandang pun berangsur normal. Di sungai-sungai dan jalan perkampungan telah diramaikan orang yang berlalu lalang pergi menengok ladang. Warga kembali leluasa  menjalankan aktivitas kesehariannya.

Kondisi itu belum menggambarkan bahwa bencana asap telah berlalu. Jika dalam satu bulan terakhir ini hutan dan kebun-kebun rakyat nyaris tak terlihat diselimuti asap, kini setelah asap hilang, dengan mata telanjang dapat disaksikan, puluhan ribu hektar pohon karet, jelutung, galam, rotan dan hutan yang dimanfaatkan rakyat secara kolektif , sebagian besar telah menghitam terbakar api. Pemandangan itu menjadi luka baru, bagi warga yang selama ini berjuang mempertahankan lahan dan hutan yang mereka kelola bersama selama bertahun-tahun.

Diantaranya, luka itu tergambar jelas di mata Basri H Darun, salah satu warga Mantangai Kabupaten Kapuas. Tak lama  setelah hujan turun, tepatnya Rabu pagi pekan lalu. Ia dapat lebih jelas melihat kehancuran kebun karetnya. Bapak empat anak ini berusaha tenang, sebelum akhirnya  bergegas ke komplek kecamatan, menuju  kantor  Credit Union (CU) untuk meminjam modal.

“Setelah memastikan pohon karet saya tak bisa lagi disadap,terpaksa  saya pinjam uang ke CU. Saya tak punya penghasilan, kebun karet yang biasa jadi andalan kini sudah habis terbakar. Belum terhitung kerugiannya berapa ”. katanya.

Basri, yang kesehariannya bertani dan dipercaya memimpin Serikat Tani Magantang Tarung itu  mengungkap,  banyak warga dan anggota serikat tani kehilangan kebun dan tak memiliki modal cukup untuk merehabilitasi kebun karet serta menghadapi musim tanam padi gunung tahun ini. Menyikapi kekhawatirannya itu, rencananya ia akan melakukan musyawarah anggota, mencari solusi terbaik supaya warga tetap mempertahankan kebun dan berladang meski dalam kondisi terpuruk.

“Saya khawatir para petani beralih profesi menjadi buruh sawit atau menambang emas di kawasan hulu. Itu sudah kejadian, karena di kampung tak ada lagi sumber matapencaharian. Sekarang ini, kita hanya bisa saling menguatkan”.

Ia katakan, jika warga tak memiliki akses kredit ke lembaga keuangan untuk meminjam modal, kemungkinan mereka akan menggadaikan tanah bahkan menjualnya kepada investor sawit. Kalau hal itu dibiarkan, dimasa depan warga akan dihadapkan dengan situasi jauh lebih sulit.

Direktur Yayasan Petak Danum, Muliadi, membenarkan hal itu. Bencana kebakaran tahun ini tercatat  sebagai bencana terburuk sepanjang sejarah kebakaran lahan gambut di kawasan eks PLG. Masifnya kehancuran  sumber-sumber penting penopang kehidupan warga yang bermukim di DAS Kapuas seperti kecamatan Basarang, Mantangai, Dadahup, Kapuas Murung, Timpah dan Kapuas Barat, dikhawatirkan menjadi memicu peningkatan luasan perkebunan sawit di wilayah ini.

Menurutnya, setelah kebun karet, rotan dan hutan yang dikelola bersama warga hancur, sawit akan lebih mudah masuk. Itu sangat tidak adil, sebab perusahaan datang ditengah warga yang belum pulih dari bencana.

“Jika pemerintah tak mengeluarkan kebijakan yang mampu melindungi lahan dan hutan kelola rakyat, dalam lima tahun kedepan. Disepanjang DAS Kapuas kita akan menyaksikan pemandangan tunggal, yakni hamparan kebun sawit”. Terang Muliadi.

Pernyataannya itu bukan tanpa dasar. Sekarang ini tercatat ada 32 konsesi sawit telah diberi izin untuk mengkavling lahan yang luasnya hampir mencapai 250.000 ha. Konsesinya  tersebar dalam wilayah administrasi 17 kecamatan  di Kabupaten Kapuas, menghampar di kiri – kanan, dari hulu hingga hilir DAS. Meski sebagian besar izin itu operasional telah dicabut, dilapangan mereka masih beraktivitas normal tanpa gangguan.

Ironsinya, selama terjadi kebakaran, sejauh ini baru satu perusahaan sawit di Kapuas terjerat hukum. Yakni PT Makmur Bersama Asia. Padahal bebagai laporan menyebut, perusahaan-perusahaan sawit yang bernaung dalam dua grup besar itu diduga kuat melakukan pembakaran untuk perluasan lahan. Hasil reses salah satu Anggota DPRD Provinsi Kalteng, Punding H Balkan mengaku menerima laporan dari masyarakat Dadahup dan Mantangai, bahwa kebun karet mereka terbakar disebabkan oleh api yang berasal dari konsesi sawit PT GAL dan PT LAK.

Selain itu, laporan lain menyebut bahwa perusahaan sawit PT Usaha Handalan Perkasa telah menurunkan sejumlah alat berat di lokasi perbatasan antara Desa Katimpun dan Sei Ahas, mereka bersiap membangun kanal di bekas lahan yang terbakar. Meski kala itu hujan baru berlangsung selama dua hari, namun dalam tempo singkat perusahaan telah lakukan ekspansi sawitnya. Itu hanya salah satu contoh, dari sekian modus perusahaan demi mendapat lahan.

Ironsinya, hingga kini pemerintah belum mengumumkan nama-nama perusahaan pembakar lahan. Bupati Kabupaten Kapuas, Ben Ibrahim baru menyebut bahwa kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 20.000 ha dan sebanyak 2566 warga terkena ISPA. Meski kondisi lapangan dimungkinkan angkanya lebih tinggi dari itu. Padahal warga sangat menunggu tindakan tegas pemerintah kepada perusahaan pelaku pembakaran yang telah menghilangkan sumber-sumber penghidupan mereka.

AP, Nop 2015

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Setelah kebun karet, rotan dan hutan yang dikelola bersama warga hancur terbakar, perusahaan sawit akan lebih mudah masuk. Itu sangat tidak adil, sebab perusahaan datang ditengah kepanikan sosial. Pembakaran, adalah salah satu upaya perusahaan untuk memperlancar perampasan lahan dan hutan yang dipertahankan rakyat”. 

    Kabut asap perlahan telah berlalu. Meski belum merata, selama sepekan ini hujan mulai mengguyur wilayah Kalimantan Tengah, jarak pandang pun berangsur normal. Di sungai-sungai dan jalan perkampungan telah diramaikan orang yang berlalu lalang pergi menengok ladang. Warga kembali leluasa  menjalankan aktivitas kesehariannya.

    Kondisi itu belum menggambarkan bahwa bencana asap telah berlalu. Jika dalam satu bulan terakhir ini hutan dan kebun-kebun rakyat nyaris tak terlihat diselimuti asap, kini setelah asap hilang, dengan mata telanjang dapat disaksikan, puluhan ribu hektar pohon karet, jelutung, galam, rotan dan hutan yang dimanfaatkan rakyat secara kolektif , sebagian besar telah menghitam terbakar api. Pemandangan itu menjadi luka baru, bagi warga yang selama ini berjuang mempertahankan lahan dan hutan yang mereka kelola bersama selama bertahun-tahun.

    Diantaranya, luka itu tergambar jelas di mata Basri H Darun, salah satu warga Mantangai Kabupaten Kapuas. Tak lama  setelah hujan turun, tepatnya Rabu pagi pekan lalu. Ia dapat lebih jelas melihat kehancuran kebun karetnya. Bapak empat anak ini berusaha tenang, sebelum akhirnya  bergegas ke komplek kecamatan, menuju  kantor  Credit Union (CU) untuk meminjam modal.

    “Setelah memastikan pohon karet saya tak bisa lagi disadap,terpaksa  saya pinjam uang ke CU. Saya tak punya penghasilan, kebun karet yang biasa jadi andalan kini sudah habis terbakar. Belum terhitung kerugiannya berapa ”. katanya.

    Basri, yang kesehariannya bertani dan dipercaya memimpin Serikat Tani Magantang Tarung itu  mengungkap,  banyak warga dan anggota serikat tani kehilangan kebun dan tak memiliki modal cukup untuk merehabilitasi kebun karet serta menghadapi musim tanam padi gunung tahun ini. Menyikapi kekhawatirannya itu, rencananya ia akan melakukan musyawarah anggota, mencari solusi terbaik supaya warga tetap mempertahankan kebun dan berladang meski dalam kondisi terpuruk.

    “Saya khawatir para petani beralih profesi menjadi buruh sawit atau menambang emas di kawasan hulu. Itu sudah kejadian, karena di kampung tak ada lagi sumber matapencaharian. Sekarang ini, kita hanya bisa saling menguatkan”.

    Ia katakan, jika warga tak memiliki akses kredit ke lembaga keuangan untuk meminjam modal, kemungkinan mereka akan menggadaikan tanah bahkan menjualnya kepada investor sawit. Kalau hal itu dibiarkan, dimasa depan warga akan dihadapkan dengan situasi jauh lebih sulit.

    Direktur Yayasan Petak Danum, Muliadi, membenarkan hal itu. Bencana kebakaran tahun ini tercatat  sebagai bencana terburuk sepanjang sejarah kebakaran lahan gambut di kawasan eks PLG. Masifnya kehancuran  sumber-sumber penting penopang kehidupan warga yang bermukim di DAS Kapuas seperti kecamatan Basarang, Mantangai, Dadahup, Kapuas Murung, Timpah dan Kapuas Barat, dikhawatirkan menjadi memicu peningkatan luasan perkebunan sawit di wilayah ini.

    Menurutnya, setelah kebun karet, rotan dan hutan yang dikelola bersama warga hancur, sawit akan lebih mudah masuk. Itu sangat tidak adil, sebab perusahaan datang ditengah warga yang belum pulih dari bencana.

    “Jika pemerintah tak mengeluarkan kebijakan yang mampu melindungi lahan dan hutan kelola rakyat, dalam lima tahun kedepan. Disepanjang DAS Kapuas kita akan menyaksikan pemandangan tunggal, yakni hamparan kebun sawit”. Terang Muliadi.

    Pernyataannya itu bukan tanpa dasar. Sekarang ini tercatat ada 32 konsesi sawit telah diberi izin untuk mengkavling lahan yang luasnya hampir mencapai 250.000 ha. Konsesinya  tersebar dalam wilayah administrasi 17 kecamatan  di Kabupaten Kapuas, menghampar di kiri – kanan, dari hulu hingga hilir DAS. Meski sebagian besar izin itu operasional telah dicabut, dilapangan mereka masih beraktivitas normal tanpa gangguan.

    Ironsinya, selama terjadi kebakaran, sejauh ini baru satu perusahaan sawit di Kapuas terjerat hukum. Yakni PT Makmur Bersama Asia. Padahal bebagai laporan menyebut, perusahaan-perusahaan sawit yang bernaung dalam dua grup besar itu diduga kuat melakukan pembakaran untuk perluasan lahan. Hasil reses salah satu Anggota DPRD Provinsi Kalteng, Punding H Balkan mengaku menerima laporan dari masyarakat Dadahup dan Mantangai, bahwa kebun karet mereka terbakar disebabkan oleh api yang berasal dari konsesi sawit PT GAL dan PT LAK.

    Selain itu, laporan lain menyebut bahwa perusahaan sawit PT Usaha Handalan Perkasa telah menurunkan sejumlah alat berat di lokasi perbatasan antara Desa Katimpun dan Sei Ahas, mereka bersiap membangun kanal di bekas lahan yang terbakar. Meski kala itu hujan baru berlangsung selama dua hari, namun dalam tempo singkat perusahaan telah lakukan ekspansi sawitnya. Itu hanya salah satu contoh, dari sekian modus perusahaan demi mendapat lahan.

    Ironsinya, hingga kini pemerintah belum mengumumkan nama-nama perusahaan pembakar lahan. Bupati Kabupaten Kapuas, Ben Ibrahim baru menyebut bahwa kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 20.000 ha dan sebanyak 2566 warga terkena ISPA. Meski kondisi lapangan dimungkinkan angkanya lebih tinggi dari itu. Padahal warga sangat menunggu tindakan tegas pemerintah kepada perusahaan pelaku pembakaran yang telah menghilangkan sumber-sumber penghidupan mereka.

    AP, Nop 2015

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on