Oleh : Wiyanto | Senin, 16 November 2015 | 14:23 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Para pemangku kepentingan di Indonesia didorong untuk membangun komunikasi bersama untuk memastikan sumber daya gambut bisa dikelola secara berkelanjutan melalui pemadatan dan tata kelola air (water management).

Lulie Melling, Director of Tropical Peat Research Laboratory Unit (TPRL) Malaysia mengatakan, komunikasi yang baik akan membangun kesadaran publik sekaligus meluruskan asumsi yang keliru tentang pemanfaatan lahan dan kebakaran gambut.

Seharusnya, ada lebih banyak komunikasi bersama. Contoh mengenai perbandingan antara gambut yang terkelola dengan gambut yang tidak terkelola (unmanaged) mungkin kurang dikomunikasikan dengan baik.

“Hal ini mengakibatkan persepsi yang keliru, berulang dan tanpa penyelesaian mengenai pemanfaatan gambut di tengah masyarakat,” kata Melling yang merupakan pakar gambut internasional, Senin (16/11/2015).

Di Malaysia, lanjut dia, gambut bisa dikelola dengan baik sehingga sulit terbakar. Melling mengungkapkan, di Sarawak terdapat 1,6 juta hektar lahan gambut atau 13 persen dari luas daratan. Sarawak yang merupakan kawasan gambut terbesar di Malaysia, dapat terhindar dari kebakaran karena mempunyai teknologi pemadatan dan tata kelola air yang baik.

“Persoalan kebakaran seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah, tidak terjadi di Sarawak karena ada kesadaran bersama mengenai pentingnya menerapkan teknologi tata kelola air mulai dari petani kecil hingga korporasi besar,” ucapnya.

Menurut Melling, kesadaran mengenai pentingnya teknologi itu seharusnya dikomunikasikan akademisi kepada para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pengambil keputusan industri dan pekerja. “Kami melakukan banyak sosialiasi kajian ilmiah tentang cara pengelolaan gambut melalui lokakarya, pertemuan dan konferensi internasional sejak 2007,” papar dia.

Melling juga mengingatkan, rencana Presiden Indonesia Joko Widodo untuk membangun kanal besar di kawasan lahan gambut. Sebab, hal itu tidak efektif karena kegiatan itu tidak memiliki satu unsur penting yakni pemadatan. “Tanpa pemadatan, api gambut akan masih terjadi. Pemadatan adalah penting untuk menjaga kebakaran gambut,” timpal Melling.

Sementara itu, Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Supiandi Sahibam mengungkapkan, Indonesia perlu merujuk kepada Malaysia dalam pengelolaan gambut. Di Malaysia, khususnya Sarawak sebagian kawasan yang dipakai untuk perkebunan berada di kawasan gambut. “Mereka mampu mengelola kawasan gambut dengan baik karena menerapkan water management,” kata Supiandi.

Supiandi juga merekomendasikan, kawasan gambut terutama gambut terdegradasi sebaiknya dikelola untuk kegiatan produktif agar tidak semakin rusak. “Tata kelola air yang baik mampu mempertahankan kelembaban lahan gambut serta menjaga cadangan air yang ada” tuturnya.

Saat ini, dari 15 juta hektare gambut di Indonesia, sekitar 4 juta terpakai untuk kegiatan produksi, 4 juta lagi terdegradasi, 2 juta masih berupa semak belukar dan sisanya hutan.

Supiandi juga menyatakan, pembatasan muka air gambut 0,4 meter tidak berkorelasi dengan upaya penurunan emisi karbon. “Emisi karbon pada lahan gambut dengan muka air pada rentang 0,4-0,7 meter tidak memiliki perbedaan secara nyata,” imbuhnya. [jin]

Sumber:

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2252858/di-malaysia-tak-ada-gambut-terbakar

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh : Wiyanto | Senin, 16 November 2015 | 14:23 WIB

    INILAHCOM, Jakarta – Para pemangku kepentingan di Indonesia didorong untuk membangun komunikasi bersama untuk memastikan sumber daya gambut bisa dikelola secara berkelanjutan melalui pemadatan dan tata kelola air (water management).

    Lulie Melling, Director of Tropical Peat Research Laboratory Unit (TPRL) Malaysia mengatakan, komunikasi yang baik akan membangun kesadaran publik sekaligus meluruskan asumsi yang keliru tentang pemanfaatan lahan dan kebakaran gambut.

    Seharusnya, ada lebih banyak komunikasi bersama. Contoh mengenai perbandingan antara gambut yang terkelola dengan gambut yang tidak terkelola (unmanaged) mungkin kurang dikomunikasikan dengan baik.

    “Hal ini mengakibatkan persepsi yang keliru, berulang dan tanpa penyelesaian mengenai pemanfaatan gambut di tengah masyarakat,” kata Melling yang merupakan pakar gambut internasional, Senin (16/11/2015).

    Di Malaysia, lanjut dia, gambut bisa dikelola dengan baik sehingga sulit terbakar. Melling mengungkapkan, di Sarawak terdapat 1,6 juta hektar lahan gambut atau 13 persen dari luas daratan. Sarawak yang merupakan kawasan gambut terbesar di Malaysia, dapat terhindar dari kebakaran karena mempunyai teknologi pemadatan dan tata kelola air yang baik.

    “Persoalan kebakaran seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah, tidak terjadi di Sarawak karena ada kesadaran bersama mengenai pentingnya menerapkan teknologi tata kelola air mulai dari petani kecil hingga korporasi besar,” ucapnya.

    Menurut Melling, kesadaran mengenai pentingnya teknologi itu seharusnya dikomunikasikan akademisi kepada para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pengambil keputusan industri dan pekerja. “Kami melakukan banyak sosialiasi kajian ilmiah tentang cara pengelolaan gambut melalui lokakarya, pertemuan dan konferensi internasional sejak 2007,” papar dia.

    Melling juga mengingatkan, rencana Presiden Indonesia Joko Widodo untuk membangun kanal besar di kawasan lahan gambut. Sebab, hal itu tidak efektif karena kegiatan itu tidak memiliki satu unsur penting yakni pemadatan. “Tanpa pemadatan, api gambut akan masih terjadi. Pemadatan adalah penting untuk menjaga kebakaran gambut,” timpal Melling.

    Sementara itu, Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Supiandi Sahibam mengungkapkan, Indonesia perlu merujuk kepada Malaysia dalam pengelolaan gambut. Di Malaysia, khususnya Sarawak sebagian kawasan yang dipakai untuk perkebunan berada di kawasan gambut. “Mereka mampu mengelola kawasan gambut dengan baik karena menerapkan water management,” kata Supiandi.

    Supiandi juga merekomendasikan, kawasan gambut terutama gambut terdegradasi sebaiknya dikelola untuk kegiatan produktif agar tidak semakin rusak. “Tata kelola air yang baik mampu mempertahankan kelembaban lahan gambut serta menjaga cadangan air yang ada” tuturnya.

    Saat ini, dari 15 juta hektare gambut di Indonesia, sekitar 4 juta terpakai untuk kegiatan produksi, 4 juta lagi terdegradasi, 2 juta masih berupa semak belukar dan sisanya hutan.

    Supiandi juga menyatakan, pembatasan muka air gambut 0,4 meter tidak berkorelasi dengan upaya penurunan emisi karbon. “Emisi karbon pada lahan gambut dengan muka air pada rentang 0,4-0,7 meter tidak memiliki perbedaan secara nyata,” imbuhnya. [jin]

    Sumber:

    http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2252858/di-malaysia-tak-ada-gambut-terbakar

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on