Nov 12, 2015

Sorong, Jubi – Dalam tatap muka dengan DPRD setempat, Rabu (11/11/2015), tokoh perempuan suku Maya, Ludia Metansan meminta para wakil rakyat untuk memerintahkan PT. Klanafat agar segera menghentikan mega proyek itu, sebab berpotensi merugikan pemilik ulayat.

Pelarangan itu juga merupakan buntut adanya dugaan masyarakat bahwa perusahaan itu sebagai pemicu kerusakan lingkutan dan hutan di kawasan Waigeo.

“Kami minta supaya proyek itu segera dihentikan, kami pemilik ulayat saja tidak pernah dikoordinasi,” ka Ludia.

Sedangkan Anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat dari partai Hanura, Charles Imbir mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti aspirasi masyarakat aspirasi masyarakat adat tersebut dengan meninjau jalannya proyek tersebut.

“Kami sangat sayangkan jika proyek ini belum mendapat restu masyarakat adat. Perusahaan juga jangan semena-mena melakukan pekerjaan tapa meminta izin masyarakat sebagai pemilik ulayat,” kata Charles.

Proyek jalan lingkar Waigeo meliputi ruas Waisai-Warsambin-Lopintol, ruas Lopintol-Wawiyai, ruas Wawiyai-Kabilol, ruas Waisai-Sapokren-Wawiyai-Waisilip-Saleo-Selpele, ruas Kalitoko-Waifoi-Kopadiri-Kabare, ruas Kabilol-Go-Kopadiri, ruas Kabare-Warmandi-Mnir-Puper-Yenbebaki-Urbinasopen-Yenzner-Mumes sepanjang, serta ruas Yenzner-Kalitoko. Ruas yang sudah mulai dibangun yaitu Waisai-Warsambin-Lopintol dan ruas Urbinasopen-Yesner.

Seperti dilansir ekuatorial.com, berdasarkan data fauna dan flora international, lebih dari 2.000 hektare hutan pulau Waigeo mengalami kerusakan dalam kurun 10 tahun terakhir. Padahal 80 persen kawasan hutan di pulau tersebut tergolong cagar alam. Sejumlah ruas jalan ikut membelah wilayah cagar di Waigeo Timur dan Waigeo Barat.

“Deforestasi di Waigeo sangat mengancam keanekaragaman hayati di dua kawasan cagar alam tersebut. Terutama mengancam fauna endemik seperti Kuskus, Maleo waigeo, dan cendrawasih,” jelas Koordinator Program FFI Raja Ampat, Fitria Rinawat seperti ditulis ekuatorial.com. (Niko MB)

Editor : Timoteus Marten

Sumber :

http://tabloidjubi.com/2015/11/12/masyarakat-adat-tolak-pembangunan-jalan-lingkar-di-raja-ampat/

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Nov 12, 2015

    Sorong, Jubi – Dalam tatap muka dengan DPRD setempat, Rabu (11/11/2015), tokoh perempuan suku Maya, Ludia Metansan meminta para wakil rakyat untuk memerintahkan PT. Klanafat agar segera menghentikan mega proyek itu, sebab berpotensi merugikan pemilik ulayat.

    Pelarangan itu juga merupakan buntut adanya dugaan masyarakat bahwa perusahaan itu sebagai pemicu kerusakan lingkutan dan hutan di kawasan Waigeo.

    “Kami minta supaya proyek itu segera dihentikan, kami pemilik ulayat saja tidak pernah dikoordinasi,” ka Ludia.

    Sedangkan Anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat dari partai Hanura, Charles Imbir mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti aspirasi masyarakat aspirasi masyarakat adat tersebut dengan meninjau jalannya proyek tersebut.

    “Kami sangat sayangkan jika proyek ini belum mendapat restu masyarakat adat. Perusahaan juga jangan semena-mena melakukan pekerjaan tapa meminta izin masyarakat sebagai pemilik ulayat,” kata Charles.

    Proyek jalan lingkar Waigeo meliputi ruas Waisai-Warsambin-Lopintol, ruas Lopintol-Wawiyai, ruas Wawiyai-Kabilol, ruas Waisai-Sapokren-Wawiyai-Waisilip-Saleo-Selpele, ruas Kalitoko-Waifoi-Kopadiri-Kabare, ruas Kabilol-Go-Kopadiri, ruas Kabare-Warmandi-Mnir-Puper-Yenbebaki-Urbinasopen-Yenzner-Mumes sepanjang, serta ruas Yenzner-Kalitoko. Ruas yang sudah mulai dibangun yaitu Waisai-Warsambin-Lopintol dan ruas Urbinasopen-Yesner.

    Seperti dilansir ekuatorial.com, berdasarkan data fauna dan flora international, lebih dari 2.000 hektare hutan pulau Waigeo mengalami kerusakan dalam kurun 10 tahun terakhir. Padahal 80 persen kawasan hutan di pulau tersebut tergolong cagar alam. Sejumlah ruas jalan ikut membelah wilayah cagar di Waigeo Timur dan Waigeo Barat.

    “Deforestasi di Waigeo sangat mengancam keanekaragaman hayati di dua kawasan cagar alam tersebut. Terutama mengancam fauna endemik seperti Kuskus, Maleo waigeo, dan cendrawasih,” jelas Koordinator Program FFI Raja Ampat, Fitria Rinawat seperti ditulis ekuatorial.com. (Niko MB)

    Editor : Timoteus Marten

    Sumber :

    http://tabloidjubi.com/2015/11/12/masyarakat-adat-tolak-pembangunan-jalan-lingkar-di-raja-ampat/

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on