Cetak | 27 November 2015

JAYAPURA, KOMPAS — Sejumlah petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Sorong, Papua Barat, diduga beberapa kali menerima uang suap dari terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan kayu, Labora Sitorus. Uang tersebut diterima dari Labora saat mereka berkunjung ke rumah Labora.

Pemberian uang kepada oknum petugas Lapas Sorong diungkap Freddy Fakdawer, salah seorang juru bicara Labora, kepada Kompas saat dihubungi dari Jayapura, Kamis (26/11).

Pemberian uang tersebut diduga terkait dengan posisi Labora yang sejak delapan bulan lalu (sejak April 2015) hingga kini tidak menjalani masa hukuman di Lapas Sorong. Padahal, seharusnya Labora menjalani masa hukuman setelah kejaksaan mengeksekusi putusan kasasi Mahkamah Agung pada 17 September 2014 yang menghukum Labora 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar.

Sejak putusan MA dieksekusi pada 20 Februari 2015, Labora hanya menjalani masa tahanan sekitar seminggu di Lapas Sorong. Setelah itu, karena sakit, dia berada di luar lapas dan dirawat di Rumah Sakit Pertamina Sorong selama sepekan. Seusai perawatan di rumah sakit, Labora tidak kembali ke lapas, tetapi justru pulang ke rumah hingga saat ini.

Menurut Freddy, ada delapan petugas Lapas Sorong yang menerima uang dari Labora saat berkunjung ke rumah Labora di kawasan Tampa Garam, Kelurahan Rufei, Kota Sorong.

“Setiap kali berkunjung, kami sering memberikan uang dengan kisaran Rp 10 juta-Rp 20 juta. Seluruh bukti pemberian uang tercatat di laporan keuangan kami,” katanya.

Freddy juga mengungkapkan, jika ada kunjungan pejabat dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua Barat ke Lapas Sorong, petugas lapas setempat akan memindahkan Labora ke rumah sakit. Namun, setelah pejabat itu pulang, Labora kembali ke rumahnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Lapas Sorong Maliki membantah tuduhan Freddy mengenai adanya petugas lapas yang menerima uang dari Labora. Ia mengakui, sejumlah petugas memang sering berkunjung ke Tampa Garam untuk mengecek kondisi kesehatan Labora. Namun, hal itu dilakukan untuk pengawasan terhadap Labora yang saat ini menderita stroke ringan. “Apabila kondisi kesehatan Labora membaik, kami akan memasukkannya kembali ke lapas,” ujar Maliki.

Maliki pun membantah pihaknya telah mengelabui pejabat dari Kemenkumham Papua Barat. Menurut dia, Kepala Kanwil Kemenkumham Papua Barat Agus Soekono juga mengetahui posisi Labora di luar lapas selama ini.

“Beliau memerintahkan saya agar tetap mengawasi Labora di rumahnya. Selain itu, saya terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian apabila proses penjemputan Labora mendapatkan halangan dari pihak keluarga dan para karyawannya di PT Rotua,” kata Maliki.

Direktur Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Bantuan Hukum Manokwari Yan Christian Warinussy mendesak Kemenkumham segera mengusut informasi mengenai dugaan petugas lapas yang menerima sejumlah uang dari Labora.

Laporkan secara resmi

Dihubungi di Jakarta, Kamis malam, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menegaskan, jika benar ada petugas lapas yang menerima uang, dia meminta hal tersebut segera dilaporkan resmi ke Kanwil Kemenkumham Papua Barat agar segera ditindaklanjuti.

“Supaya tidak ada fitnah, kami minta kirim surat resmi, kepada saya juga boleh. Nanti kami proses dan menurunkan tim. Kalau benar ada petugas lapas yang menerima uang dari Labora, pasti akan diberikan sanksi berat,” tegas Yasonna. (flo/son)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 November 2015, di halaman 3 dengan judul “Petugas Lapas Sorong Diduga Terima Uang dari Labora”.

http://print.kompas.com/baca/2015/11/27/Petugas-Lapas-Sorong-Diduga-Terima-Uang-dari-Labor

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Cetak | 27 November 2015

    JAYAPURA, KOMPAS — Sejumlah petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Sorong, Papua Barat, diduga beberapa kali menerima uang suap dari terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan kayu, Labora Sitorus. Uang tersebut diterima dari Labora saat mereka berkunjung ke rumah Labora.

    Pemberian uang kepada oknum petugas Lapas Sorong diungkap Freddy Fakdawer, salah seorang juru bicara Labora, kepada Kompas saat dihubungi dari Jayapura, Kamis (26/11).

    Pemberian uang tersebut diduga terkait dengan posisi Labora yang sejak delapan bulan lalu (sejak April 2015) hingga kini tidak menjalani masa hukuman di Lapas Sorong. Padahal, seharusnya Labora menjalani masa hukuman setelah kejaksaan mengeksekusi putusan kasasi Mahkamah Agung pada 17 September 2014 yang menghukum Labora 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar.

    Sejak putusan MA dieksekusi pada 20 Februari 2015, Labora hanya menjalani masa tahanan sekitar seminggu di Lapas Sorong. Setelah itu, karena sakit, dia berada di luar lapas dan dirawat di Rumah Sakit Pertamina Sorong selama sepekan. Seusai perawatan di rumah sakit, Labora tidak kembali ke lapas, tetapi justru pulang ke rumah hingga saat ini.

    Menurut Freddy, ada delapan petugas Lapas Sorong yang menerima uang dari Labora saat berkunjung ke rumah Labora di kawasan Tampa Garam, Kelurahan Rufei, Kota Sorong.

    “Setiap kali berkunjung, kami sering memberikan uang dengan kisaran Rp 10 juta-Rp 20 juta. Seluruh bukti pemberian uang tercatat di laporan keuangan kami,” katanya.

    Freddy juga mengungkapkan, jika ada kunjungan pejabat dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua Barat ke Lapas Sorong, petugas lapas setempat akan memindahkan Labora ke rumah sakit. Namun, setelah pejabat itu pulang, Labora kembali ke rumahnya.

    Dihubungi terpisah, Kepala Lapas Sorong Maliki membantah tuduhan Freddy mengenai adanya petugas lapas yang menerima uang dari Labora. Ia mengakui, sejumlah petugas memang sering berkunjung ke Tampa Garam untuk mengecek kondisi kesehatan Labora. Namun, hal itu dilakukan untuk pengawasan terhadap Labora yang saat ini menderita stroke ringan. “Apabila kondisi kesehatan Labora membaik, kami akan memasukkannya kembali ke lapas,” ujar Maliki.

    Maliki pun membantah pihaknya telah mengelabui pejabat dari Kemenkumham Papua Barat. Menurut dia, Kepala Kanwil Kemenkumham Papua Barat Agus Soekono juga mengetahui posisi Labora di luar lapas selama ini.

    “Beliau memerintahkan saya agar tetap mengawasi Labora di rumahnya. Selain itu, saya terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian apabila proses penjemputan Labora mendapatkan halangan dari pihak keluarga dan para karyawannya di PT Rotua,” kata Maliki.

    Direktur Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Bantuan Hukum Manokwari Yan Christian Warinussy mendesak Kemenkumham segera mengusut informasi mengenai dugaan petugas lapas yang menerima sejumlah uang dari Labora.

    Laporkan secara resmi

    Dihubungi di Jakarta, Kamis malam, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menegaskan, jika benar ada petugas lapas yang menerima uang, dia meminta hal tersebut segera dilaporkan resmi ke Kanwil Kemenkumham Papua Barat agar segera ditindaklanjuti.

    “Supaya tidak ada fitnah, kami minta kirim surat resmi, kepada saya juga boleh. Nanti kami proses dan menurunkan tim. Kalau benar ada petugas lapas yang menerima uang dari Labora, pasti akan diberikan sanksi berat,” tegas Yasonna. (flo/son)

    Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 November 2015, di halaman 3 dengan judul “Petugas Lapas Sorong Diduga Terima Uang dari Labora”.

    http://print.kompas.com/baca/2015/11/27/Petugas-Lapas-Sorong-Diduga-Terima-Uang-dari-Labor

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on