Potret Kebakaran Hutan dan Lahan di Merauke

0
526

Pada akhir Oktober 2015, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia, tercatat ada sekitar 2.742 titik api tersebar dibeberapa daerah. Papua berada diurutan pertama sebanyak 744 titik api, menyusul Sumatera Selatan 703 titik api dan Kalimantan Tengah 462 titik api. Sebagian besar titik api di Papua berada didaerah selatan di Merauke.

Hasil penelusuran kami dilapangan, utamanya kampung-kampung dipedalaman yang sedang menjadi pusat pengembangan perkebunan kelapa sawit, tebu dan hutan tanaman industri, ditemukan titik api berada dilokasi konsesi perusahaan dan bahkan membakar tanaman kelapa sawit yang sudah tumbuh.

Menurut informasi dan pengamatan warga sekitar lokasi perkebunan yang terbakar, diduga perusahaan melakukan pembakaran lahan dan hutan. Pola pertama untuk lahan-lahan yang sudah jelas statusnya, operator perusahaan melakukan kegiatan pembongkaran hutan dan penebangan kayu, penggusuran dan penumpukan kayu pada jalur kebun, lalu dibakar. Pola kedua untuk lahan-lahan yang kurang jelas status penyelesaian hak atas tanahnya dan masih berkonflik dengan warga setempat, hutan dibongkar dengan buldoser dan penebangan kayu, lalu dibakar tanpa diketahui dan dibiarkan. Pola kedua ini seolah-olah untuk menurunkan nilai hasil hutan dilokasi setelah terbakar.

Presiden Joko Widodo telah  berkomitmen dan menugaskan Menteri ATR/Kepala BPN untuk melakukan tindakan hukum sangsi dan pencegahan berkaitan dengan kebakaran lahan. Pertama, kebijakan menghentikan seluruh proses permohonan HGU baik yang baru maupun perpanjangan jika lahannya terbakar. Kedua, kebijakan sangsi dengan mengeluarkan lahan yang terbakar dari areal HGU yang diberikan. Ketiga, jika areal HGU terbakar lebih dari 40 persen, maka izin HGU-nya akan dibekukan. Sedangkan berkaitan dengan langkah preventif, maka seluruh pemegang izin HGU diwajibkan untuk memasang perlengkapan sensorik panas/asap sebagai langkah awal pemadaman dan pada setiap luassan 10 hektar pemegang HGU wajib menyediakan perlengkapan pemadaman api. Kedua kebijakan preventif ini akan diterapkan mulai awal 2016 baik yang sudah memegang HGU maupun bagi HGU baru.

Dilapangan Merauke, petugas Bareskrim Polres Merauke sudah melakukan pemeriksaan meminta keterangan warga. Tidak tahu sejauh mana tindakan penegakan hukum bagi perusahaan yang lahan-lahannya terjadi kebakaran. Faktanya, beberapa lahan perusahaan perkebunan kelapa sawit, tebu dan program lahan sawah baru, masih terdapat asap dan bara sisa kebakaran, antara lain: lokasi perkebunan kelapa sawit PT. Bio Into Agrindo di Distrik Ulilin, PT. Agriprima Cipta Persadan dan PT. Agro Persada Mulia di Muting, perkebunan tebu PT. Global Papua Abadi di Distrik Jagebob dan proyek perluasan lahan sawah di Senayu.

Potret kebakaran hutan dan lahan dilokasi perusahaan tersebut yang terjadi pada bulan September, Oktober dan awal November, dapat dilihat disini: http://pusaka.or.id/potret-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-merauke/

Ank, Nov 2015