Sebelum Dilepas ke Habitat, Kakatua Jambul Kuning Jalani Tes DNA

Home/Publikasi/Sebelum Dilepas ke Habitat, Kakatua Jambul Kuning Jalani Tes DNA

Rabu 25 Nov 2015, 05:20 WIB

#SaveSiJambulKuning

Nur Khafifah – detikNews

Jayapura – Selama membuka posko pengembalian burung Kakatua Jambul Kuning, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup telah menerima 164 ekor burung. Burung-burung tersebut diserahkan secara sukarela oleh warga untuk kemudian dilepas di habitat asalnya.

Ketua Posko Save Si Jambul Kuning, drh Indra Exploitasia menjelaskan, dari 164 ekor burung yang diterimanya, tidak seluruhnya merupakan Kakatua Jambul Kuning. Namun ada juga burung Merak, Cenderawasih, Rangkong dan Jalak.

Hari ini, 19 Kakatua Jambul Kuning dan 2 Kakatua Raja dibawa ke Jayapura, Papua untuk dikembalikan ke habitat asalnya. Burung-burung cantik itu telah dites darah dan hasilnya menunjukkan bahwa habitat asal mereka adalah Papua.

“Jadi sebelum dibawa ke sini sudah dites DNA dulu. Karena nggak semua Jambul Kuning berasal dari Papua,” ujar Indra di tempat penangkaran sementara, Bumi Perkemahan Cenderawasih, Papua, Selasa (24/11/2015).

Sebelum dibawa ke Papua, burung-burung tersebut di karantina selama sekitar 5 bulan di beberapa tempat di Jakarta, seperti Kebun Binatang Ragunan, Taman Safari, TMII dan Tegal Alur. Selama di karantina, burung-burung ini dilatih agar siap dilepasliarkan kembali.

Sebab selama dipelihara oleh warga, burung Kakatua menjadi jinak. Makanan yang dikonsumsi juga banyak yang menyesuaikan dengan manusia. Bahkan ada salah satu burung yang hanya mau mengkonsumsi martabak.

“Di karantina, sifat wildernes-nya dikembalikan lagi karena pada dasarnya mereka adalah binatang liar,” ujar Indra.

Sebelum dibawa ke Jayapura, kata Indra, LIPI sudah melakukan kajian habitat. Dari 110 burung yang diterima di Posko Save Si Jambul Kuning dari kawasan Jabodetabek, ada 32 ekor yang sudah hard release atau siap untuk dilepasliarkan. Selain itu ada 39 ekor yang masih soft release.

“Yang soft release ini masih butuh banyak penyesuaian lagi. Kira-kira bisa 6 bulan-1 tahun,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai Kasubdit Sumber Daya Genetik Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup ini.

Selain dites DNA, burung-burung ini juga sudah dicek kesehatannya. Hanya burung yang terbebas dari penyakit yang dapat dilepasliarkan.

“Jangan sampai kita melepas ke alamnya tapi malah nambah penyakit di sana,” ujarnya.

Gerakan #SaveSiJambulKuning ini awalnya muncul setelah ramainya pemberitaan terkait aksi jual beli kakatua jambul kuning. Tragisnya, burung cantik itu diperdagangkan dengan cara dimasukkan dalam botol air mineral. Tak jarang burung yang mati dalam perjalanan.

Pihak Kemenhut akhirnya menyambut baik gagasan #SaveSiJambulKuning dan akhirnya bergerak dengan menampung kakatua jambul kuning yang sebelumnya dipelihara masyarakat. Untuk wilayah Jabodetabek saja ada 110 ekor burung yang diterima dan tengah dalam proses dilepasliarkan..

(kff/Hbb)

https://news.detik.com/berita/3079792/sebelum-dilepas-ke-habitat-kakatua-jambul-kuning-jalani-tes-dna#

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

Berkomentar

Leave A Comment

Berita Terkait

Jelajahi berita lainnya:

BERITA LAINNYA