Investigasi Anak Meninggal Misterius di Papua Terganjal Medan

0
377
Foto : Agustinus Kambuaya bersama mama Petrosina Naa, seorang pengrajin Noken di Kampung Kambuaya, Kabupaten Maybrat, Tanah Papua
Foto : Agustinus Kambuaya bersama mama Petrosina Naa, seorang pengrajin Noken di Kampung Kambuaya, Kabupaten Maybrat, Tanah Papua

By Luqman Rimadi

on 01 Des 2015 at 19:03 WIB

Liputan6.com, Jakarta – Sebanyak 41 anak di bawah 7 tahun meninggal dunia secara misterius sepanjang November di Distrik Mbuwa, Kabupaten Nduga, Papua. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan pihaknya baru mendapatkan hasil laporan tim investigasi kasus tersebut pagi tadi.

“Hasil investigasi tentang berita kematian anak-anak di Mbuwa, Kabupaten Nduga, baru diterima tanggal 29 November dari Wamena. T‎im berjumlah 6 orang yang merupakan gabungan dari tim Crisis Center Dinkes Provinsi, Labkesda Papua, dan Balai Litbang Biomedis Papua-Badan Litbangkes,” ucap Nila di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, (1/12/2015).

Menurut Nila, tim yang diturunkan melakukan investigasi di 4 kampung di K‎ecamatan Mbuwa, Kabupaten Nduga. Keempat kampung tersebut adalah Kampung Opmo, Kampung Digilmo, Kampung Ottolama, dan Kampung Yerusalem.

Ia mengakui sulitnya medan menuju kampung tersebut cukup menghampat kerja tim. Terlebih suhu dingin yang membuat tim harus bersusah payah menuju kampung yang berada di wilayah pegunungan itu.

“Medan ke lokasi cukup berat dengan cuaca ekstrem, berkabut, hujan dengan suhu bisa mencapai 6 derajat Celsius. Perjalanan dari kampung ke kampung ditempuh 8 jam dengan berjalan kaki naik turun bukit,” ucap Nila. ‎

Hambatan lain yang harus dihadapi adalah kendala bahasa. Mayoritas warga di 4 kampung tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia.

“‎Masyarakatnya juga tidak dapat berbahasa Indonesia. Untuk itu, tim didampingi penterjemah dan tim satgas kaki telanjang Provinsi Papua,” ucap Nila. ‎

Terkait dengan hasil laporan tim investigasi, Nila mengakui laporan tersebut telah sampai kepada dirinya. Namun belum ada data-data pasti mengenai jumlah kematian balita yang dimaksud. ‎

“Memang betul ada kematian balita, tapi tidak ada data resmi angka kematian yang tercatat. Data kematian yang ada berasal dari informasi Pendeta yang merasa warganya sudah lama tidak hadir di gereja,” ucap Nila.

Ia memperkirakan 41 kematian balita terjadi dalam rentang waktu yang lama.

“D‎iperkirakan angka kematian merupakan kompilasi kematian dari bulan Juni sampai sekarang, dikonfirmasi ke rumah penduduk, kematian baita ada yang terjadi pada tahun lalu,” kata dia.

Dinas kesehatan setempat telah mengirimkan tim medis bantuan dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, untuk menolong pengobatan anak-anak di distrik tersebut.

Petugas analis Puskesmas Kota Wamena yang ikut serta ke Distrik Mbuwa, Yan Hubi, menyebutkan saat ini pihaknya sedang memeriksa sampel darah dari anak-anak yang meninggal dunia. Dugaan sementara, kematian anak-anak itu diduga akibat wabah malaria.

Sebab, gejala yang diderita para korban mirip dengan penderita malaria. Mereka mengalami flu, demam, dan buang air besar terus-menerus.

“Anehnya, sampel darah yang telah dilakukan uji laboratorium semuanya negatif akan virus malaria. Kami masih terus berusaha mencari tahu penyebab kematian ini,” tutur Yan Hubi ketika dihubungi Liputan6.com di Wamena, Senin, 23 November.

Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, pemerintah setempat masih menyiagakan sejumlah petugas medis di Distrik Mbuwa.**

http://news.liputan6.com/read/2379642/investigasi-anak-meninggal-misterius-di-papua-terganjal-medan