Oleh: Julian Howai

“…NOKEN MAYBRAT. Noken jenis ini dibuat dari serat kulit kayu yang berasal dari tumbuhan khusus yang dalam bahasa Maybrat disebut ‘Byik’ (bahasa Latin, Althoffia pliostigma) dan ‘Yukam’ (bahasa latin, Wilkstroemia venosa). Meski memiliki fungsi (kegunaan) yang umumnya sama, secara tipologi noken Maybrat memiliki ciri khas tersendiri dari tipe noken yang dimiliki oleh suku-suku asli Papua yang lain.

Bentuk Noken Maybrat pada bagian bawahnya yang berbentuk untaian serat kayu yang diberi pewarna alami, dibiarkan menjuntai seperti bulu burung Cenderawasih. Ukurannya bersifat statis dan tidak elastis seperti ‘Noken Wamena’ yang dibuat dari serat khusus sehingga memiliki sifat kelenturan terhadap bentuk dan ukuran barang yang dimasukan ke dalamnya.

Noken yang dianyam secara tradisi dari wilayah pesisir dan pegunungan tengah Papua (foto: suara pusaka)

Noken yang dianyam secara tradisi dari wilayah pesisir dan pegunungan tengah Papua (foto: suara pusaka)

Noken Maybrat sesuai bentuknya terdiri dari noken jenis kecil dan besar yang disesuaikan dengan fungsinya untuk menampung hasil kebun, buruan dan kayu bakar. Kadang dapat digunakan untuk menyimpan Kain Timor (bahasa Maybrat: Boo) yang dianggap sebagai harta warisan (pusaka) dan juga bernilai untuk pembayaran maskawin, penebusan masalah, penjalin hubungan kekerabatan, perdagangan dan lain-lain.

Di suatu kesempatan di Abepura (Jayapura) ketika berdiskusi kecil bersama saudara Titus Pekei (seorang peneliti ekologi dan pejuang Noken Papua sebagai warisan budaya dunia tak benda di UNESCO) dan Yayan Sofyan (seorang teman yang berprofesi sebagai guru biologi di Kota Jayapura dan juga pegiat lingkungan), saya mendapati suatu filosofi yang begitu mendalam tentang Noken.

BAHWA NOKEN itu ibarat Rahim Seorang Ibu (Mama): darinya ada kehidupan dan eksistensi untuk terus hidup dan tetap ada (lestari). Dari Rahim Noken-lah, seorang calon bibit penerus kehidupan manusia (janin) dapat dipelihara dengan baik selama 9 bulan hingga akhirnya dapat dilahirkan sebagai seorang manusia sejati ke dunia. Dari proses inilah eksistensi manusia tetap ada di dunia lewat Rahim Noken.

Mari terus kembangkan, jaga dan rawat Noken sebagai warisan corak produksi kebudayaan orang Papua bagi generasi sekarang dan mendatang. Sebab di dalam Noken juga terkandung makna filosofi untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam (lingkungan ekologi) dan eksistensi budaya Papua.

Sekilas, Perjuangan yang tak kenal lelah sejak 2008 dari Peneliti Ekologi dan Penggagas Noken Papua, Warisan Budaya Tak Benda, Titus Pekei, akhirnya tangal 4 Desember 2012, Pukul 09.00 waktu Prancis atau pukul 05.00 WIT, UNESCO menetapkan Noken Papua sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Sekarang, hari Noken se-dunia ini, Indonesia punya tujuh elemen yang diakui sebagai warisan budaya dunia. Enam elemen dari Indonesia yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012). Sedangkan yang baru saja ditetapkan adalah ditetapkannya Tari Bali sebagai warisa budaya oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) (2015).

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Oleh: Julian Howai

    “…NOKEN MAYBRAT. Noken jenis ini dibuat dari serat kulit kayu yang berasal dari tumbuhan khusus yang dalam bahasa Maybrat disebut ‘Byik’ (bahasa Latin, Althoffia pliostigma) dan ‘Yukam’ (bahasa latin, Wilkstroemia venosa). Meski memiliki fungsi (kegunaan) yang umumnya sama, secara tipologi noken Maybrat memiliki ciri khas tersendiri dari tipe noken yang dimiliki oleh suku-suku asli Papua yang lain.

    Bentuk Noken Maybrat pada bagian bawahnya yang berbentuk untaian serat kayu yang diberi pewarna alami, dibiarkan menjuntai seperti bulu burung Cenderawasih. Ukurannya bersifat statis dan tidak elastis seperti ‘Noken Wamena’ yang dibuat dari serat khusus sehingga memiliki sifat kelenturan terhadap bentuk dan ukuran barang yang dimasukan ke dalamnya.

    Noken yang dianyam secara tradisi dari wilayah pesisir dan pegunungan tengah Papua (foto: suara pusaka)

    Noken yang dianyam secara tradisi dari wilayah pesisir dan pegunungan tengah Papua (foto: suara pusaka)

    Noken Maybrat sesuai bentuknya terdiri dari noken jenis kecil dan besar yang disesuaikan dengan fungsinya untuk menampung hasil kebun, buruan dan kayu bakar. Kadang dapat digunakan untuk menyimpan Kain Timor (bahasa Maybrat: Boo) yang dianggap sebagai harta warisan (pusaka) dan juga bernilai untuk pembayaran maskawin, penebusan masalah, penjalin hubungan kekerabatan, perdagangan dan lain-lain.

    Di suatu kesempatan di Abepura (Jayapura) ketika berdiskusi kecil bersama saudara Titus Pekei (seorang peneliti ekologi dan pejuang Noken Papua sebagai warisan budaya dunia tak benda di UNESCO) dan Yayan Sofyan (seorang teman yang berprofesi sebagai guru biologi di Kota Jayapura dan juga pegiat lingkungan), saya mendapati suatu filosofi yang begitu mendalam tentang Noken.

    BAHWA NOKEN itu ibarat Rahim Seorang Ibu (Mama): darinya ada kehidupan dan eksistensi untuk terus hidup dan tetap ada (lestari). Dari Rahim Noken-lah, seorang calon bibit penerus kehidupan manusia (janin) dapat dipelihara dengan baik selama 9 bulan hingga akhirnya dapat dilahirkan sebagai seorang manusia sejati ke dunia. Dari proses inilah eksistensi manusia tetap ada di dunia lewat Rahim Noken.

    Mari terus kembangkan, jaga dan rawat Noken sebagai warisan corak produksi kebudayaan orang Papua bagi generasi sekarang dan mendatang. Sebab di dalam Noken juga terkandung makna filosofi untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam (lingkungan ekologi) dan eksistensi budaya Papua.

    Sekilas, Perjuangan yang tak kenal lelah sejak 2008 dari Peneliti Ekologi dan Penggagas Noken Papua, Warisan Budaya Tak Benda, Titus Pekei, akhirnya tangal 4 Desember 2012, Pukul 09.00 waktu Prancis atau pukul 05.00 WIT, UNESCO menetapkan Noken Papua sebagai salah satu warisan budaya dunia.

    Sekarang, hari Noken se-dunia ini, Indonesia punya tujuh elemen yang diakui sebagai warisan budaya dunia. Enam elemen dari Indonesia yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012). Sedangkan yang baru saja ditetapkan adalah ditetapkannya Tari Bali sebagai warisa budaya oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) (2015).

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on