Perlu Komitmen Kuat untuk Restorasi Lahan Gambut

Home/Publikasi/Perlu Komitmen Kuat untuk Restorasi Lahan Gambut

Rhama Purna Jati

Siang | 21 Desember 2015 14:04 WIB

PALEMBANG, KOMPAS — Langkah restorasi lahan gambut memerlukan keterlibatan semua pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga kalangan komunitas, bisnis, dan politisi. Diperlukan komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan sehingga kebakaran lahan gambut tidak lagi terulang.

KOMPAS/PRIYOMBODOPetugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu (5/9).

Guru Besar Pertanian Universitas Sriwijaya Robiyanto Hendro Susanto menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber di Forum Diskusi Kompas bertajuk “Restorasi Lahan Gambut”, Senin (21/12) di Palembang, Sumatera Selatan.

Narasumber lain, Direktur Penyelesaian Sengketa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ragil Jasmin Utomo, Direktur Wetlands Internasional Indonesia I Nyoman Suryadiputra, Direktur Tropical Peat Research Laboratory Unit, Malaysia, Lulie Melling, dan pengamat lingkungan dan kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ricky Avenzora. Diskusi dipandu wartawan Kompas, Tri Agung Kristanto.

Dalam forum ini, Robiyanto menjelaskan, kebakaran lahan gambut tidak lepas dari tidak adanya pengelolaan lahan yang benar. Kebanyakan, kebakaran lahan terjadi di lahan yang telantar. Telantarnya lahan disebabkan oleh belum adanya data, dana yang cukup untuk melakukan restorasi lahan, sehingga prosesnya kurang maksimal.

“Sebanyak 80 persen dana yang dianggarkan untuk penanggulangan bencana, padahal seharusnya digunakan untuk pencegahan kebakaran lahan dan restorasi,” ungkap Robiyanto.

Padahal, menurut dia, jika lahan gambut digarap dengan mengedepankan tata kelola lahan yang benar, hal itu akan mendatangkan keuntungan. Sebagai contoh, Kabupaten Banyuasin (Sumatera Selatan) yang sejumlah daerahnya dapat memperoleh panen saat musibah kebakaran lahan terjadi.

Di lahan itu, masyarakat menggunakan lahan gambut dengan memperhitungkan kelestariannya. Mereka menggunakan lahan untuk lahan pertanian atau menggunakan sebagai kolam ikan yang tetap memelihara kadar air di lahan gambut tersebut.

Namun, saat ini masih ada pihak yang mengelola lahan gambut tanpa memperhitungkan kelestarian lahan gambut. Hal ini terlihat dari penanaman tanaman yang tidak ramah dengan lahan gambut karena lebih banyak menyerap air. Karena itu, sebelum mengelola lahan gambut, diperlukan proses survei, investigasi, sehingga lahan gambut terus lestari.

Untuk menjalankan restorasi lahan gambut harus dikedepankan sejumlah aspek, antara lain kondisi provinsi dan daerah aliran sungai, pemahaman lokasi terbakar, kondisi lahan kedalaman gambut, tata guna lahan, kedalaman muka air tanah, sistem drainase, dan keterpaduan program.

I Nyoman Suryadiputra mengemukakan, restorasi lahan gambut perlu dilakukan mengingat keberadaan gambut yang sangat penting. Di lahan gambut 80-90 persen isinya air lebih tinggi dibandingkan dengan sungai ataupun danau. Jika dilihat secara utuh, air tawar paling banyak adalah di lahan gambut. Mereka memasok air ke sungai. Begitu hancur, terancam krisis air tawar.

Karena itu, pembentukan Badan Restorasi diharapkan tidak hanya fokus pada lahan gambut yang rusak, tetapi juga bisa mengkaji kebijakan pemerintah yang kontradiktif yang menyulut kebakaran.

Ragil Jasmin Utomo mengemukakan, saat ini pemerintah tengah mengefektifkan sanksi administrasi, di samping pidana dan perdata. Penerapan sanksi administrasi dinilai lebih efektif menimbulkan efek jera karena adanya aspek pembinaan, proses pendidikan, hingga pencabutan izin usaha.

http://print.kompas.com/baca/2015/12/21/Perlu-Komitmen-Kuat-untuk-Restorasi-Lahan-Gambut

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

Berkomentar

Leave A Comment

Berita Terkait

Jelajahi berita lainnya:

BERITA LAINNYA