BANYAK DIJADIKAN HTI Keberadaan Gambut Terancam

0
247
Aksi SAD Januari 2016 (Foto: Joko dari Aktivis Petani di Jambi)
Aksi SAD Januari 2016 (Foto: Joko dari Aktivis Petani di Jambi)

Selasa, 05 Januari 2016 12:41 WIB

JAKARTA (HN) – Kelestarian puluhan juta kondisi gambut di sejumlah wilayah di Indonesia terancam. Fenomena ini akibat tidak seriusnya pemerintah terhadap keberlangsungan ekosistem hutan gambut. Padahal, gambut penyangga utama lingkungan.

Direktur Utama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Abednego Tarigan mengatakan belakangan ini luasan gambut makin menurun akibat kesulitan pasokan air tawar. Sayang risiko ini belum sepenuhnya disadari pemerintah daerah.

“Pemda umumnya masih memandang gambut sebagai lahan tidur yang harus dimanfaatkan. Selain itu, banyak dijadikan hutan tanam industri (HTI), meski proses land clearingnya belum tentu ramah lingkungan,” katanya kepada HARIAN NASIONAL, Senin (4/1).

Menurut dia, pemahaman pemda yang minim terhadap pemanfaatan dan penjagaan ekosistem gambut harus ditingkatkan. Karena itu, pemerintah harus terus melakukan konsolidasi untuk meningkatkan pemahaman pemerintah daerah seputar gambut. Konsolidasi sekaligus meyakinkan pemerintah daerah terkait kerugian yang dialami masyarakat akibat luasan gambut yang menurun.

Saat ini, kata dia, peran pemerintah daerah pada pemanfaatan dan penjagaan ekosistem gambut masih jauh dari harapan. Padahal kita sudah memasuki otonomi daerah yang berarti pemda bertanggung jawab penuh pada penggunaan sumber daya di sekitarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah telah mengeluarkan peta KHG meski masih bersifat indikatif pada Desember 2015. Skala peta harus ditingkatkan hingga 1:50.000 dan 1:5.000 sehingga bisa memuat informasi yang lebih detail.

Peta KHG berskala 1:50.000 menjadi dasar pemerintah pusat menetapkan kawasan lindung dan budidaya. Sementara peta 1:5.000 disusun berdasar skala prioritas restorasi ekosistem gambut yang rusak, misal di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karlinsyah mengatakan, peta restorasi harus dibuat detail sehingga tepat sasaran. “Jangan sampai ingin membuat kanal block, namun justru menguras sumber air karena peta yang tidak tepat. Peta untuk restorasi mungkin akan selesai dalam dua tahun,” ujarnya.

Peta indikatif menjadi bagian dari Kebijakan Satu Peta yang berisi 673 KHG di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Luas KHG mencapai 26.353.976 hektar dengan luasan gambut mencapai 14.858.550 hektar dan tanah mineral seluas 11.495.065 hektar.

KHG ialah ekosistem gambut yang berada di antara dua sungai, rawa, laut, atau gabungan di antaranya. KHG menjadi dasar peta yang lebih rinci untuk pengelolaan dan perlindungan gambut. Restorasi gambut hanya bisa dilakukan dengan mengenali lingkungan di sekitarnya.

Reportase : Rosmha Widiyani

Editor : Admin

http://www.harnas.co/2016/01/05/keberadaan-gambut-terancam