Arjuna Pademme Dec 27

Jayapura, Jubi – Legislator Papua, Laurenzus Kadepa meminta PT. Tandan Sawita Papua, perusahaan sawit di Arso Timur, Kabupaten Keerom bertanggungjawab terhadap penembakan Marsel Doga (24 tahun) oleh oknum yang diduga anggota Satgas Pamtas Yonif 411/Raider, Minggu (20/12/2015).

Ia mengatakan, korban bukanlah orang luar, namun buruh kontrak perusahaan kelapa sawit. Ketika itu, ia bersama sejumlah rekannya meminta hak mereka ke perusahaan, berupa Tunjangan Hari Raya (THR). Tapi bukannya mendapat hak yang ditutunt, Marsel Doga justru diterjang peluru.

“Kalau memang tuntutan Masel dan pekerja lainnya tak bisa dipenuhi pihak perusahaan, harusnya manajemen perusahaan menjelaskan baik-baik alasannya. Bukan langsung dengan cara kekerasan lewat aparat keamanan,” kata Kadepa via pesan singkatnya kepada Jubi, Sabtu (26/12/2015).

Menurutnya, keberadaan perusahaan sawit di Papua selama ini selalu menjadi masalah di masyarakat. Kasus penembakan terhadap Marsel, hanya satu dari sekian kasus yang melibatkan perusahaan kelapa sawit.

“Tak hanya kekerasan fisik yang dialami masyarakat adat, namun juga tanah adat mereka dijadikan perkebunan sawit tanpa ganti rugi. Perusahaan sawit lebih cenderung mengejar keuntungan daripada menghargai hak-hak masyarakat adat,” ucapnya.

Katanya, semua perusahaan sawit di Papua bermasalah. Selama ini lahan masyarakat adat Papua di berbagai wilayah dicaplok untuk tanaman sawit tanpa ganti rugi.

“Ketika masyarakat adat menuntut haknya, mereka dituduh berbagai hal. Ini jelas tak benar. Pemerintah perlu mengevaluasi keberadaan perusahaan sawit di Papua,” katanya.

Penembakan Marsel Doga juga disoroti Fraksi Gerindra DPR Papua dalam sidang APBD Papua pekan lalu. Sekretris Fraksi Gerindra, Natan Pahabol yang menyampaikan pandangan fraksinya mengatakan, menyangkan peristiwa itu. Apalagi penembakan terjadi karena karyawan menuntut haknya.

“Kami meminta Gubernur Papua memberikan perhatian besar terhadap kejadian itu. Perlu segera mengevaluasi dan mengaudit perusahaan-perusahaan swasta yang berinvestasi di Papua,” kata Natan Pahabol.

Kasdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI Herman Asaribab mengatakan, laporan yang diterima, insiden itu berawal saat aksi demo yang diwarnai dengan pengrusakan terhadap kantor salah satu perusahaan sawit yang beroperasi di Arso. Pihak perusahaan meminta tolong aparat di Pos TNI terdekat hingga sekitar 10 orang prajurit TNI ke lokasi tersebut dan berupaya menenangkan massa yang sebagian besar dalam keadaan mabuk akibat minuman keras.

Situasi sempat mereda namun sekitar pukul 21.00 WIT kembali datang sekelompok masyarakat dengan membawa senjata tajam tradisional dalam keadaan mabuk. Kelompok warga itu, kata dia, mencoba menyerang prajurit hingga menyebabkan anggota menggeluarkan tembakan peringatan yang mengenai kaki korban.

Korban, Marsel Doga sempat dibawa ke RSUD Arso, namun akibat pendarahan yang mengakibatkan korban meninggal.

http://tabloidjubi.com/home/2015/12/27/karyawan-sawit-ditembak-perusahaan-harus-bertanggungjawab/

Baca Juga:

Louis Dreyfus Tarik Investasinya dari Green Eagle Group, pemilik PT.Tandan Sawita Papua dan PT Varia Mitra Andalan

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Arjuna Pademme Dec 27

    Jayapura, Jubi – Legislator Papua, Laurenzus Kadepa meminta PT. Tandan Sawita Papua, perusahaan sawit di Arso Timur, Kabupaten Keerom bertanggungjawab terhadap penembakan Marsel Doga (24 tahun) oleh oknum yang diduga anggota Satgas Pamtas Yonif 411/Raider, Minggu (20/12/2015).

    Ia mengatakan, korban bukanlah orang luar, namun buruh kontrak perusahaan kelapa sawit. Ketika itu, ia bersama sejumlah rekannya meminta hak mereka ke perusahaan, berupa Tunjangan Hari Raya (THR). Tapi bukannya mendapat hak yang ditutunt, Marsel Doga justru diterjang peluru.

    “Kalau memang tuntutan Masel dan pekerja lainnya tak bisa dipenuhi pihak perusahaan, harusnya manajemen perusahaan menjelaskan baik-baik alasannya. Bukan langsung dengan cara kekerasan lewat aparat keamanan,” kata Kadepa via pesan singkatnya kepada Jubi, Sabtu (26/12/2015).

    Menurutnya, keberadaan perusahaan sawit di Papua selama ini selalu menjadi masalah di masyarakat. Kasus penembakan terhadap Marsel, hanya satu dari sekian kasus yang melibatkan perusahaan kelapa sawit.

    “Tak hanya kekerasan fisik yang dialami masyarakat adat, namun juga tanah adat mereka dijadikan perkebunan sawit tanpa ganti rugi. Perusahaan sawit lebih cenderung mengejar keuntungan daripada menghargai hak-hak masyarakat adat,” ucapnya.

    Katanya, semua perusahaan sawit di Papua bermasalah. Selama ini lahan masyarakat adat Papua di berbagai wilayah dicaplok untuk tanaman sawit tanpa ganti rugi.

    “Ketika masyarakat adat menuntut haknya, mereka dituduh berbagai hal. Ini jelas tak benar. Pemerintah perlu mengevaluasi keberadaan perusahaan sawit di Papua,” katanya.

    Penembakan Marsel Doga juga disoroti Fraksi Gerindra DPR Papua dalam sidang APBD Papua pekan lalu. Sekretris Fraksi Gerindra, Natan Pahabol yang menyampaikan pandangan fraksinya mengatakan, menyangkan peristiwa itu. Apalagi penembakan terjadi karena karyawan menuntut haknya.

    “Kami meminta Gubernur Papua memberikan perhatian besar terhadap kejadian itu. Perlu segera mengevaluasi dan mengaudit perusahaan-perusahaan swasta yang berinvestasi di Papua,” kata Natan Pahabol.

    Kasdam XVII Cenderawasih Brigjen TNI Herman Asaribab mengatakan, laporan yang diterima, insiden itu berawal saat aksi demo yang diwarnai dengan pengrusakan terhadap kantor salah satu perusahaan sawit yang beroperasi di Arso. Pihak perusahaan meminta tolong aparat di Pos TNI terdekat hingga sekitar 10 orang prajurit TNI ke lokasi tersebut dan berupaya menenangkan massa yang sebagian besar dalam keadaan mabuk akibat minuman keras.

    Situasi sempat mereda namun sekitar pukul 21.00 WIT kembali datang sekelompok masyarakat dengan membawa senjata tajam tradisional dalam keadaan mabuk. Kelompok warga itu, kata dia, mencoba menyerang prajurit hingga menyebabkan anggota menggeluarkan tembakan peringatan yang mengenai kaki korban.

    Korban, Marsel Doga sempat dibawa ke RSUD Arso, namun akibat pendarahan yang mengakibatkan korban meninggal.

    http://tabloidjubi.com/home/2015/12/27/karyawan-sawit-ditembak-perusahaan-harus-bertanggungjawab/

    Baca Juga:

    Louis Dreyfus Tarik Investasinya dari Green Eagle Group, pemilik PT.Tandan Sawita Papua dan PT Varia Mitra Andalan

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on