Sabtu, 9 January 2016 21:09

Oleh: Leo Sutrisno

Dilaporkan 85% penghasil kelapa sawit adalah sejumlah negara tropis, seperti Indonesia. Malaysia, dan Papua Nugini. Indonesia dipercaya sebagai negara terbesar penghasil kelapa sawit. Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang membuka secara besar-besaran kebun kelapa sawit. Karena itu, kebun kelapa sawit juga menjadi salah satu yang khas dari Kalimantan Barat.

Dalam Sinar Harapan.CO, 15-8-2015, jurnalis Aju melaporkan pernyataan Ketua Gabungan pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang mengatakan bahwa kalangan pelaku usaha menargetkan luas areal kebun kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Barat secara bertahap hingga 5,02 juta hektar. Luas areal saat itu (Agustus 2015) sekitar 1,3 juta hektare. Disebutkan juga dengan luas 1,3 juta hektare kebun kelapa mampu menyerap 101.883 tenaga kerja. Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit dapat dipandang sebagai tulang punggung perekonomian daerah.

Wayan R. Susila, dari LIPI, 2004, menemukan industri kelapa sawit berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan pemerataan penghasilan. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada peningkatan investasi, output dan devisa. Ditemukan bahwa sekitar 63% penghasilan keluarga berasal dari industri kelapa sawit. Ditemukan pula hanya sekitar 10% golongan miskin yang berada di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Indeks Gini hanya sekitar 0.36.

Perkebunan kelapa sawit yang menekankan pada nilai-nilai komersial ini ternyata tidak berhenti di posisi itu. Sejumlah peneliti mencermati dampak sosial dan ekologi dari perkebunan kelapa sawit.

Krystof Obidzinski, Rubeta Andriani, Heru Komarudin, dan Agus Andrianto dari ‘Center for International Forestry Research’ – CIFOR, 2012, meneliti dampak sosial-ekonomi dan ekologi dari tiga lokasi kebun sawit, Kubu Raya (Kalimantan Barat), Manokwari (Papua barat) dan Boven Digoel (Papua). Mereka menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit di tiga lokasi ini menyebabkan deforesasi, akibatnya terjadi polusi air, erosi tanah, dan juga polusi udara. Dampak sosial bagi para pemangku kepentingan (stakeholder): karyawan, dan pengusaha cukup signifikan. Namun, kurang terdistribusi secara merata. Bagi pemilik lahan, juga mengalami dampat yang juga signifikan. Di antaranya, harga lahan meningkat, ketersediaan lahan semakin terbatas, dan konflik berebut lahan. Mereka mencatat tiga ‘trade-off’ penting dari pertumbuhan perkebunan kelapa sawit, penurunan kualitas lingkungan hidup, ada yang untung tetapi ada banyak pula yang ‘buntung’, dan capaian ekonomi diikuti dengan pelemahan penegakan hukum.

Emily B. Fitzherbert dari ‘University of East Anglia’, Norwich, Inggris; Matthew J. Struebig dari ‘University of London’; Alexandra Morel dari ‘Oxford University Centre for the Environment’; Finn Danielsen dari NORDECO, Denmark; Carsten A. Bruhl dari University Koblenz-Landau, Jerman; Paul F. Donald dari RSPB, The Lodge, Inggris dan Ben Phalan dari ‘University of Cambridge’, 2008, bertanya: ‘How will oil palm expansion affect biodiversity?’ mereka menemukan hanya sebagian kecil spesies yang dapat hidup selamat di kebun sawit, jauh lebih sedikit dari spesies yang dapat hidup di hutan atau perkebunan yang lain. Selain itu, perkebunan sawit menyebabkan defragmentasi habitan dan tentu juga polusi, termasuk efek gas rumah kaca. Untuk memperkecil dampaknya pada keanekaragaman hayati, mereka menyarankan agar perkebunan ini tidak melakukan deforesasi.

Lucy Rist dari ETH Zurich, Swis; Laure`ne Feintrenie dari ‘Institut de Recherche pour le De´veloppement’, Persncis dan Patrice Levang dari ‘Centre for International Forestry Research’, Bogor, 2010, meneliti dampak perkebunan kelapa sawit bagi masyarakat kecil, para petani, di daerah perkebunan. Mereka menemukan para petani sangat diuntungkan dengan keberadaan kebun sawit. Konflik sosial yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh karena transfaransi yang kurang, tidak ada kebebasan memilih antara menyerahkan atau tidak menyerahkan lahan yang dimiliki kepada perusahaan, dan juga tidak ada ‘informed consent’, pembagian keuntungan yang tidak adil, serta kekurangjelasan kepemilikan. Seandainya standar lingkungan dapat ditingkatkan dan dampak sosialnya dikelola dengan baik maka perkebunan kelapa sawit dapat menguntungkan masyarakat banyak.

David P. Edwards, Jenny A. Hodgson, Keith C. Hamer, dan Simon L. Mitchell, Universitas Leed, Inggris, Abdul H. Ahmad dari Universitas Malaya Sabah, serta David S. Wilcove dari Universitas Princeton, 2010, menemukan bahwa ‘Wildlife-friendly oil palm plantations’ pun juga kurang berhasil menjaga keanekaragaman hanyati. Mereka menunjukkan keanekaragaman hayati di perkebunan kelapa sawit yang jauh berbeda dari hutan sekitar perkebunan.

Keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat memang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, dampak sosial dan ekologisnya harus ‘dibayar’ mahal. Karena itu, para ilmuwan Kalimantan Barat, khususnya Universitas tanjungpura, perlu masuk di bidang ini. Semoga!

http://www.pontianakpost.com/kelapa-sawit

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sabtu, 9 January 2016 21:09

    Oleh: Leo Sutrisno

    Dilaporkan 85% penghasil kelapa sawit adalah sejumlah negara tropis, seperti Indonesia. Malaysia, dan Papua Nugini. Indonesia dipercaya sebagai negara terbesar penghasil kelapa sawit. Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang membuka secara besar-besaran kebun kelapa sawit. Karena itu, kebun kelapa sawit juga menjadi salah satu yang khas dari Kalimantan Barat.

    Dalam Sinar Harapan.CO, 15-8-2015, jurnalis Aju melaporkan pernyataan Ketua Gabungan pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang mengatakan bahwa kalangan pelaku usaha menargetkan luas areal kebun kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Barat secara bertahap hingga 5,02 juta hektar. Luas areal saat itu (Agustus 2015) sekitar 1,3 juta hektare. Disebutkan juga dengan luas 1,3 juta hektare kebun kelapa mampu menyerap 101.883 tenaga kerja. Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit dapat dipandang sebagai tulang punggung perekonomian daerah.

    Wayan R. Susila, dari LIPI, 2004, menemukan industri kelapa sawit berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan pemerataan penghasilan. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada peningkatan investasi, output dan devisa. Ditemukan bahwa sekitar 63% penghasilan keluarga berasal dari industri kelapa sawit. Ditemukan pula hanya sekitar 10% golongan miskin yang berada di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Indeks Gini hanya sekitar 0.36.

    Perkebunan kelapa sawit yang menekankan pada nilai-nilai komersial ini ternyata tidak berhenti di posisi itu. Sejumlah peneliti mencermati dampak sosial dan ekologi dari perkebunan kelapa sawit.

    Krystof Obidzinski, Rubeta Andriani, Heru Komarudin, dan Agus Andrianto dari ‘Center for International Forestry Research’ – CIFOR, 2012, meneliti dampak sosial-ekonomi dan ekologi dari tiga lokasi kebun sawit, Kubu Raya (Kalimantan Barat), Manokwari (Papua barat) dan Boven Digoel (Papua). Mereka menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit di tiga lokasi ini menyebabkan deforesasi, akibatnya terjadi polusi air, erosi tanah, dan juga polusi udara. Dampak sosial bagi para pemangku kepentingan (stakeholder): karyawan, dan pengusaha cukup signifikan. Namun, kurang terdistribusi secara merata. Bagi pemilik lahan, juga mengalami dampat yang juga signifikan. Di antaranya, harga lahan meningkat, ketersediaan lahan semakin terbatas, dan konflik berebut lahan. Mereka mencatat tiga ‘trade-off’ penting dari pertumbuhan perkebunan kelapa sawit, penurunan kualitas lingkungan hidup, ada yang untung tetapi ada banyak pula yang ‘buntung’, dan capaian ekonomi diikuti dengan pelemahan penegakan hukum.

    Emily B. Fitzherbert dari ‘University of East Anglia’, Norwich, Inggris; Matthew J. Struebig dari ‘University of London’; Alexandra Morel dari ‘Oxford University Centre for the Environment’; Finn Danielsen dari NORDECO, Denmark; Carsten A. Bruhl dari University Koblenz-Landau, Jerman; Paul F. Donald dari RSPB, The Lodge, Inggris dan Ben Phalan dari ‘University of Cambridge’, 2008, bertanya: ‘How will oil palm expansion affect biodiversity?’ mereka menemukan hanya sebagian kecil spesies yang dapat hidup selamat di kebun sawit, jauh lebih sedikit dari spesies yang dapat hidup di hutan atau perkebunan yang lain. Selain itu, perkebunan sawit menyebabkan defragmentasi habitan dan tentu juga polusi, termasuk efek gas rumah kaca. Untuk memperkecil dampaknya pada keanekaragaman hayati, mereka menyarankan agar perkebunan ini tidak melakukan deforesasi.

    Lucy Rist dari ETH Zurich, Swis; Laure`ne Feintrenie dari ‘Institut de Recherche pour le De´veloppement’, Persncis dan Patrice Levang dari ‘Centre for International Forestry Research’, Bogor, 2010, meneliti dampak perkebunan kelapa sawit bagi masyarakat kecil, para petani, di daerah perkebunan. Mereka menemukan para petani sangat diuntungkan dengan keberadaan kebun sawit. Konflik sosial yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh karena transfaransi yang kurang, tidak ada kebebasan memilih antara menyerahkan atau tidak menyerahkan lahan yang dimiliki kepada perusahaan, dan juga tidak ada ‘informed consent’, pembagian keuntungan yang tidak adil, serta kekurangjelasan kepemilikan. Seandainya standar lingkungan dapat ditingkatkan dan dampak sosialnya dikelola dengan baik maka perkebunan kelapa sawit dapat menguntungkan masyarakat banyak.

    David P. Edwards, Jenny A. Hodgson, Keith C. Hamer, dan Simon L. Mitchell, Universitas Leed, Inggris, Abdul H. Ahmad dari Universitas Malaya Sabah, serta David S. Wilcove dari Universitas Princeton, 2010, menemukan bahwa ‘Wildlife-friendly oil palm plantations’ pun juga kurang berhasil menjaga keanekaragaman hanyati. Mereka menunjukkan keanekaragaman hayati di perkebunan kelapa sawit yang jauh berbeda dari hutan sekitar perkebunan.

    Keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat memang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, dampak sosial dan ekologisnya harus ‘dibayar’ mahal. Karena itu, para ilmuwan Kalimantan Barat, khususnya Universitas tanjungpura, perlu masuk di bidang ini. Semoga!

    http://www.pontianakpost.com/kelapa-sawit

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on