KUNJUNGAN PRESIDEN : Nduga, Kabupaten yang Tak “Semerah” Status Kerawanannya…

0
651
Ollan Abago berfoto dengan Jokowi di areal pabrik sagu Kais
Ollan Abago berfoto dengan Jokowi di areal pabrik sagu Kais

Cetak | 4 Januari 2016

Nduga adalah salah satu kabupaten di pesisir Provinsi Papua yang menghubungkan ke 11 kabupaten lainnya yang berada di pegunungan tengah Papua. Karena posisinya ini, Kabupaten Nduga sangat strategis untuk membuka keterisolasian kabupaten-kabupaten lainnya di Papua.

KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYATPresiden Joko Widodo menyimak penjelasan Malik, pimpinan proyek jalan Nduga ke Wamena, di Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, Kamis (31/12). Kunjungan Presiden ke Nduga mendapat pengawalan ketat aparat karena kawasan tersebut masih dianggap rawan dengan gangguan keamanan.

Meski demikian, kabupaten ini berstatus “merah” karena sering muncul gangguan keamanan dari kelompok bersenjata di Papua.

Tak heran jika sesaat setelah Presiden Joko Widodo tiba di kota Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, menjelang akhir tahun lalu, anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pun menanyakan siapa sosok berpakaian seperti warga biasa, dan bukan dinas, yang ikut mendampingi Presiden bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Bupati Nduga Yarius Wijangge serta sejumlah menteri lainnya.

Kecurigaan Paspampres baru pupus setelah diketahui orang tersebut ternyata Malik, Manajer Pelaksana Proyek Jalan Darat Nduga-Wamena, yang bekerja pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Malik memimpin pengerjaan proyek jalan sepanjang 278 kilometer yang melintasi perbukitan dan hutan belukar. Pembangunannya juga melibatkan personel TNI yang juga ikut sekaligus membantu pengamanannya.

Malik mengaku memilih berpakaian biasa daripada harus berpakaian dinas sebagaimana layaknya pejabat di Kementerian PU dan Perumahan Rakyat karena status Nduga yang masih berstatus wilayah rawan akibat masih terjadinya gangguan keamanan. Maklum, Malik pernah disandera kelompok bersenjata dan harus dibebaskan setelah ditukar dengan uang tebusan senilai Rp 1 miliar.

“Saya berpakaian begini demi keamanan. Jika tidak menyamar, mereka bisa menculik saya lagi. Di sini masih belum aman, terutama bagi pelaksana proyek,” tutur Malik.

Bagi Malik, bekerja di daerah rawan memang penuh risiko. Apalagi akses transportasi masih terbatas. Demikian pula sarana pendukung lain yang masih minim, seperti listrik dan alat komunikasi. Padahal, kawasan Nduga masih berupa hutan, permukimannya pun masih jarang. Jarak tempuh ke pusat keramaian juga sangat jauh. Namun, Malik justru harus hadir untuk memimpin percepatan pengerjaan jalan penghubung antara Nduga ke Wamena dan kawasan pegunungan tengah Papua.

Akibat statusnya yang “merah”, wajar jika dalam kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Nduga dijaga ketat polisi dan TNI. Didampingi Ibu Negara Ny Iriana Joko Widodo beserta dua anaknya, Kahiyang dan Kaesang, Presiden Jokowi mendarat dengan helikopter yang terbang dari Timika.

Penjagaan ketat

Kota Kenyam di Nduga tidak bisa disamakan dengan kota-kota pada umumnya di Pulau Jawa. Kenyam masih belum menjadi sebuah kota karena kawasan tersebut benar-benar baru dibangun menjadi kota. Sarana infrastruktur jalan dan jembatan serta fasilitas lainnya sama sekali belum memadai. Gedung-gedung pemerintahannya yang tengah dibangun terlihat masih belum siap ditempati.

Sesuai prosedur keamanan, kendaraan dobel gardan yang ditumpangi Presiden Jokowi pun dikawal tak hanya di bagian depan, tetapi juga di belakang. Meskipun tak ada anggota Paspampres bermotor di kiri kanan mobil Presiden, sebagai gantinya, sejumlah anggota Paspampres dan personel TNI lainnya berjaga-jaga di antara semak belukar, pepohonan, bangunan kosong, dan kerumunan warga. Sebagian aparat tambahan menggunakan seragam militer dengan posisi siap tembak.

Walaupun pengamanan terbuka dan tertutup sangat ketat, Presiden Jokowi terlihat santai. “Saya yakin, seiring pembangunan di kawasan ini, kekerasan akan mereda. Model pendekatan ini bisa jadi solusi efektif meredakan kasus kekerasan yang kerap terjadi,” kata Presiden.

Presiden memiliki keyakinan, jika jalan darat dari Nduga-Wamena terbangun, mobilitas orang dan barang akan menjadi lancar. Harga BBM jenis premium Rp 50.000 per liter di Wamena diyakini dapat berkurang separuhnya jika jalan tersebut terwujud. Begitu pun barang-barang kebutuhan lain.

Menurut Lukas, wilayah “merah” di Papua memang kerap tak seseram yang dibayangkan. Kuncinya, jika ada komunikasi dan itikad yang baik dengan tokoh dan warga setempat, gangguan keamanan yang dikhawatirkan tak akan terjadi. Presiden Joko Widodo sudah membuktikannya. (Andy Riza Hidayat)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Januari 2016, di halaman 2 dengan judul “Nduga, Kabupaten yang Tak “Semerah” Status Kerawanannya…”.

http://print.kompas.com/baca/2016/01/04/Nduga%2c-Kabupaten-yang-Tak-Semerah-Status-Kerawanan