Cetak | 14 Januari 2016

KAPUAS, KOMPAS — Pembalakan liar masih marak terjadi di sepanjang daerah aliran Sungai Mangkutub hingga Sungai Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Setiap hari, ribuan potong kayu, masing-masing sepanjang 4 meter, didistribusikan melalui Sungai Mangkutub menuju Kecamatan Mantangai.

Tim gabungan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Rabu (13/1) pagi, menuju Kecamatan Mantangai untuk menyelamatkan orangutan. Selama perjalanan menyusuri sungai, tim melihat kayu-kayu yang tersusun rapi di sungai.

Kayu-kayu itu dibentuk menjadi rakit. Satu rakit besar berisi 100-150 batang kayu yang masing-masing berdiameter 25 sentimeter-35 sentimeter. Mulai dari Sungai Mangkutub hingga Sungai Mantangai, Rabu, terlihat lebih dari 100 rakit besar.

Sejumlah kayu hutan, seperti damar (Agathis dammara), meranti merah (Shorea pinanga), kamper (Dryobalanops lanceolata), dan keruing (Dipterocarpus spp), diikat menyerupai rakit.

Berdasarkan pantauan Kompas selama tiga hari terakhir, rakit kayu selalu dialirkan melalui jalur yang sama, yakni mulai dari Batengkong, Mangkutub, Mantangai, hingga Danau Bagantung, semuanya anak Sungai Kapuas. Para pemotong kayu mendirikan tenda-tenda di pinggir sungai.

Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Nandang Prihadi membenarkan adanya pembalakan liar di daerah aliran Sungai Mangkutub. Selama ini, tim BKSDA baru menangkap satu pelaku pembalakan liar di lokasi tersebut.

”Barang bukti masih disimpan di Daerah Operasi BKSDA Kapuas. Kami akan terus berkoordinasi dengan petugas di lapangan,” katanya saat dihubungi dari Kapuas.

Melalui sungai

Madi (35), warga Dusun Batengkong, mengatakan, hampir setiap hari kayu itu dikirim melalui sungai. Pengiriman seperti itu terjadi sejak bertahun-tahun lalu. ”Sempat hilang tahun 2013 karena ada yang ditangkap, tetapi marak lagi,” ucap Madi.

Sekretaris Camat Mantangai Achmad Rizani mengatakan, daerah di sepanjang daerah aliran Sungai Mangkutub hingga ke Sungai Mantangai adalah hutan lindung. Namun, pihak kecamatan mengaku kesulitan menangkap pelaku pembalakan liar. ”Personel dan peralatan transportasi sangat kurang,” ujarnya.

Manajer Program Mawas dari Yayasan BOS Jhanson Regalino mengatakan, kayu-kayu itu dijual ke sejumlah tempat. Biasanya, pembalak menjualnya di Banjarmasin atau di Kapuas.

”Kayu diolah terlebih dahulu, baru dijual. Pasti ada yang menampung kayu-kayu itu,” kata Jhanson.

Menurut dia, seharusnya pemerintah melalui dinas kehutanan, Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, dan BKSDA bekerja sama melakukan operasi di sekitar sungai menertibkan pembalak.

Yayasan BOS dan BKSDA, kemarin, juga melakukan penyelamatan orangutan. Tim membawa lima orangutan untuk dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. (IDO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Januari 2016, di halaman 15 dengan judul “Pembalakan Liar Marak”.

http://print.kompas.com/baca/2016/01/14/Pembalakan-Liar-Marak

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Cetak | 14 Januari 2016

    KAPUAS, KOMPAS — Pembalakan liar masih marak terjadi di sepanjang daerah aliran Sungai Mangkutub hingga Sungai Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Setiap hari, ribuan potong kayu, masing-masing sepanjang 4 meter, didistribusikan melalui Sungai Mangkutub menuju Kecamatan Mantangai.

    Tim gabungan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Rabu (13/1) pagi, menuju Kecamatan Mantangai untuk menyelamatkan orangutan. Selama perjalanan menyusuri sungai, tim melihat kayu-kayu yang tersusun rapi di sungai.

    Kayu-kayu itu dibentuk menjadi rakit. Satu rakit besar berisi 100-150 batang kayu yang masing-masing berdiameter 25 sentimeter-35 sentimeter. Mulai dari Sungai Mangkutub hingga Sungai Mantangai, Rabu, terlihat lebih dari 100 rakit besar.

    Sejumlah kayu hutan, seperti damar (Agathis dammara), meranti merah (Shorea pinanga), kamper (Dryobalanops lanceolata), dan keruing (Dipterocarpus spp), diikat menyerupai rakit.

    Berdasarkan pantauan Kompas selama tiga hari terakhir, rakit kayu selalu dialirkan melalui jalur yang sama, yakni mulai dari Batengkong, Mangkutub, Mantangai, hingga Danau Bagantung, semuanya anak Sungai Kapuas. Para pemotong kayu mendirikan tenda-tenda di pinggir sungai.

    Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Nandang Prihadi membenarkan adanya pembalakan liar di daerah aliran Sungai Mangkutub. Selama ini, tim BKSDA baru menangkap satu pelaku pembalakan liar di lokasi tersebut.

    ”Barang bukti masih disimpan di Daerah Operasi BKSDA Kapuas. Kami akan terus berkoordinasi dengan petugas di lapangan,” katanya saat dihubungi dari Kapuas.

    Melalui sungai

    Madi (35), warga Dusun Batengkong, mengatakan, hampir setiap hari kayu itu dikirim melalui sungai. Pengiriman seperti itu terjadi sejak bertahun-tahun lalu. ”Sempat hilang tahun 2013 karena ada yang ditangkap, tetapi marak lagi,” ucap Madi.

    Sekretaris Camat Mantangai Achmad Rizani mengatakan, daerah di sepanjang daerah aliran Sungai Mangkutub hingga ke Sungai Mantangai adalah hutan lindung. Namun, pihak kecamatan mengaku kesulitan menangkap pelaku pembalakan liar. ”Personel dan peralatan transportasi sangat kurang,” ujarnya.

    Manajer Program Mawas dari Yayasan BOS Jhanson Regalino mengatakan, kayu-kayu itu dijual ke sejumlah tempat. Biasanya, pembalak menjualnya di Banjarmasin atau di Kapuas.

    ”Kayu diolah terlebih dahulu, baru dijual. Pasti ada yang menampung kayu-kayu itu,” kata Jhanson.

    Menurut dia, seharusnya pemerintah melalui dinas kehutanan, Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, dan BKSDA bekerja sama melakukan operasi di sekitar sungai menertibkan pembalak.

    Yayasan BOS dan BKSDA, kemarin, juga melakukan penyelamatan orangutan. Tim membawa lima orangutan untuk dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. (IDO)

    Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Januari 2016, di halaman 15 dengan judul “Pembalakan Liar Marak”.

    http://print.kompas.com/baca/2016/01/14/Pembalakan-Liar-Marak

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on