KBR, Jakarta-Warga sekitar pabrik sagu di daerah Kais, Papua Barat meminta pemerintah tidak mengambil lahan sagu milik masyarakat untuk dijadikan lahan sagu Perhutani.

Aktivis Pemuda Tanah Besar Kais, Papua Barat, Arkilaus Baho beralasan, ladang sagu tersebut sangat vital bagi penghidupan warga setempat.

“Bagi orang Papua itu satu pohon sagu itu bisa memberikan makan untuk 7 turunan, kami kan ketergantungan utamanya di situ. Sekarang kalau Sagu itu dikuasai oleh pemerintah terus orang-orang di situ disuruh tidak lagi memiliki sagu berarti satu pohon sagu itu bisa saja harganya Rp 1-2 miliar itu karena nilainya sesuai dengan nilai ekspektasi pangannya masyarakat setempat,” ujarnya kepada KBR, Minggu, 10 Januari 2016.

Arkilaus Baho menambahkan warga juga khawatir akan kehilangan pekerjaan di pabrik sagu tersebut. Sebab, sebelumnya ada pabrik pemerintah dan swasta di sana yang bangkrut, sehingga mengakibatkan warga kehilangan pekerjaan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meresmikan Pabrik Sagu milik Perum Perhutani di daerah Kais, Papua Barat. Pabrik yang akan melibatkan ratusan warga lokal ini akan menumbangkan 1.000 pohon sagu tiap hari. Padahal, untuk menumbuhkan satu pohon sagu hingga siap tebang, memerlukan waktu setidaknya 10 tahun.

Pabrik yang berlokasi di Ditrik Kais, Sorong Selatan ini nantinya akan membeli batang pohon sagu dari masyarakat seharga Rp 9.000 per tual. Satu tual setara dengan satu meter batang sagu.

http://portalkbr.com/01-2016/petani_sagu_kais_papua_barat_tolak_harga_pembelian_murah_perhutani/78187.html

Baca Juga: Kronologis Kunjungan Presiden Jokowi ke Lokasi Pabrik Sagu di Kais

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    KBR, Jakarta-Warga sekitar pabrik sagu di daerah Kais, Papua Barat meminta pemerintah tidak mengambil lahan sagu milik masyarakat untuk dijadikan lahan sagu Perhutani.

    Aktivis Pemuda Tanah Besar Kais, Papua Barat, Arkilaus Baho beralasan, ladang sagu tersebut sangat vital bagi penghidupan warga setempat.

    “Bagi orang Papua itu satu pohon sagu itu bisa memberikan makan untuk 7 turunan, kami kan ketergantungan utamanya di situ. Sekarang kalau Sagu itu dikuasai oleh pemerintah terus orang-orang di situ disuruh tidak lagi memiliki sagu berarti satu pohon sagu itu bisa saja harganya Rp 1-2 miliar itu karena nilainya sesuai dengan nilai ekspektasi pangannya masyarakat setempat,” ujarnya kepada KBR, Minggu, 10 Januari 2016.

    Arkilaus Baho menambahkan warga juga khawatir akan kehilangan pekerjaan di pabrik sagu tersebut. Sebab, sebelumnya ada pabrik pemerintah dan swasta di sana yang bangkrut, sehingga mengakibatkan warga kehilangan pekerjaan.

    Sebelumnya, Presiden Jokowi meresmikan Pabrik Sagu milik Perum Perhutani di daerah Kais, Papua Barat. Pabrik yang akan melibatkan ratusan warga lokal ini akan menumbangkan 1.000 pohon sagu tiap hari. Padahal, untuk menumbuhkan satu pohon sagu hingga siap tebang, memerlukan waktu setidaknya 10 tahun.

    Pabrik yang berlokasi di Ditrik Kais, Sorong Selatan ini nantinya akan membeli batang pohon sagu dari masyarakat seharga Rp 9.000 per tual. Satu tual setara dengan satu meter batang sagu.

    http://portalkbr.com/01-2016/petani_sagu_kais_papua_barat_tolak_harga_pembelian_murah_perhutani/78187.html

    Baca Juga: Kronologis Kunjungan Presiden Jokowi ke Lokasi Pabrik Sagu di Kais

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on