Nabire, 18 Januari 2016-Menyikapi kedatangan Duta Besar Amerika Serikat dalam kunjungannya di Papua Barat selama seminggu suku besar Yerisiam Gua angkat bicara. Adanya informasi bahwa dalam kunjungan tersebut, Dubes Amerika akan berkunjung ke Distrik Yaur untuk melihat ikan hiu Paus, dimana wilayah tersebut berada pada wilayah hukum adat suku Yerisiam Gua.

Melalui Juru bicara Gunawan inggeruhi mengatakan bahwa mereka menolak kedatangan dubes. Ada apa di balik kunjungan untuk melihat hiu paus? Tanya gun sebagaimana tertulis dalam rilis yang diterima SUARA PUSAKA 18 Januari 2016.

Gunawan bilang, sejak Papua berintegrasi dengan Indonesia, barulah hari ini seorang dubes mau datang disini (wilayah adat orang Yerisiam dan Yaur). Masyarakat adat setempat, menurutnya curiga dengan misi tersebut. Pasalnya, sebuah perjalanan yang hanya mau membuktikan laporan turisnya yang selama ini berkunjung ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih bahwa selain hiu paus, distrik Yaur memiliki kekayaan alam berupa tambang marmer yang sangat besar, dan juga tambang emas yang tidak kalah jauh dengan wilayah tambang emas di derah Papua lainya.

Suku Besar sangat yakin jika kunjungan dubes nantinya setelah ia balik, maka akan menyusul investor yang akan datang untuk berinvestasi di wilayah adat mereka. Amerika jangan bermimpi, hutan Kami sudah Habis oleh kerakusan kelapa sawit, kami tidak lagi akan melepas sejengkal pun kekayaan kami untuk di kelola oleh amerika dan sekutunya, pungkas Gunawan.

Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora mengingatkan dampak buruk yang dialami orang Papua semenjak Amerika ikut bermain disini. Kasus Freeport, Kematian anak-anak di Mbua Nduga, Masalah Perkebunan Sawit dan sejumlah konflik di Papua adalah berawal dari Intervensi kepentingan ekonomi Amerika di Papua. Sekarang Amerika berkunjung ke daerah dimana HIU PAUS berada di Nabire, dimana Kediaman orang Yaur dan Yerisiam. Cukup sudah…kami orang Yaur dan Yerisiam TOLAK kehadiran amerika lagi di tanah Yerisiam dan Yaur, jangan kami jadi korban selanjutnya, kesal Tino

Masyarakat adat Yerisiam merupakan komunitas pribumi yang mendiami wilayah pesisir utara pulau Papua bagian Barat. Tersebar di kabupaten Nabire, Wondama dan Wasior. Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang dikenal dengan hiu paus putih berada dalam wilayah adat Yerisiam dan Yaur. Masyarakat Daerah ini, dari pantauan PUSAKA, kerap mengalami konflik kekerasan akibat aparat militer Indonesia yang kerap dipakai sebagai pengamanan dalam mengamankan restorasi penguasa modal perkebunan kelapa sawit. Konsorsium Penanaman Modal Asing (PMA) grub CNOC mengakuisisi lahan seluas 22 ribu hektar untuk bisnis perkebunan kelawa sawit, bahkan Tanah ini juga mengalami degradasi hutan akibat pengelolaan kayu oleh perusahaan HPH.

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Nabire, 18 Januari 2016-Menyikapi kedatangan Duta Besar Amerika Serikat dalam kunjungannya di Papua Barat selama seminggu suku besar Yerisiam Gua angkat bicara. Adanya informasi bahwa dalam kunjungan tersebut, Dubes Amerika akan berkunjung ke Distrik Yaur untuk melihat ikan hiu Paus, dimana wilayah tersebut berada pada wilayah hukum adat suku Yerisiam Gua.

    Melalui Juru bicara Gunawan inggeruhi mengatakan bahwa mereka menolak kedatangan dubes. Ada apa di balik kunjungan untuk melihat hiu paus? Tanya gun sebagaimana tertulis dalam rilis yang diterima SUARA PUSAKA 18 Januari 2016.

    Gunawan bilang, sejak Papua berintegrasi dengan Indonesia, barulah hari ini seorang dubes mau datang disini (wilayah adat orang Yerisiam dan Yaur). Masyarakat adat setempat, menurutnya curiga dengan misi tersebut. Pasalnya, sebuah perjalanan yang hanya mau membuktikan laporan turisnya yang selama ini berkunjung ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih bahwa selain hiu paus, distrik Yaur memiliki kekayaan alam berupa tambang marmer yang sangat besar, dan juga tambang emas yang tidak kalah jauh dengan wilayah tambang emas di derah Papua lainya.

    Suku Besar sangat yakin jika kunjungan dubes nantinya setelah ia balik, maka akan menyusul investor yang akan datang untuk berinvestasi di wilayah adat mereka. Amerika jangan bermimpi, hutan Kami sudah Habis oleh kerakusan kelapa sawit, kami tidak lagi akan melepas sejengkal pun kekayaan kami untuk di kelola oleh amerika dan sekutunya, pungkas Gunawan.

    Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora mengingatkan dampak buruk yang dialami orang Papua semenjak Amerika ikut bermain disini. Kasus Freeport, Kematian anak-anak di Mbua Nduga, Masalah Perkebunan Sawit dan sejumlah konflik di Papua adalah berawal dari Intervensi kepentingan ekonomi Amerika di Papua. Sekarang Amerika berkunjung ke daerah dimana HIU PAUS berada di Nabire, dimana Kediaman orang Yaur dan Yerisiam. Cukup sudah…kami orang Yaur dan Yerisiam TOLAK kehadiran amerika lagi di tanah Yerisiam dan Yaur, jangan kami jadi korban selanjutnya, kesal Tino

    Masyarakat adat Yerisiam merupakan komunitas pribumi yang mendiami wilayah pesisir utara pulau Papua bagian Barat. Tersebar di kabupaten Nabire, Wondama dan Wasior. Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang dikenal dengan hiu paus putih berada dalam wilayah adat Yerisiam dan Yaur. Masyarakat Daerah ini, dari pantauan PUSAKA, kerap mengalami konflik kekerasan akibat aparat militer Indonesia yang kerap dipakai sebagai pengamanan dalam mengamankan restorasi penguasa modal perkebunan kelapa sawit. Konsorsium Penanaman Modal Asing (PMA) grub CNOC mengakuisisi lahan seluas 22 ribu hektar untuk bisnis perkebunan kelawa sawit, bahkan Tanah ini juga mengalami degradasi hutan akibat pengelolaan kayu oleh perusahaan HPH.

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on