Cetak | 5 Februari 2016

JAYAPURA, KOMPAS — Lima kecamatan di Kabupaten Tolikara, Papua, dilanda banjir selama dua hari ini. Sebanyak 10.000 warga yang menjadi korban terpaksa mengungsi.

Informasi dari Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten Tolikara mengatakan, lima kecamatan yang diterjang banjir adalah Kanggime, Woniki, Wuluk, Nabunage, dan Menggena, dengan ketinggian air 1 meter. Banjir terjadi karena hujan deras di Tolikara dua pekan terakhir. Banjir menyebabkan tujuh rumah rusak berat.

Kepala Bagian Humas Pemkab Tolikara Derwes Jikwa, saat dihubungi dari Jayapura, mengatakan, bantuan belum dapat disalurkan kepada korban karena akses jalur darat ke lima kecamatan itu terputus total. Enam jalan dan tujuh jembatan penghubung dari Karubaga, ibu kota Tolikara, ke lima kecamatan itu terputus. “Belum ada lapangan terbang,” ujarnya.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Patrige Renwarin menyatakan, seluruh jajaran Polres Tolikara telah diterjunkan untuk membantu perbaikan jalan dan jembatan.

Namun, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Didi Agus Prihatno mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan.

Tokoh agama di Tolilkara, Dorman Wandikbo, mengharapkan pemerintah kabupaten segera mengirimkan bantuan kepada korban banjir.

Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, hingga Kamis, banjir masih menggenangi sekitar 980 rumah. Jumlah rumah yang terendam banjir juga jauh berkurang dibandingkan dengan jumlah sebelumnya, sekitar 10.000 rumah di 14 kelurahan.

Wilayah yang masih tergenang banjir adalah Dukuh dan Pabean di Kecamatan Pekalongan Utara. Beberapa rumah di Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat, juga masih terendam.

Meski masih terendam banjir, tidak ada warga yang mengungsi. Mereka tetap beraktivitas di rumah.

Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Pekalongan Hengky Susilo Hadi, daerah yang saat ini masih terendam banjir merupakan daerah yang rawan terkena pasang air laut. “Air yang menggenang tidak semata-mata dari air hujan, tetapi juga rob (pasang) dari laut,” katanya.

Ketinggian air di wilayah tergenang berkisar 20 sentimeter hingga 30 sentimeter.

Dari Cilacap, Jawa Tengah, dilaporkan, tanah bergerak melanda dua desa di Kabupaten Cilacap. Sedikitnya 70 rumah masih terancam ambles atau tertimpa longsoran. Curah hujan yang semakin tinggi menyebabkan struktur tanah di kawasan perbukitan semakin rentan runtuh.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy mengatakan, tanah ambles terjadi di wilayah perbukitan di Desa Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur, pada Rabu malam. Akibatnya, sekitar 50 rumah warga yang berada bawah bukit tersebut terancam runtuh.

(WIE/FLO/GRE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2016, di halaman 22 dengan judul “Banjir, 10.000 Warga Tolikara Mengungsi”.

http://print.kompas.com/baca/2016/02/05/Banjir-10-000-Warga-Tolikara-Mengungsi

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Cetak | 5 Februari 2016

    JAYAPURA, KOMPAS — Lima kecamatan di Kabupaten Tolikara, Papua, dilanda banjir selama dua hari ini. Sebanyak 10.000 warga yang menjadi korban terpaksa mengungsi.

    Informasi dari Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten Tolikara mengatakan, lima kecamatan yang diterjang banjir adalah Kanggime, Woniki, Wuluk, Nabunage, dan Menggena, dengan ketinggian air 1 meter. Banjir terjadi karena hujan deras di Tolikara dua pekan terakhir. Banjir menyebabkan tujuh rumah rusak berat.

    Kepala Bagian Humas Pemkab Tolikara Derwes Jikwa, saat dihubungi dari Jayapura, mengatakan, bantuan belum dapat disalurkan kepada korban karena akses jalur darat ke lima kecamatan itu terputus total. Enam jalan dan tujuh jembatan penghubung dari Karubaga, ibu kota Tolikara, ke lima kecamatan itu terputus. “Belum ada lapangan terbang,” ujarnya.

    Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Patrige Renwarin menyatakan, seluruh jajaran Polres Tolikara telah diterjunkan untuk membantu perbaikan jalan dan jembatan.

    Namun, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Didi Agus Prihatno mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan.

    Tokoh agama di Tolilkara, Dorman Wandikbo, mengharapkan pemerintah kabupaten segera mengirimkan bantuan kepada korban banjir.

    Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, hingga Kamis, banjir masih menggenangi sekitar 980 rumah. Jumlah rumah yang terendam banjir juga jauh berkurang dibandingkan dengan jumlah sebelumnya, sekitar 10.000 rumah di 14 kelurahan.

    Wilayah yang masih tergenang banjir adalah Dukuh dan Pabean di Kecamatan Pekalongan Utara. Beberapa rumah di Pasirsari, Kecamatan Pekalongan Barat, juga masih terendam.

    Meski masih terendam banjir, tidak ada warga yang mengungsi. Mereka tetap beraktivitas di rumah.

    Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Pekalongan Hengky Susilo Hadi, daerah yang saat ini masih terendam banjir merupakan daerah yang rawan terkena pasang air laut. “Air yang menggenang tidak semata-mata dari air hujan, tetapi juga rob (pasang) dari laut,” katanya.

    Ketinggian air di wilayah tergenang berkisar 20 sentimeter hingga 30 sentimeter.

    Dari Cilacap, Jawa Tengah, dilaporkan, tanah bergerak melanda dua desa di Kabupaten Cilacap. Sedikitnya 70 rumah masih terancam ambles atau tertimpa longsoran. Curah hujan yang semakin tinggi menyebabkan struktur tanah di kawasan perbukitan semakin rentan runtuh.

    Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap Tri Komara Sidhy mengatakan, tanah ambles terjadi di wilayah perbukitan di Desa Sumpinghayu, Kecamatan Dayeuhluhur, pada Rabu malam. Akibatnya, sekitar 50 rumah warga yang berada bawah bukit tersebut terancam runtuh.

    (WIE/FLO/GRE)

    Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2016, di halaman 22 dengan judul “Banjir, 10.000 Warga Tolikara Mengungsi”.

    http://print.kompas.com/baca/2016/02/05/Banjir-10-000-Warga-Tolikara-Mengungsi

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on