DI TANAH ORANG MINANG: Hati Mendidih Di Embun Pagi……..

0
528

“Oomm Piet, coba bayangkan kalau tak ada petani menanam padi dan tak ada pula yang tanam sayuran. Ya, pasti kita sekarang hanya makan beras impor sama sayuran impor. Tapi bagaimana orang Minang yang sejak zaman moyang itu bersawah dan berladang sekarang harus berubah jadi buruh sawit. Sedih….sedih…sedih….akhirnya kami harus mengemis di tanah warisan Ninik Mamak kami sendiri”, kata sang Datuk Nagari Kapa.

Oleh: Pietsau Amafnini

“Ayoooo kawan-kawan silakan makan. Semua hidangan yang ada ini adalah masakan khas Padang, tapi janganlah mencari Rumah Makan Padang di sini…tidak ada”, kata Harry Octavian sang nakhoda Scale Up yang jadi tuan rumah untuk kegiatan kebersamaan para mitra FPP-United Kingdom ini. “Terimakasih bung Harry..”kataku. Biasalah, klo au masok di Warung Padang pasti ko liat itu semua barang yang dorang masak itu dorang kasikaluar samua di atas meja. Tinggal pilih saja, makan sesuai selera, nanti habis makan baru dorang hitung setiap piring ka mangkok yang isinya berkurang atau habis untuk dibayar. Woauuuu,,,masakan yang luar biasa, daerah dingin jadi dorang tau tamu pu selera ka ini. Dari makanan lokal sampe makanan internasional juga dorang siapkan samua. “Ini yang betul, makan dulu achhh…”, kata Bung Norhadi Karben dari Tanah Borneo.

Lantai 2 Resort Nuansa Maninjau Hotel itu dipadati. Baku rebut tampat duduk di pinggir untuk memandang jauh ke arah Danau Maninjau. Kebetulan posisi tempat itu persis di ketinggian gunung, kelokan 44. Hmmmm mulut dan tangan rupanya harus kompak, karena mata tra liat ke piring, tapi melototi pemandangan yang indah itu. Angin kencang di siang hari itu membuat awan jadi minggat dari langit di atas Puncak Lawang sehingga tampak membiru. Sedangkan panorama alam sekeliling hingga nunjauh ke arah danau itu tampak menghijau menggoda mata. Adooo…kenapa bagus begini ka, angin ko jang bawa hujan datang eeee. Biar paduan langit biru ini menyatu deng alam de pu hijau dolo. Mata macam enak ka. Hmmmmm……coba waktu ko jang melaju cepat ka…., biar hari sore ini terus terasa pagi. Agar kami tahu bersyukur pada yang Sang Pencipta atas karya-Nya yang agung ini.

Hmmm di balik tembok pagar hotel, petani-petani sawah dan ladang nampak sibuk. Itulah keseharian mereka. Seorang kawan dari kalangan Tetua Adat Minang Nagari Kapa pun bercerita bahwa para petani ini sebenarnya dari bagian lembah rendah Pasaman. Tapi karena tanah mereka sudah dikuasai perkebunan kelapa sawit sejak lama, maka mereka tidak bisa menggarap sawah-sawah yang sudah dijadikan hutan sawit. Akhirnya pindahlah mereka berladang dan bersawah di lereng-lereng gunung. Ohhhh begitu, pantesan sering muncul di siaran televisi bahwa ada bencana longsor di daerah Padang. “Oomm Piet, coba bayangkan kalau tak ada petani menanam padi dan tak ada pula yang tanam sayuran. Ya, pasti kita sekarang hanya makan beras impor sama sayuran impor. Tapi bagaimana orang Minang yang sejak zaman moyang itu bersawah dan berladang sekarang harus berubah jadi buruh sawit. Sedih….sedih…sedih….akhirnya kami harus mengemis di tanah warisan Ninik Mamak kami sendiri”, kata sang Datuk.

Hhhhhmmmmmm……rasanya sulit menelan makanan….rasa hati mendidih bercampur sedih menyimak cerita sang Datuk yang pernah ditahan penegak hukum tanpa alasan mendasar hanya karena berjuang untuk mendapatkan kembali haknya atas sebidang tanah warisan leluhurnya itu. “Sawit telah merampas semuanya”, kata Datuk. Adoooo……macam sedih ka…. Trada rica buah dan bawang merah di depan, trada asap dari tungku api maupun dari lahan gambut yang terbakar….tapi entahlah kenapa, air mata pun menetes tak terundang. Hmmm…ternyata kolonial itu belum pergi. Seakan-akan siasialah sudah darah yang bercucur dari dada Imam Bonjol sang penguasa belantara Bukit Barisan.

Lanjutlah kita dalam meeting room Nuansa Maninjau itu. Di depan sudah ada Bung Angky penanggung jawab kegiatan ini bersama sang narasumber dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Kemen-ATR). Angky membuka sesi ini dengan mengucapkan terimkasih di awal atas kesediaannya mewakili unsur negara bisa hadir di forum pertemuan mitra-mitra FPP di Padang ini. Hadir pula Kepala BPN/ATR setempat yang mendampingi utusan pemerintah pusat ini. Angky pun memperkenalkan mitra-mitra FPP yang berasal dari seluruh wilayah nusantara, dari Aceh hingga Papua atau yang Bung Karno dan Bung Hatta bilang dari “Sabang sampai Merauke”.

Semuanya adalah aktivis pegiat lingkungan, kemanusiaan, hak adat dan juga dari kalangan masyarakat adat yang memang sudah dan sedang mengalami konflik lahan baik secara struktural maupun secara horizontal. Jadi diharapkan kehadiran mbapa neggara ini bisa memberikan pencerahan agar membantu kawan-kawan mitra FPP ini untuk kemudian menemukan solusi-solusi terbaik dalam kerja-kerja advokasi yang dilakukan”, kata Bung Angky.

Hmmmm….sunyi….trada kashak-khusuk di dalam ruangan. Padahal tididiiiiitttt….ini dorang tunggu slak ka ini. Soalnya su tarlalu banyak masalah yang dihadapi, jadi kam tau sudah….dada macam mo manyala ka ini. Pace Dirjen Pertanahan ini de dengar pengarahan dari Angky sambil tersenyum…tapi pasti dalam hati juga hancur…hancur. Pasti de bilang….. yooooo siapa yang nggak tahu kamu orang aktivis….beruntung aku memilih datang ‘kan…coba bayangin klo kamu yang datangi aku di halaman kantor atau di Bundaran HI Jakarta Pusat, pasti mata silau melihat spanduk-spanduk dan pamflet-pamflet. Itu pasti dalam hati….yooooo di kampung yang trada signal jadi kam pura-pura diam, ini klo di kota, pasti FB deng WA rame ka apa. Tobat tooo….? Scale Up deng FPP kam hebat, taro dorang di kampung bagini supaya dorang serius dengar kata-kata kunci yang nanti isi dorang di sore ini, ………dan tibalah saatnya kitorang setia mendengar lantunan lagu lama dari wakil pemerintah Indonesia yang satu ini.

Dari dalam beta pu hati macam babisik, sssstttt pace ini kitorang yang undang jadi jang bikin kabur air, klo trada…kam tau sudah…pace belum sampekan de pu materi sa su siapkan 1 pernyataan sikap, 9 pertanyaan dan 60 saran untuk perubahan sesuai prinsip-prinsip FPIC…. supaya pas satuan angka sakti UU Agraria 1-9-60 itu harus diubah,…… diubah……, dan diubah…!!! Supaya bangsa ini bermartabat karena negara mengakui keberadaan dan hak-hak mereka atas tanah, air, hutan dan sumberdaya alam lainnya, sehingga rakyat tidak menjadi tamu di negerinya sendiri. Ini darah….darah leluhur mereka pace….., sehingga Imam Bonjol tak menyesali darahnya yang menganak sungai di Puncak Lawang. hmmmm….ancor…, mandidih ka trada. Nenggitu dulu ka…? Sebelum pace Kemen-ATR menjelaskan yang kitong su tau itu, bahwa Badan Pertanahan Nasional atau Kemen-Agraria dan Tata Ruang itu memang dorang yang mengeluarkan sertifikasi lahan atau tanah, tapi sayangnya dorang hanya TUKANG CATAT saaaajjjooooooo.***

Koordinator JASOIL Tanah Papua