FPP Memanggil….DI TANAH ORANG MINANG

0
373
Puncak Lawang
Puncak Lawang

Oleh: Pietsau Amafnini

Forest People Program (FPP) memanggil. Semua mitra kerja FPP dari Aceh hingga Papua diharapkan berkumpul di Sumatera Barat pada 26 Januari 2016. Surat Undangan Workshop dengan lampirannya berupa ticket Garuda Indonesia Airlines pun disebarkan melalui jasa email. Karena kota Padang jauh di mata dan jauh di kaki, maka tentu ticket Garuda adalah solusinya.

Jauh di mata, jauh di kaki. Ingatan akan sejarah dalam cerita zaman perjuangan oleh guru kelas semasa kecil di bangku sekolah dasar pun terasa jauh samar-samar. Sumatera, pulau Sumatera. Tempat dimana Kolonial Belanda menerapkan sistem Kerja Paksa untuk membangun jalan raya, membuka kebun tebu dan membuka kebun sawit. Kota Padang? Ohhh di sana tempatnya perusahaan Semen Padang dan juga perusahaan Batubara warisan Belanda. Apalagi? Sepertinya ada danau yang indah di sana, danau dimana sosok Buya Hamka yang terkenal dengan kemampuan belajar secara otodidak itu terlahir dan akhirnya menjadi orang hebat dengan buah-buah pikirannya yang luar biasa. Bahkan Bung Hatta pun terlahir di sana, Bukit Tinggi. Hmmm…rasanya aku sedang berada di dalam alam tahun-tahun sebelum kemerdekaan dan tahun-tahun Orde Lama Indonesia. Seperti apa pulau Sumatera di zaman kini? Negeri penuh misteri, negeri para pejuang ternama, negeri kelahiran Bung Hatta, negeri Buya Hamka, dan lain sebagainya.

Air mata Masyarakat Adat Nagari Kapa adalah jawabannya. Kata para Datuk Nagari Kapa setahun silam di kantor Yayasan Pusaka Jakarta, “Orang Adat Papua jangan sampai mengalami nasib yang sama seperti sejarah hidup Orang Sumatera. Dulu moyang kami berdarah-darah melawan Kolonial Belanda…, tapi tanah moyang kami tak punya lagi…, semua dikuasai oleh perkebunan sawit yang menguasai tanah warisan leluhur kami itu atas izin dari pemerintah Indonesia. Selama 9 bulan, kami menduduki lokasi perkebunan, membuat tenda-tenda perlawanan di sana, tapi perusahaan Wilmar dari Malaysia itu justru bersama polisi, tentara dan pemerintah tak memberi sepetak pun. Ketua Adat kami harus tinggal dipenjara dengan alasan tak jelas pula.” Hmmmmm…..

Tanggal 24 Januari 2016, saya bertolak dari Manokwari, Papua Barat menuju Padang dengan singgah bermalam sebentar di Jakarta. Terlalu jauh perjalanan ke Jakarta dari Manokwari, sehingga butuh istirahat. Kantor Yayasan Pusaka di Pasar Minggu telah lama menjadi rumah singgah bagi masyarakat adat dan aktivis dari Tanah Papua.

Esoknya, 25 Januari 2016, lanjutan perjalanan ke Padang bersama rombongan mitra kerja FPP dari Jakarta dan Bogor melalui Bandara Soekarno-Hatta. Tibalah waktunya Garuda Indonesia Airlines membelah awan hitam berpolusi di langit kota Jakarta hingga akhirnya nampak pemandangan indah lautan biru di bagian barat Indonesia itu. Pulau-pulau kecil yang terbentang di lautan samudera itu tampak indah biru menawan. Lebih indah lagi, cerahnya mentari menampilkan keindahan pantulan hijau dari pegunungan Bukit Barisan, Bukit Tinggi dan Puncak Lawang. Waouuuwwww indah sekali, rasanya ingin melompat dari atas pesawat. Ehhhmmm.

Sang pramugari kepala kabin Garuda itu pun memberi pengumuman kepada penumpang agar kembali mengenakan sabuk pengaman, karena sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Ohhh dikira disuruh melompat. Semua penumpang pun tampak sibuk memasang sabuk pengaman dengan wajah pucat, karena angin kencang dari Samudera membuat pesawat besar itu gemetar mencari posisi landing. Hmmmm…turun dan naik lagi…putar-putar sedikit…terus turun lagi dan naik lagi…beberapa kali begitu. Akhirnya, mendarat dengan baik, setelah mendapatkan posisi yang tepat. Sekitar 80 menit dari Jakarta.

Para penumpang pun melepas sabuk pengaman pertanda lepas pula kecemasan. Semua sudah berdiri dengan memegang barang-barang bawaan. Tapi pintu masih belum terbuka. Apakah menunggu petugas darat memasang tangga. Astaga. Pramugari kepala kabin itu memerintahkan penumpang agar kembali duduk dengan memasang kembali sabuk pengaman. Ssssssstttt…. semua terdiam.

Sudah hampir 30 menit terkurung di pesawat. Apakah kita akan kembali terbang ke Jakarta? Ada apa di darat? Ohhh tidak, ternyata salah parkir. Pesawat tadi sulit mendapat posisi tepat untuk mendarat, sehingga jauh dari posisi tangga. Pesawat pun dituntun oleh petugas darat menuju tempat parkir yang sebenarnya. Selanjutnya jangan ditanya, heheee…belum disuruh turun, tapi penumpang sudah berdiri di pintu. Akhirnya saya pun mendapat giliran keluar dari pesawat. Kawan dari Sumatera Barat pun berteriak…”Ooommm Piet….selamat datang di Kota Padang, Tanah Orang Minang”. Semua bergegas naik bus. Cuaca panas, hawa kemarau ternyata masih terasa di Kota Padang di musim angin barat ini. Anehhh…mungkin ini sudah yang dorang bilang perubahan iklim itu. “Yoooo, kitorang cari makan dulu ka…?”, kata Angky direktur Pusaka. Heheee taputar sampe mata merah, tapi trada Rumah Makan Padang. Memang yang ada hanyalah Masakan Padang, tak ada Warung Padang. “Makan kenyang, karena perjalanan ke tempat kegiatan masih jauh. Jalan berkelok-kelok (= berliku-liku, berbelok-belok, bertikung-tikung) dari pantai sampai Puncak Lawang. Nuansa Maninjau Hotel and Resort itu di Kelok 44 di desa Embun Pagi. Kita akan menempuh perjalanan sekitar 4 jam untuk sampai di sana. Udara di sana sangat dingin, diharapkan kawan-kawan tak lupa bawa jacket.” Begitulah Harry Octavian, Ketua Scale Up yang bertindak sebagai tuan rumah kegiatan ini menggambarkan situasinya.

“Ohhh tak masalah. Kita semua ini dari pulau-pulau besar semua, tentu sudah biasa dengan naik-turun gunung”, kataku. “Kasian kami orang Kapuas….di sana tak ada bukit, apalagi gunung tinggi. Gundukan tanah timbunan dari perusahaan sawit yang bikin kanal-kanal itu saja kami bilang itu gunung…”, kata Norhadi Karben dari Kalimantan ini. “Abang…, kalo kami orang Papua, dulu hutan masih utuh itu jalan tra kenal capek, tapi begitu sawit dia masuk dan habis tebang hutan, kami berdiri di gunung ini sudah bisa lihat puncak gunung sebelahnya…baru lihat saja sudah capek…apalagi mo jalan…?” kata Robertino Hanebora dari Nabire Papua. Hmmmm asyiknya berbagi cerita sesama orang pulau besar. Banyak sedihnya.***

Pietsau Amafnini Koordinator JASOIL Tanah Papua