MENANGKAP AWAN DI PUNCAK LAWANG

0
437
olahan gula merah di tanah minang (foto: Pietsau)
olahan gula merah di tanah minang (foto: Pietsau)

Oleh: Pietsau Amafnini

Semangat peserta luar biasa. Dinginnya Maninjau Puncak Lawang bukan halangan. Maklumlah pertemuan ini dari kita untuk kita. Ini saatnya belajar bersama. Curhat dari hati ke hati tentang kelakuan investor dan pemerintah di Indonesia. Kebetulan semua yang hadir adalah barisan sakit hati yang selalu berteriak untuk lawan perkebunan sawit. Hmmmm…heran…di kota para pejuang kemerdekaan ini, saya juga bingung mengenang perjuangan mereka. Kenapa dulu mereka berjuang untuk mengusir kolonial? Mana lebih sakit, diajajah oleh bangsa lain atau dijajah oleh bangsa sendiri? Kalau dulu, para pejuang melawan kolonial, dorang pekik teriak “merdeka”, terus sekarang para petani dan aktivis kalau melawan perkebunan sawit, dorang teriak apa…? “moratorium”. Ohhh lain dulu, lain sekarang. Lalu klo pemerintah? Itu dia, tak perlu pakai demo-demo segala. Kita undang mereka untuk sharing apa yang dorang sudah buat dan apa yang akan dorang kerjakan ke depan. Yalah, sama-sama berbagi. Toh sama-sama membangun negeri ini. Ehhhh ternyata dari semua narasumber yang diundang, hanya dua yang datang. Padahal semuanya orang-orang hebat di negeri ini, tentu lebih hebat dari Bung Hatta dan Buya Hamka. Wong zamannya saja beda, apalagi ilmunya? Belum lagi teknologi, klo dulu itu zaman batu tulis…habis ditulis, hapus tapi melekat di ingatan….klo sekarang google, google…..yang mo ditulis itu sudah ada, habis dibaca kembali lupa. Beda, benar-benar beda. Kalau dulu dorang menangkap maksud…..kalau sekarang dorang menangkap awan. Yoooo itu yang dorang bilang latihan lain, main lain. Bikin jalan darat masuk kampung saja tra jadi-jadi, baru mo bikin rel kereta api lagi. Nah…ini yang namanya Indonesia Hebat, kan…?

Bayangkan saja, klo hari ini semua narasumber ada di tempat, jelas ini forum kuliah berat sekali. Materi-materi saja menakutkan. Hmmmm mungkin dong takut ka apa, karena berat-berat…lain kali minta yang ringan-ringan saja. Bikin yang macam dorang tipu orang Papua itu, “orang papua boleh minta apa saja, kecuali merdeka”, itu yang nanti dorang datang terus. Lihat saja, materi pertama seharusnya bertema “Kebijakan Tata Kelola Hutan dan Perhutanan Sosial” dengan narasumber dari Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga dari Akademisi IPB. Yoooo, pasti dorang mo datang, tapi pening pula kepalanya, apa yang mau dishare? Apakah kebijakan? Kebijakan yang mana? Kebijakan yang menguntungkan siapa? Tata Kelola Hutan? Hutan yang mana? Hutan alam? Hutan adat? Hutan sosial? Atau Hutan Negara? Atau Hutan Tipu-tipu….? Hmmmm….Berat sekali. Belum lagi pasti dorang pikir, siapa juga yang mau datang untuk dapat ribut dari aktivis-aktivis lingkungan? Hmmmm paling juga dorang bilang kenapa harus capek-capek sampe ke Maninjau? Datang saja ke kantor Kemen-LHK, cuman 1 SSK yang dipersiapkan di halaman kantor…, aktivis kok takut. Sial….., tra jadi belajar ilmu jenis ini, dorang tra jadi datang.

Menangkap Awan di Tanah Minang (foto: Pietsau)
Menangkap Awan di Tanah Minang (foto: Pietsau)

Materi berikutnya boleh, dari 2 dari 3 orang narasumber yang diminta justru hadir. Boooooo….andalan sekali. Tema saja macam jurus jitu dari Kungfu Saolin. “Penyelesaian Konflik dan Penegakan Hukum” dengan narasumber dari Dirjen Penataan Agraria, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN; Kasubdit Pelayanan Pertanahan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; dan Akademisi Unand Padang. Ya……syukurlah dari Kementerian ATR/BPN datang, klo dari Kemenderian Desa tra datang juga tra masalah, tapi mungkin dorang belum mampu bedakan status Desa Adat dengan Desa Dinas ka apa…? heheee…mungkin ka….? Tapi…pace Kemen-ATR ko boleh……belum lagi pace Profesor Afrizal dari Unand. Pace yang satu ini dia kasi kitorang tabakar betul, baru jam pertama lagi. “adooooo…pace narasumber jam kedua nanti ko repot, soalnya pace profesor su kasi ilmu silat andalan ini”, ini kitong yang dari Papua pu mau-mau ini. Ajar ach…..biar trada yang tipu-tipu lagi.

Profesor Dr. Afrizal, MA, seorang akademisi dari Unand Padang telah duduk sebagai narasumber di depan, didampingi Angky sebagai moderator. Ya, profesor ini sudah bukan orang asing lagi bagi kalangan LSM pegiat lingkungan dan hak masyarakat adat. Apa yang dia ajar? “Cara-cara penyelesaian konflik di dalam dan di luar kawasan hutan”. Sunyi, ruangan sunyi….sampe trada yang bertanya ka…mo menyangga juga tra bisa. “achhhh ini sudah yang pas….” kata Tino Hanebora dari Papua.

Pace Profesor memulai dengan mengangkat dasar-dasar psikologis penyelesaian konflik. Satu persatu dikupas sampeeeeee tuntas jelas-jelas. Ada tiga dasar psikologis penyelesaian konflik, yakni (1) adanya keinginan/motivasi kedua belah pihak untuk mengakhiri masalah; (2) adanya keinginan kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah melalui dialog; (3) kedua belah pihak menurunkan aspirasi untuk memungkinkan terwujudnya kesepakatan. Kontribusi pihak ketiga adalah membangun komitmen di antara para pihak untuk mengubah sikap negative ke positif. Resolusi konfliknya adalah pemecahan kaitan antara pikiran dengan tindakan. Strateginya adalah mempengaruhi dimensi kejiwaan/pikiran para pihak. Konflik yang dimaksudkan adalah persepsi pertentangan kepentingan. Misalnya, konflik kehutanan adalah persepsi warga masyarakat desa hutan tentang kawasan hutan bertentangan dengan persepsi pemerintah tentang kawasan hutan atau dengan perusahaan tentang HPH.

Keterbatasan tekanan pada dasar-dasar psikologis adalah 1) Menyederhanakan konflik menjadi urusan pikiran dan perasaan. Padahal ada konflik structural. Kepentingan, pikiran dan motivasi lengket dengan suatu konteks sosial-politik. Persepsi memiliki konteks ekternal. Karena pikiran, persepsi, dan motivasi lengket dengan konteks, perubahan emosi dan motivasi memerlukan perubahan konteks; 2) Menggiring perhatian hanya pada manipulasi emosional dan mengabaikan penanganan konteks structural konflik; 3) Tidak memungkinkan untuk menyadari bahwa kegiatan advokasi adalah usaha resolusi konflik.

Pace Profesor dia kupas hancur-hancur betul sampe samua su mati merokok, tapi ruangan tra kosong. Ini ilmu…, ilmu,ilmu….biar jangan tabrak takaruan. Profesor dia tekankan ulang-ulang. Definisi konflik itu seperti ini, 1) Kepentingan yang bertentangan antara para pihak terbagi dua, yakni kepentingan obyektif dan subyektif; 2) Kepentingan yang bertentangan melekat pada suatu struktur sosial, politik, dan ekonomi; 3) Kepentingan pemerintah atas SDA melekat pada UUPA, UU Kehutanan, DLL serta posisi dan peranan pemerintah dalam Negara; 4) Kepentingan korporasi melekat pada struktur perekonomian dan hukum positif; 5) Kepentingan Masyarakat Hukum Adat atas SDA melekat pada hukum adat dan keadaan perekonomian yang dihadapi.

Dalam resolusi konflik, perhatian pada penyelesaian masalah relasi agen-struktur meliputi: 1) Penyelesaian pengaruh aturan-aturan dan sumberdaya terhadap pola relasi para pihak dalam proses resolusi. Ini adalah menyelesaikan kerangka structural pola hubungan; 2) Menjadikan pelaku menjadi agen yang berpengetahuan, memiliki kekuasaan (kemampuan untuk bertindak).

Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora, peserta workshop yang hadiri di acara FPP memanggil sedang menyantap buah pinang di Nagari Mimik Mamak (foto: Pietsau)
Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora, peserta workshop yang hadiri di acara FPP memanggil sedang menyantap buah pinang di Nagari Mimik Mamak (foto: Pietsau)

“Konflik di dalam dan di luar kawasan hutan adalah konflik structural”. Peristiwa-peristiwa konflik terkait dengan: 1) Aturan-aturan HGU: aturan-aturan penetapan, kegunaan, dan konsekuensi HGU. Tuntutan kembalikan tanah yang HGU telah terbit lebih sulit penyelesaiannya dibandingkan dengan HGU belum keluar. Hapusnya HGU sebagaimana dimaksud di atas, mengakibatkan tanahnya menjadi tanah negara. Aturan-aturan HGU: 1) Permentan No. 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang ISPO: – Syarat pengusahaan sertifikasi ISPO: Hak atas tanah sesuai peraturan di bidang pertanahan; – Prinsip dan kriteria kelapa sawit berkelanjutan.

Yoooo….ini kitorang pu jurus, jadi biar sudah…trada pertanyaan. Hanya konsultasi saja tentang apa yang kitorang su buat di daerah masing-masing. Pace Profesor juga orang lapangan jadi tau yang kitorang pu mau. Beberapa cerita saja dari beberapa daerah, yaaaa minta saran dari profesor….kira-kira klo nanti masalah di dalam HGU klo su trabisa dihadapi lewat tuntutan pengadilan, apakah bisa diselesaikan dengan panah…? Hmmmmmm….ini artinya klo semua jurus su habis terpakai tapi tra mempan, itu yang nanti terjadi. Heheee ternyata sudah jam 14:00 WIB, itu berarti saatnya makan siang untuk kawan-kawan dari wilayah barat dan selamat makan sore untuk kawan-kawan dari timur. Achhhh rame jadi biar makan malam sekalian. Kitong su dapa ilmu sakti jadi mo tunggu pace dari Kemen-ATR supaya kitong tanya dia tentang tanah-tanah yang dorang kasi buat HGU Sawit itu.

Sssstttt….klo di Papua itu kegiatan begini kitong berdoa sebelum makan…tapi klo di Maninjau, kita mop sebelum makan. Achhh ini masalah kata DLL yang tadi sa liat di pace profesor pu materi itu. Pace profesor yang sudah berdiri nampak duduk kembali. Serius ini. Tadi ada kata DLL di materi tooo…? operator laptop yang mencatata juga perlihatkan kembali materi. Kawan lain ada yang lapar tapi ini karena Oom Piet tukang malaria dari Papua itu yang bicara, semua kembali duduk. Semua tampak bingung, ada apa ini? Apakah orang-orang Papua bikin rusuh? Tarada achhhh…itu tadi soal DLL. Begini ada satu pace to, dia dari kampung jadi maklum baru pertama kali datang ke kota. Dia masuk di Warung Makan Padang, kebetulan di Papua itu warung makan padang itu baku sepak dari kota sampe di kampung-kampung. Dia lihat daftar menu makanan begini, ada semua tertulis di situ, termasuk DLL. Trus dia tanya mba pelayan yang berdiri di dekat dia tunggu pace mo pesan apa. Pace bilang sa mo yang DLL. Trus mba dia ketawa baru de bilang, bapak DLL ini bukan makanan, ini singkatan dari Dan Lain-Lain. Pace langsung berdiri, acchhh kam stop tipu sudah…ini Daging Lao-Lao baru kam tipu lagi. Hahaaaeeeee…..Lao-Lao itu sebutan umum untuk kanguru kerdil. Selamat makan, ini masakan Padang, tak ada warung padang….semua ada…kecuali DLL. hahaeeeee

Selepas makan siang, biasalah pasti merokok. Jarang aktivis tidak ada yang merokok. Ini gaya hidup broooo…..hmmm macam masih kurang ka…..apa itu? “Adooo masih pagi sudah soak kaka…biar su makan kenyang begini, tapi klo pinang belum masuk….parah”, kata Tino Hanebora. “Di Tanah Orang Minang banyak pinang, tapi trada sirih deng kapur eeeee,” lanjutnya. “Itu sudah pace, kalamaren sa juga buru-buru jadi lupa bawa pinang. Yooo, sa mo bawa tapi takut nanti di bandara klo dorang periksa dapa kapur dong kira itu sabu-sabu lagi, aihhh lebebae tra usah bawa sudah…masalah sawit su bikin pusing baru repot deng kapur pinang yang dong kira itu sabu-sabu lagi,” Tino terangkan. “Yooo ko benar pace, sa juga dari tadi malam sa liat-liat buah pinang bagus-bagus baru trada sirih eeee…soak..nanti sebentar sore sa mo jalan-jalan cari daun sirih, mungkin ada ka…? Klo menurut cerita dolo-dolo itu, orang minang juga tau makan pinang, malah dorang sampe ekspor pinang, tapi tratau sekarang ini mungkin dorang su maju, jadi dong tanam sawit saja ka apa?”kataku.

Adooo su trada pinang baru dingin lagi….achhhh bakurampas kopi saja….biar pake tipu mata untuk bertahan di ruang diskusi….apalagi sebentar ini pace pemerintah pusat dari Kemen-ATR yang kasi materi. Mungkin dia mo kastau kitorang tentang cara-cara rebut kembali tanah dari perusahan ka apa…? Atau mungkin dia mo jujur tentang bagaimana cara-cara pemerintah dengan perusahaan dorang tipu-tipu masyarakat…? Siapa tau yarooooo….***

Koordinator JASOIL Tanah Papua