NAIK KE PUNCAK LAWANG

0
547
Nagari Ninik Mamak
Nagari Ninik Mamak

Oleh; Pietsau Amafnini

Gadis-gadis Minang di Rumah Makan itu pun tampak sibuk menyimpan piring-piring yang sudah kosong isinya dan berserakan di atas meja panjang itu. Mereka pun terlihat heran-heran melihat orang-orang kelaparan yang baru saja tiba dari seluruh sudut Indonesia. Rupanya pembayaran sudah dibereskan, sehingga kami diperintahkan agar segera naik kembali ke bus. Pak sopir bus pun terpaksa mengakhiri rokok sampoernanya, walau masih setengah batang. “Waduh, panas sekali. Tapi kita akan menuju tempat dingin”, kata Sopir bus.

Benar. Jalan berkelok-kelok. Pelan-pelan menanjak naik ke arah Puncak Lawang. Semakin jauh meninggalkan pantai, semakin tersa dingin pula hawanya. Rumah-rumah khas Orang Minang hingga rumah modern dengan simbol adat Minangkabau pun berjejer di sepanjang jalan. Sumatera Barat memang daerah pertanian. Sawah-sawah membentang dari lembah, lereng hingga puncak bukit-bukit. Daerah berkelimpahan air. Model persawahan para petani di Tanah Orang Minang ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman petualangan di Manggarai, Tanah Flores. Benar-benar seni, indah. Petak-petak sawah dibuat sedemikian rupa sehingga tampak membatik di tubuh bukit-bukit itu. Sementara bus terus melaju menelusuri jalan yang tentu banyak menelan korban dalam sejarah pembangunannya sejak zaman kolonial itu.

Puncak Lawang Nagari Ninik Mamak (foto: Pietsau)
Puncak Lawang Nagari Ninik Mamak (foto: Pietsau)

Heheee…belum sampai satu jam perjalanan menuju kelok 44, tempat di mana Nuansa Maninjau Hotel itu berada. Katanya Hotel ini dibangun oleh seorang arsitektur dari Belgia. Waouuuu…pasti indah sekali. Rasanya sudah tak sabar untuk melepaskan lelah di sana. Tapi perjalanan baru satu jam. Hawa panas dari pantulan permukaan laut masih terasa. Ini berarti perjalanan ini masih berputar di sekitar lembah. Adoooo….baru selesai makan, tapi sudah lapar lagi. Seorang teman seperjalanan pun beri isyarat bahwa dia merasa mual. Waduhhh, jangan ada yang memberi contoh, nanti semua buat seturut contoh. Hmmm pak Sopir andalan. Ternyata semua orang bisa bawa kendaraan, tapi tak semua bisa bernyali bila bukan medan harian hidupnya. Penumpang pun sama halnya. Katanya semua dari tanah besar, tapi sayangnya semua tertidur, kecuali sang sopir. Dalam hatiku, semoga sopir tak tertidur dalam perjalanan.

Roda bus berputar di dekat garis pinggir jurang yang sangat dalam, melaju pelan menanjak kelokan sepanjang barisan bukit-bukit yang menjadi pemandangan indah tersendiri di Tanah Orang Minang ini. Petak-petak sawah nampak tersusun indah di lereng gunung sebelahnya, kadang pandangan terpeleh oleh jajaran pepohonan semara. Teringat pula lagu masa kecil “Naik, naik ke puncak gunung….tinggi, tinggi sekali…kiri, kanan terlihat saja…hanya pohon cemara…”. Beberapa ekor kerbau terlihat di petakan sawah yang baru saja dibajak. Sebagian petani pun tampak menyiang gulma di antara tanaman padi yang masih tampak menghijau itu. Luar biasa kataku. Pemandangan indah, sebuah inspirasi hidup. Aku pun teringat suara guru kelas semasa duduk bangku sekolah dasar, “negara Indonesia adalah negara Agraris”. Pandangan mataku tertuju ke sebuah gubuk di sana. Ada tumpukan karung putih bertuliskan “BULOG”. Astaga, kenapa di daerah persawahan ini ada karung beras bulog? Kawan dari Scale Up yang memandu perjalanan ini bilang “oom Piet, itu karung RASKIN”. Hmmmm…terdiam langsung, su trada kata-kata. “Waduh, RASKIN lagi,” kataku.

Jalan berkelok-kelok, tapi akhirnya tiba pula di kelok 44. Di puncak tanjakan itu ada tanda bertuliskan Kelok 44 Maninjau. Ehhhhm….sampailah kita, tikung kiri masuk Hotel Nuansa Maninjau bikinan arsitek dari Belgia. Andalaaannnn…dari posisi hotel yang berada di Desa Embun Pagi ini bisa memandang jauh ke bawah, di sana ada Danau Maninjau. Sebuah danau bekas vulkanik. Ujang, kawan seperjuangan di bawah bendera FPP yang asli Orang Minang ini menjelaskan bahwa tempat yang sekarang ada hotel ini, dulu adalah tempat senang-senangnya orang Belanda semasa kolonial. Di kawasan Puncak Lawang sejak dulu dijadikan perkebunan tebu oleh Belanda. Tanaman tebu itu masih ada dan terus dikembangkan oleh masyarakat lokal sampai sekarang ini. “Kita sekarang berada di Kelok 44, kalau mau turun ke danau kita butuh 1 jam perjalanan untuk sampai Kelok 1. Di tepi danau, ada museum Buaya Hamka”, cerita Ujang.

Heheee…rasanya hawa di luar kamar lebih dingin daripada AC di kamar. Tapi karena semua ingin melihat keindahan di sore hari itu, memilih jalan-jalan di halaman. Akhirnya terjadilah lomba bersin di malam hari. Biasa, tubuh kaget suasana alam di tempat baru. Obatnya, secangkir kopi hitam dengan sebatang rokok, ternyata ampuh. Belum lagi sop panas ala Padang yang disediakan makan malam? Hmmmm enaaaak.

Bukan perjalanan biasa. Apalagi jalan-jalan tanpa tujuan. Bila tanpa beralasan, tak mungkin kami berada di atas Danau Maninjau, Puncak Lawang Padang, Tanah Orang Minang itu. Bila tanpa tujuan, tentu Forest People Program (FPP) tak memanggil semua mitra kerjanya dari Aceh hingga Papua untuk “mandi angin” di desa Embun Pagi itu. FPP memanggil untuk sebuah worskhop tentang Strategi Advokasi Kebijakan Kehutanan dan Lahan yang terlaksana di Sumatera Barat pada 26-28 Januari 2016. Worskhop ini dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta baik dari kalangan Komunitas Masyarakat Adat maupun kalangan Aktivis NGO mitra FPP yang menaruh perhatian pada kerja-kerja advokasi Keberadaan dan Hak-hak Masyarakat Adat atas tanah, hutan, air dan sumberdaya alam pada umumnya. Tidak hanya itu, para narasumber dari beberapa Kementerian terkait zaman pemerintahan Presiden Jokowi pun diundang ke sini.

FPP adalah sebuah organisasi berbasis jaringan yang berpusat di United Kiongdom, Inggris. FPP sudah biasa mengumpulkan para mitra kerjanya pada awal tahun untuk mendiskusikan, mengkaji dan merefleksikan kembali aksi-aksi advokasi yang telah dilakukan maupun tantangannya di lapangan, serta menemukan kembali rumusan-rumusan masalah, strategi, pendekatan dan aksi advokasi yang baru dan relevan bermanfaat bagi transformasi sosial dan lingkungan. Setidaknya itu tujuan kegiatannya. Yaaaa, curhat-curhatanlah. Katanya supaya tidak merasa jenuh dan juga tidak merasa sendiri menghadapi konflik-konflik yang seakan tak pernah tiada akhirnya. Selanjutnya, istirahat dulu sampe besok pagi. Tentu semua terkurung di dalam kamarnya masing-masing, karena selain dingin, alam pun seakan menyambut tamu dengan unjukrasa di luar gedung, angin ribut dan hujan lebat. Mau merayap ke mana? Cahaya lampu hanya ada di seputar kompleks hotel. Listrik padam, rumah-rumah penduduk di seantero desa Embun Pagi itu pada gelap sepanjang malam itu. Belum lagi kita orang baru tak tau arah jalannya. Asyyiiiikkk….sepertinya PLN tahu kalau ada tamu jauh baru nginap di hotel yang berada di puncak gunung ini. Ternyata gelap di puncak, tapi lampu-lampu terang di kota-kota sepanjang pinggiran danau. Woauuuu…..dia pu indah saja, andaaaannn…itu yang namanya keindahan Danau Maninjau di malam hari. Hmmmm ternyata mati lampu juga ada untungnya…, dorang sengaja ka apa.***

Koordinator JASOIL Tanah Papua