Cetak | 5 Februari 2016

AUCKLAND, KAMIS — Kemitraan Trans-Pasifik atau populer dengan sebutan TPP (Trans- Pacific Partnership) resmi disahkan dengan ditandatangani oleh 12 menteri negara anggota, Kamis (4/2), di Auckland, Selandia Baru. Ini adalah salah satu perjanjian dagang multinasional terbesar yang pernah disahkan.

Setelah pembicaraan panjang selama lima tahun, TPP yang tetap mendapatkan tentangan keras oleh sebagian masyarakat di negara-negara anggotanya harus bersiap menghadapi kenyataan itu.

Ke-12 negara penanda tangan adalah mereka yang menguasai 40 persen nilai ekonomi dunia. Mereka punya waktu dua tahun untuk meratifikasi atau menolak perjanjian yang dokumennya mencapai 6.000 halaman tersebut. Mereka adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Malaysia, Vietnam, Singapura, Brunei, Australia, Selandia Baru, Kanada, Meksiko, Cile, dan Peru.

Seperti diberitakan laman BBC, Menteri Perdagangan Australia Andrew Robb adalah menteri pertama yang menandatangani pakta TPP dan diakhiri oleh Menteri Perdagangan Selandia Baru Todd McClay.

Sebagai sebuah kemitraan dagang, TPP dinilai sebagai pakta yang paling ambisius dalam perjanjian perdagangan bebas. Dalam ambisinya itu, TPP menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh negara-negara anggotanya.

Sebagai sebuah pakta perdagangan, TPP meliputi populasi sekitar 800 juta jiwa, hampir dua kali lipat dari populasi pasar tunggal Uni Eropa.

Pakta ini secara tegas menuntun peta jalan penguatan kerja sama ekonomi di antara negara anggotanya, memangkas hambatan tarif, dan meningkatkan perdagangan untuk menggenjot pertumbuhan.

Hampir semua perdagangan barang dan jasa termasuk dalam pakta TPP ini, tetapi tidak demikian dengan tarif, di mana pajak impor akan segera dihilangkan, meski tidak seragam kerangka waktunya. Sebagian pajak impor akan butuh waktu lebih lama dibandingkan yang lain untuk dihilangkan. Secara keseluruhan, sebanyak 18.000 tarif akan terkena dampak pakta TPP ini.

Sebagai contoh, para anggota sepakat untuk mengurangi dan menghilangkan kebijakan-kebijakan yang menghambat, mulai dari produk pertanian hingga barang industri.

Untuk tekstil dan garmen, TPP akan menghilangkan semua hambatan tarif meski perwakilan dagang AS memastikan hambatan tarif untuk dua produk ini baru akan hilang segera setelah para anggota meratifikasi.

Meski demikian, TPP bukannya tanpa tantangan. Sebagian warga AS misalnya menentang karena khawatir peluang kerja akan beralih dari AS ke negara-negara berkembang.

Kritik tajam juga datang dari Public Citizen’s Global Trade Watch yang mengatakan, teks final pakta jauh lebih buruk daripada yang diharapkan.

“Rupanya, para pendukung TPP ini terpaksa melakukan negosiasi secara sangat rahasia karena teks memperlihatkan bahwa TPP akan menghilangkan peluang kerja warga Amerika, menurunkan upah, dan membanjiri kita dengan produk-produk yang tidak aman,” ujar Lori Wallach, direktur lembaga tersebut.

Kemarin, Presiden AS Barack Obama mengatakan kepada Kongres bahwa dia sepenuhnya mendukung TPP, sementara kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, bulan lalu menyatakan tegas menentang TPP. Hillary Clinton juga disokong dua kandidat Demokrat lainnya, Bernie Sanders dan Martin O’Malley. (joy)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2016, di halaman 10 dengan judul “TPP Disahkan di Auckland”.

http://print.kompas.com/baca/2016/02/05/TPP-Disahkan-di-Auckland

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Cetak | 5 Februari 2016

    AUCKLAND, KAMIS — Kemitraan Trans-Pasifik atau populer dengan sebutan TPP (Trans- Pacific Partnership) resmi disahkan dengan ditandatangani oleh 12 menteri negara anggota, Kamis (4/2), di Auckland, Selandia Baru. Ini adalah salah satu perjanjian dagang multinasional terbesar yang pernah disahkan.

    Setelah pembicaraan panjang selama lima tahun, TPP yang tetap mendapatkan tentangan keras oleh sebagian masyarakat di negara-negara anggotanya harus bersiap menghadapi kenyataan itu.

    Ke-12 negara penanda tangan adalah mereka yang menguasai 40 persen nilai ekonomi dunia. Mereka punya waktu dua tahun untuk meratifikasi atau menolak perjanjian yang dokumennya mencapai 6.000 halaman tersebut. Mereka adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Malaysia, Vietnam, Singapura, Brunei, Australia, Selandia Baru, Kanada, Meksiko, Cile, dan Peru.

    Seperti diberitakan laman BBC, Menteri Perdagangan Australia Andrew Robb adalah menteri pertama yang menandatangani pakta TPP dan diakhiri oleh Menteri Perdagangan Selandia Baru Todd McClay.

    Sebagai sebuah kemitraan dagang, TPP dinilai sebagai pakta yang paling ambisius dalam perjanjian perdagangan bebas. Dalam ambisinya itu, TPP menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh negara-negara anggotanya.

    Sebagai sebuah pakta perdagangan, TPP meliputi populasi sekitar 800 juta jiwa, hampir dua kali lipat dari populasi pasar tunggal Uni Eropa.

    Pakta ini secara tegas menuntun peta jalan penguatan kerja sama ekonomi di antara negara anggotanya, memangkas hambatan tarif, dan meningkatkan perdagangan untuk menggenjot pertumbuhan.

    Hampir semua perdagangan barang dan jasa termasuk dalam pakta TPP ini, tetapi tidak demikian dengan tarif, di mana pajak impor akan segera dihilangkan, meski tidak seragam kerangka waktunya. Sebagian pajak impor akan butuh waktu lebih lama dibandingkan yang lain untuk dihilangkan. Secara keseluruhan, sebanyak 18.000 tarif akan terkena dampak pakta TPP ini.

    Sebagai contoh, para anggota sepakat untuk mengurangi dan menghilangkan kebijakan-kebijakan yang menghambat, mulai dari produk pertanian hingga barang industri.

    Untuk tekstil dan garmen, TPP akan menghilangkan semua hambatan tarif meski perwakilan dagang AS memastikan hambatan tarif untuk dua produk ini baru akan hilang segera setelah para anggota meratifikasi.

    Meski demikian, TPP bukannya tanpa tantangan. Sebagian warga AS misalnya menentang karena khawatir peluang kerja akan beralih dari AS ke negara-negara berkembang.

    Kritik tajam juga datang dari Public Citizen’s Global Trade Watch yang mengatakan, teks final pakta jauh lebih buruk daripada yang diharapkan.

    “Rupanya, para pendukung TPP ini terpaksa melakukan negosiasi secara sangat rahasia karena teks memperlihatkan bahwa TPP akan menghilangkan peluang kerja warga Amerika, menurunkan upah, dan membanjiri kita dengan produk-produk yang tidak aman,” ujar Lori Wallach, direktur lembaga tersebut.

    Kemarin, Presiden AS Barack Obama mengatakan kepada Kongres bahwa dia sepenuhnya mendukung TPP, sementara kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, bulan lalu menyatakan tegas menentang TPP. Hillary Clinton juga disokong dua kandidat Demokrat lainnya, Bernie Sanders dan Martin O’Malley. (joy)

    Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2016, di halaman 10 dengan judul “TPP Disahkan di Auckland”.

    http://print.kompas.com/baca/2016/02/05/TPP-Disahkan-di-Auckland

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on