Sabtu, 12 Maret 2016, 17:00 WIB

PEKANBARU — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menjelaskan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) banyak terjadi karena ulah manusia. Kesimpulan ini didapat kannya berdasarkan laporan masyarakat.

Siti menjelaskan hingga awal Maret telah terdapat 25 kasus kebakaran hutan yang ditangani aparat kepolisian setempat. Hasilnya, dari 25 kasus terdapat 32 oknum yang sengaja membakar hutan dan lahan.

“Rata-rata untuk persiapan menanam sawit,” ujarnya di Jakarta, Jumat (11/3).

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Pihaknya ingin memaksimalkan masyarakat desa yang dekat dengan kawasan hutan. Mereka diharapkan dapat berperan aktif mencegah kebakaran.

Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan terdapat 89 desa di Riau paling rawan karhutla. Desa tersebut harus diawasi dengan patrol petugas sesering mungkin.

“Desa tersebut selama ini sudah sering kali mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya karena memang memiliki lahan gambut yang mudah terbakar,” kata Kepala Bidang Wilayah II Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau, Supartono Yusup, di Pekanbaru, Riau, Jumat (11/3).

Desa yang paling rawan terjadi kebakaran terbanyak di Dumai, Bengkalis, dan Siak. Sejak Januari 2016, pihaknya sudah berpatroli ke seluruh wilayah dan desa yang selama ini sering terjadi kebakaran.

Pihaknya sudah membentuk tim patroli terpadu dan terukur. Di dalamnya ada unsur TNI dan polisi. Masyarakat setempat juga dilibatkan.

Dari hasil pembentukan tim tersebut, dia mengakui bahwa masih ditemukan 11 titik panas (hot spot) di Riau. Mengenai kebakaran hutan di Dumai, Supartono mengatakan, saat ini sudah terkendali. Api sudah tidak ada. Yang ada hanya asap di beberapa titik.

Tim di sana terus memadamkan api di lokasi kebakaran agar tak meluas.

Untuk memadamkan api di Dumai, tim sudah menerjunkan total 750 orang. Semuanya adalah tim dari gabungan TNI, Polri, dan tim Manggala Agni KLHK.

Dari laporan yang disampaikan BMKG, katanya, wilayah pesisir Riau, seperti Dumai, Bengkalis, dan Siak sejak awal Februari hingga akhir Maret sudah memasuki kemarau. Hal ini mengakibatkan titik panas meningkat.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menegaskan, pemerintah akan tetap bekerja keras memadamkan kebakaran seiring dengan upaya untuk merestorasi gambut. JK telah mendapatkan laporan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait Karhutla yang terjadi di Sumatera, Riau, serta Kalimantan.

“Jadi, prosedurnya tim dari darat dan juga udara harus kerja sambil kita restorasi gambut itu, sambil jalan. Menyambut waktu untuk mempertemukan tiga hal ini, restorasi jalan, sehingga bahaya ini (kurang),” kata JK di Jakarta.

Selain itu, ia juga menegaskan moratorium penebangan hutan untuk perkebunan harus dilaksanakan dengan ketat. Wapres meminta masyarakat atau pemilik perkebunan untuk tidak memperluas lahan dengan cara membakar.

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan mengklaim pemerintah kini lebih tanggap dalam menangani karhutla.

Menurutnya, yang pertama dilakukan pemerintah daerah (Pemda) setempat ada lah mengeluarkan state of emergency lebih awal.

Dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bisa langsung digelontorkan. Tim penanggulangan bencana gabungan dan helikopter dapat dikerahkan.

Luhut pun menilai, tanggap darurat bencana pada tahun ini lebih cepat dibanding tahun kemarin. Selain itu, ia mengatakan, pemerintah juga sudah membuat kanal di sejumlah daerah, khususnya yang berada di lahan gambut. Tujuannya, untuk mencegah meluasnya karhutla.

Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli menginginkan daerahnya menjadi contoh penanganan karhutla. Sebabnya, Jambi berkomitmen mengatasi kabut asap. dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. rep: Dessy Suciati Saputri/antara, ed: Erdy Nasrul

http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/03/12/o3x7sf1-89-desa-rawan-karhutla

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sabtu, 12 Maret 2016, 17:00 WIB

    PEKANBARU — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, menjelaskan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) banyak terjadi karena ulah manusia. Kesimpulan ini didapat kannya berdasarkan laporan masyarakat.

    Siti menjelaskan hingga awal Maret telah terdapat 25 kasus kebakaran hutan yang ditangani aparat kepolisian setempat. Hasilnya, dari 25 kasus terdapat 32 oknum yang sengaja membakar hutan dan lahan.

    “Rata-rata untuk persiapan menanam sawit,” ujarnya di Jakarta, Jumat (11/3).

    Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Pihaknya ingin memaksimalkan masyarakat desa yang dekat dengan kawasan hutan. Mereka diharapkan dapat berperan aktif mencegah kebakaran.

    Sementara itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan terdapat 89 desa di Riau paling rawan karhutla. Desa tersebut harus diawasi dengan patrol petugas sesering mungkin.

    “Desa tersebut selama ini sudah sering kali mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya karena memang memiliki lahan gambut yang mudah terbakar,” kata Kepala Bidang Wilayah II Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau, Supartono Yusup, di Pekanbaru, Riau, Jumat (11/3).

    Desa yang paling rawan terjadi kebakaran terbanyak di Dumai, Bengkalis, dan Siak. Sejak Januari 2016, pihaknya sudah berpatroli ke seluruh wilayah dan desa yang selama ini sering terjadi kebakaran.

    Pihaknya sudah membentuk tim patroli terpadu dan terukur. Di dalamnya ada unsur TNI dan polisi. Masyarakat setempat juga dilibatkan.

    Dari hasil pembentukan tim tersebut, dia mengakui bahwa masih ditemukan 11 titik panas (hot spot) di Riau. Mengenai kebakaran hutan di Dumai, Supartono mengatakan, saat ini sudah terkendali. Api sudah tidak ada. Yang ada hanya asap di beberapa titik.

    Tim di sana terus memadamkan api di lokasi kebakaran agar tak meluas.

    Untuk memadamkan api di Dumai, tim sudah menerjunkan total 750 orang. Semuanya adalah tim dari gabungan TNI, Polri, dan tim Manggala Agni KLHK.

    Dari laporan yang disampaikan BMKG, katanya, wilayah pesisir Riau, seperti Dumai, Bengkalis, dan Siak sejak awal Februari hingga akhir Maret sudah memasuki kemarau. Hal ini mengakibatkan titik panas meningkat.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menegaskan, pemerintah akan tetap bekerja keras memadamkan kebakaran seiring dengan upaya untuk merestorasi gambut. JK telah mendapatkan laporan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait Karhutla yang terjadi di Sumatera, Riau, serta Kalimantan.

    “Jadi, prosedurnya tim dari darat dan juga udara harus kerja sambil kita restorasi gambut itu, sambil jalan. Menyambut waktu untuk mempertemukan tiga hal ini, restorasi jalan, sehingga bahaya ini (kurang),” kata JK di Jakarta.

    Selain itu, ia juga menegaskan moratorium penebangan hutan untuk perkebunan harus dilaksanakan dengan ketat. Wapres meminta masyarakat atau pemilik perkebunan untuk tidak memperluas lahan dengan cara membakar.

    Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan mengklaim pemerintah kini lebih tanggap dalam menangani karhutla.

    Menurutnya, yang pertama dilakukan pemerintah daerah (Pemda) setempat ada lah mengeluarkan state of emergency lebih awal.

    Dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bisa langsung digelontorkan. Tim penanggulangan bencana gabungan dan helikopter dapat dikerahkan.

    Luhut pun menilai, tanggap darurat bencana pada tahun ini lebih cepat dibanding tahun kemarin. Selain itu, ia mengatakan, pemerintah juga sudah membuat kanal di sejumlah daerah, khususnya yang berada di lahan gambut. Tujuannya, untuk mencegah meluasnya karhutla.

    Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli menginginkan daerahnya menjadi contoh penanganan karhutla. Sebabnya, Jambi berkomitmen mengatasi kabut asap. dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. rep: Dessy Suciati Saputri/antara, ed: Erdy Nasrul

    http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/03/12/o3x7sf1-89-desa-rawan-karhutla

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on