Bara di Intan Jaya

1
1071
Peta Pertambangan MINERBA Intan Jaya
Peta Pertambangan MINERBA Intan Jaya

Front Mahasiswa Independen Peduli Dampak Perusahaan Tambang (FOSIPDAP) mendesak Pemerintah Kabupaten dan DPRD Intan Jaya untuk menghentikan kegiatan survey dan menolak pemberitan ijin eksplorasi pertambangan PT. Sinar Bara Semesta di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua (Jubi, 18 Maret 2016). FOSIPDAP juga menuntut agar pemerintah membuka informasi secara transparan dan menghentikan pembohongan rakyat.

Keberadaan status izin PT. Sinar Bara Semesta masih misterius, hasil penelusuran kami terkait perusahaan dan izin pertambangan minerba di Kabupaten Intan Jaya, ditemukan ada sembilan perusahaan yang telah mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP), yakni: (1) PT. Benliz Pacific (SK IUP Gubernur Papua No. 065-41, Tahun 2011, luas 82.270 ha, produksi emas); (2) PT. Mega Citra Daya (SK IUP Bupati Waropen No. 070, Tahun 2010, luas 24.140 ha, profuksi batubara);  (3) PT. Mega Daya Persada (SK IUP Bupati Waropen No. 088, Tahun 2010, luas 25.000 ha, produksi batubara); (4) PT. Irja Eastern Minerals (KK Eksplorasi SK Menteri No. 480.K/30.01/DJB/2008, luas 180.930 ha, produksi emas); (5) PT. Nusapati Satria (SK IUP Gubernur Papua No. 065-45, Tahun 2011, luas 25.170 ha, produksi emas);  (6) PT. Kotabara Mitratama (SK IUP Bupati Paniai No. 017, Tahun 2010, luas 21.000 ha, produksi emas); (7)  PT. Nabire Bakti Mining (KK Study Kelayakan SK Menteri No. 308.K/30.00/DJB/2008, luas 199.504 ha, produksi emas); (8) PT. Freeport Indonesia Corporation (KK Study Kelayakan SK Menteri No. 330.K/30.00/DJB/2008, luas 202.950 ha, produksi tembaga); (9) PT. Indonesia Multi Energi (IUP Eksplorasi SK Bupati Puncaka Jaya No. 23 Tahun 2011, luas 14.770, produksi emas).

Dari gambaran peta perizinan pertambangan di Kabupaten Intan Jaya, diperkirakan perusahaan yang beroperasi di Distrik Agisipa adalah PT. Irja Eastern Minerals. Perusahaan ini diperkirakan masih berhubungan dengan PT. Freeport Indonesia Corporation, berlamatkan di Plaza 89, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. X, Jakarta Selatan. Pada alamat tersebut juga merupakan alamat PT. Nabire Bakti Mining (NBM), yang sebagian besar konsesi PT. NBM berada di Kabupaten Paniai.

Berdasarkan nama dan alamat PT. Sinar Bara Semesta (SBS), kami temukan alamat PT. SBS persis sama dengan perusahaan batu bara PT. Batu Bara Duaribu Abadi (BBDA), beralamatkan di Jl. Alaydrus Nomor 81 B, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat (10130), Telp. 021 63867179 dan 63867180. Fax: 021 63867179 -Email: [email protected] Pada alamat yang sama terdapat perusahaan batu bara PT. Mahakam Sumber Jaya (MSJ). Diketahui kedua perusahaan batubara PT. BBDA dan PT. MSJ, berada dibawah satu payung Tanito Harum Group.

Diketahui komposisi pemilikan saham dari PT. BBDA, sebagian besar dimiliki oleh PT. Mandiri Tambang Sentosa (75 %) dan masih milik Tanito Harum Group, sisanya dimiliki PT. Kalteng Energy (25 %), anak perusahaan Rabana Group, melalui saham perusahaan jasa keuangan PT. Rabana Investindo. Sebelumnya komposisi pemilikan saham PT. BBDA melibatkan PT. Udinda Wahanatama dan PT. Basali Aneka Investasi, milik Brasali Group.

Adalah PT. Harum Energy Group merupakan pengendali utama dari PT. BBDA. MSJ dan Tanito Harum Group, perusahaan yang dimiliki oleh konglomerat besar Kiki Barki dan kini diwariskan kepada anaknya Lawrence Barki. Majalah Vorbes pernah mendaftarkan nama Kiki Barki sebagai 10 orang terkaya di Indonesia pada tahun 2010. PT. Harum Energy didirikan tahun 1995 dan beroperasi tahun 2007, mengusai kawasan pertambangan di Blok Kutai, Kalimantan Timur, blok yang menjadikan PT. Harum Energy menjadi produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Kiki Barki terkenal sangat dekat dengan pengusaha Sudwikatmono (Indika Energy Group) dan dekat dengan keluarga Soeharto. Bermitra dengan pengusaha terkenal lainnya Kentjana Widjaya (Rabana Group) dan Iwan Budi Brasali (Brasali Group). Kentjana Widjaja masih berhubungan dengan PT. Kawei Sejahtera Mining, perusahaan perrtambangan yang mengeksploitasi biji nikel di Raja Ampat, Papua Barat.

JIka benar, Harum Energy Group berada dibelakang PT. Sinar Bara Semesta, untuk usaha pertambangan batu bara maupun emas, maka perlu ada keterbukaan informasi dan konsultasi yang luas terhadap masyarakat yang terkena dampak aktivitas eksplorasi dan ekstraksi kekayaan tambang di tanah ini (Intan Jaya). Hak masyarakat setempat secara bebas menentukan dan memutuskan pemanfaatan kekayaan alam mereka, tanpa ada tekanan.

Dalam Harum Energy Group, terdapat dua komisaris mantan pejabat tinggi Polri dan Jaksa Agung RI. Ada Jenderal Polisi (Purn) Suroyo Bimantoro, pernah menjabat Kapolri, sebagai Presiden Komisaris PT. Batu Bara Duaribu Abadi dan Komjen Polisi (Purn) Yun Mulyana, pernah menjabat Sekjen Polri, sebagai Presiden Komisaris PT. Mahakan Sumber Jaya dan Harum Energy, serta ada Basrief Arief, pejabat Jaksa Agung (2010 – 2014). Jika perusahaan bertindak semaunya guna memuluskan kepentingannya dengan menggunakan kekuatan mantan pejabat ini, tentu akan menimbulkan bara di Intan Jaya. Hal ini melanggar hak-hak atas pembangunan dan tidak konstitutional, tidak sesuai dengan motto perusahaan (annual report, 2013) “untuk masa depan yang lebih baik”.

Ank, Maret 2015