Laporan Robertino Hanebora

Sidang lanjutan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura Papua 14 Maret 2016, antara masyarakat suku besar Yerisiam Gua melawan Gubernur Papua dan PT.Nabire Baru sebagai tergugat itervensi dengan obyek sengketa, SK mantan Gubernur Papua (Barnabas Suebu) No.142 Tahun 2008, tentang IUP (Ijin Usaha Perkebunan) kepada PT.Nabire Baru, dianggap menyalahi aturan dan prosedur hukum dan hak masyarakat adat. Sidang yang sedianya digelar pada jam 11:12 waktu Papua ini bergeser dari rencana awal pukul 10:00, akibat beberapa pihak tergugat yang tak tepat waktu.

Agenda sidang; Perbaikan bukti tambahan oleh pihak tergugat Gubernur Papua yang diwakili bagian Biro Hukum Provinsi Papua yang dalam perkara ini disebut tergugat satu, sedangkan dari PT.Nabire Baru (PT NB) sebagai tergugat intervensi, dihadiri pengacaranya Robert Korwa, SH.

Sedangkan dari pihak penggugat Suku Besar Yerisiam Gua, dihadiri oleh Kepala Sukunya; “Daniel Yarawobi dan Roberthino Hanebora selaku sekertaris suku Yerisiam didampingi pengacara mereka Hardi, SH.

Dalam persidangan yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, hakim pengadilan setempat memeriksa detail seluruh bukti tambahan pihak Gubernur Provinsi Papua selama satu setengah jam. Bukti tambahan yang diserahkan kepada PTUN antara lain; Ijin Amdal dan Ijin Prinsip.

Dari hasil pemeriksaan bukti tambahan dari pihak gubernur provinsi Papua, hakim memutuskan untuk tidak ada lagi bukti tambahan maupun kesaksian dan masuk pada agenda sidang berikut yaitu; KESIMPULAN.

Sementara dari pihak penggugat suku Yerisiam lewat pengacaranya Hardi, SH, meminta kepada majelis hakim untuk menunda sidang hingga dua minggu kedepan. Dengan alasan butuh waktu mempersiapkan kesimpulan. Permintaan penggugat pun di terima oleh majelis hakim lalu di sepakati bersama semua pihak. Sidang akan dilanjutkan pada Selasa 29 Maret 2015 dengan agenda Kesimpulan semua pihak. Sidang pun berakhir pada jam 13:25 waktu Papua.

Aksi Solidaritas

Proses sidang tersebut mendapat dukungan dari kalangan pembela Tanah Papua. Para aktivis muda mudi ini sudah sejak awal mengawal proses persidangan dari luar pintu pengadilan. Meraka antara lain; Koalisi Peduli Korban Sawit Nabire yang di kordinir oleh FIM (Forum Independen Mahasiswa) meramaikan halaman depan PTUN. FIM berorasi sebagai bentuk sikap sosial atas masalah masyarakat Yerisiam Gua di Nabire.

Tuntutan pada aksi dukungan terkait gugatan masyarakat adat Yerisiam Gua kepada IUP PT Nabire Baru di Jayapura 14 Maret 2016

Tuntutan pada aksi dukungan terkait gugatan masyarakat adat Yerisiam Gua kepada IUP PT Nabire Baru di Jayapura 14 Maret 2016

Koordinator FIM, Kokai mengatakan bahwa IUP PT.Nabire Baru harus segera di cabut karena melanggar berbagai aturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini (Indonesia).

Kokai bilang, keluarnya IUP tidak prosedural dan mengisahkan kerugian yang cukup signifikan bagi kelangsungan hidup manusia Yerisiam. Kokai menyerukan bahwa spirit yang dikumandangkan oleh orang-orang Yerisiam hari ini akan menjadi corong bagi wilayah-wilayah lain yang mengalami konflik serupa agar, berani membongkar buruknya investasi yang merugikan masyarakat, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia khususnya daerah paling timur yaitu Pulau Papua bagian Barat.

Kokai juga menambahkan, pada aksi berikut yaitu KESIMPULAN dan PUTUSAN akan menurunkan 1000 (seribu) masa. Dukungan masyarakat sebagai aksi solidaritas mendukung Yerisiam agar masyarakat Yerisiam tidak merasa sendiri dan juga sebagai bukti simbol perlawanan orang asli Papua dalam menolak kehadiran Pekebunan kelapa sawit di Tanah Papua.

Sekedar informasi, hinggga senin 14/03/2016, telah berlangsung 18 kali sidang. Masih ada dua kali sidang yaitu kesimpulan dan putusan. Gugatan masyarakat adat terkait sebuah IUP kebun ini melalui proses dua puluh kali sidang.

Editor: SP

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Laporan Robertino Hanebora

    Sidang lanjutan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura Papua 14 Maret 2016, antara masyarakat suku besar Yerisiam Gua melawan Gubernur Papua dan PT.Nabire Baru sebagai tergugat itervensi dengan obyek sengketa, SK mantan Gubernur Papua (Barnabas Suebu) No.142 Tahun 2008, tentang IUP (Ijin Usaha Perkebunan) kepada PT.Nabire Baru, dianggap menyalahi aturan dan prosedur hukum dan hak masyarakat adat. Sidang yang sedianya digelar pada jam 11:12 waktu Papua ini bergeser dari rencana awal pukul 10:00, akibat beberapa pihak tergugat yang tak tepat waktu.

    Agenda sidang; Perbaikan bukti tambahan oleh pihak tergugat Gubernur Papua yang diwakili bagian Biro Hukum Provinsi Papua yang dalam perkara ini disebut tergugat satu, sedangkan dari PT.Nabire Baru (PT NB) sebagai tergugat intervensi, dihadiri pengacaranya Robert Korwa, SH.

    Sedangkan dari pihak penggugat Suku Besar Yerisiam Gua, dihadiri oleh Kepala Sukunya; “Daniel Yarawobi dan Roberthino Hanebora selaku sekertaris suku Yerisiam didampingi pengacara mereka Hardi, SH.

    Dalam persidangan yang berlangsung kurang lebih dua jam itu, hakim pengadilan setempat memeriksa detail seluruh bukti tambahan pihak Gubernur Provinsi Papua selama satu setengah jam. Bukti tambahan yang diserahkan kepada PTUN antara lain; Ijin Amdal dan Ijin Prinsip.

    Dari hasil pemeriksaan bukti tambahan dari pihak gubernur provinsi Papua, hakim memutuskan untuk tidak ada lagi bukti tambahan maupun kesaksian dan masuk pada agenda sidang berikut yaitu; KESIMPULAN.

    Sementara dari pihak penggugat suku Yerisiam lewat pengacaranya Hardi, SH, meminta kepada majelis hakim untuk menunda sidang hingga dua minggu kedepan. Dengan alasan butuh waktu mempersiapkan kesimpulan. Permintaan penggugat pun di terima oleh majelis hakim lalu di sepakati bersama semua pihak. Sidang akan dilanjutkan pada Selasa 29 Maret 2015 dengan agenda Kesimpulan semua pihak. Sidang pun berakhir pada jam 13:25 waktu Papua.

    Aksi Solidaritas

    Proses sidang tersebut mendapat dukungan dari kalangan pembela Tanah Papua. Para aktivis muda mudi ini sudah sejak awal mengawal proses persidangan dari luar pintu pengadilan. Meraka antara lain; Koalisi Peduli Korban Sawit Nabire yang di kordinir oleh FIM (Forum Independen Mahasiswa) meramaikan halaman depan PTUN. FIM berorasi sebagai bentuk sikap sosial atas masalah masyarakat Yerisiam Gua di Nabire.

    Tuntutan pada aksi dukungan terkait gugatan masyarakat adat Yerisiam Gua kepada IUP PT Nabire Baru di Jayapura 14 Maret 2016

    Tuntutan pada aksi dukungan terkait gugatan masyarakat adat Yerisiam Gua kepada IUP PT Nabire Baru di Jayapura 14 Maret 2016

    Koordinator FIM, Kokai mengatakan bahwa IUP PT.Nabire Baru harus segera di cabut karena melanggar berbagai aturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini (Indonesia).

    Kokai bilang, keluarnya IUP tidak prosedural dan mengisahkan kerugian yang cukup signifikan bagi kelangsungan hidup manusia Yerisiam. Kokai menyerukan bahwa spirit yang dikumandangkan oleh orang-orang Yerisiam hari ini akan menjadi corong bagi wilayah-wilayah lain yang mengalami konflik serupa agar, berani membongkar buruknya investasi yang merugikan masyarakat, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia khususnya daerah paling timur yaitu Pulau Papua bagian Barat.

    Kokai juga menambahkan, pada aksi berikut yaitu KESIMPULAN dan PUTUSAN akan menurunkan 1000 (seribu) masa. Dukungan masyarakat sebagai aksi solidaritas mendukung Yerisiam agar masyarakat Yerisiam tidak merasa sendiri dan juga sebagai bukti simbol perlawanan orang asli Papua dalam menolak kehadiran Pekebunan kelapa sawit di Tanah Papua.

    Sekedar informasi, hinggga senin 14/03/2016, telah berlangsung 18 kali sidang. Masih ada dua kali sidang yaitu kesimpulan dan putusan. Gugatan masyarakat adat terkait sebuah IUP kebun ini melalui proses dua puluh kali sidang.

    Editor: SP

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on