JAKARTA. Forum Tropical Forest Alliance (TFA) General Assembly yang akan digelar pada 10-11 Maret yang kabarnya akan dilakukan secara tertutup menuai kritik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, forum besar seperti TFA seharusnya tidak dilakukan secara tertutup melainkan harus terbuka.

“Jika dilihat dari tujuan organisasi ini yang ingin mengajak baik pemerintah, swasta, maupun organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama menghentikan deforestasi maka idealnya acara tersebut seharusnya terbuka bagi publik,” ujarnya, Senin (7/3).

Dengan begitu, penyelenggaraan tersebut tidak akan memunculkan kesan sedang membahas hal negatif sehingga harus disembunyikan dari publik. Pasalnya, sejumlah lembaga mencium bahwa TFA bakal dijadikan ajang bersih-bersih bagi korporasi yang terlibat dalam kebakaran hutan beberapa waktu lalu.

Menurut Eko, sah-sah saja jika setiap perusahaan diberi kesempatan dalam menyampaikan program-programnya untuk meminimalisir kebakaran hutan. Pada prinsipnya, lanjut Eko, semua industri hasil hutan harus menjaga kelestarian alam jika ingin profitabilitasnya berkelanjutan, karena bahan baku produksi mereka berasal dari alam.

Eko juga mengingatkan pemerintah agar tidak menelan mentah-mentah berbagai kampanye yang meminta agar lahan gambut ditutup total. Mengingat lahan gambut Indonesia sangat luas dan dapat menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyakarat, sehingga pemanfaatan lahan tanpa mengesampingkan kelestarian alam perlu dilakukan.

“Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, upaya pemanfaatan lahan gambut yang ramah lingkungan bisa dilakukan. Jika hanya sepihak saja isu yang disuarakan, yaitu pelarangan pemanfaatan hutan maka terdapat kemungkinan hal ini karena strategi dagang saja,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini beberapa komoditas yang menjadi keunggulan Indonesia mampu menggeser posisi dominan negara-negara maju. Seperti pangsa minyak sawit dunia yang pada 1997 baru 21,3% dan posisinya berada di bawah pangsa minyak kedelai asal Amerika yang sebesar 28,6%. Namun kini, pangsa minyak sawit Indonesia sudah mencapai 30,8% dan berada di atas pangsa pasar minyak kedelai AS yang 24,4%.

Selasa, 08 Maret 2016 / 06:10 WIB

Reporter Hendra Gunawan

Editor Hendra Gunawan

http://industri.kontan.co.id/news/pelaksanaan-forum-tfa-diminta-terbuka-untuk-publik

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    JAKARTA. Forum Tropical Forest Alliance (TFA) General Assembly yang akan digelar pada 10-11 Maret yang kabarnya akan dilakukan secara tertutup menuai kritik.

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, forum besar seperti TFA seharusnya tidak dilakukan secara tertutup melainkan harus terbuka.

    “Jika dilihat dari tujuan organisasi ini yang ingin mengajak baik pemerintah, swasta, maupun organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama menghentikan deforestasi maka idealnya acara tersebut seharusnya terbuka bagi publik,” ujarnya, Senin (7/3).

    Dengan begitu, penyelenggaraan tersebut tidak akan memunculkan kesan sedang membahas hal negatif sehingga harus disembunyikan dari publik. Pasalnya, sejumlah lembaga mencium bahwa TFA bakal dijadikan ajang bersih-bersih bagi korporasi yang terlibat dalam kebakaran hutan beberapa waktu lalu.

    Menurut Eko, sah-sah saja jika setiap perusahaan diberi kesempatan dalam menyampaikan program-programnya untuk meminimalisir kebakaran hutan. Pada prinsipnya, lanjut Eko, semua industri hasil hutan harus menjaga kelestarian alam jika ingin profitabilitasnya berkelanjutan, karena bahan baku produksi mereka berasal dari alam.

    Eko juga mengingatkan pemerintah agar tidak menelan mentah-mentah berbagai kampanye yang meminta agar lahan gambut ditutup total. Mengingat lahan gambut Indonesia sangat luas dan dapat menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyakarat, sehingga pemanfaatan lahan tanpa mengesampingkan kelestarian alam perlu dilakukan.

    “Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, upaya pemanfaatan lahan gambut yang ramah lingkungan bisa dilakukan. Jika hanya sepihak saja isu yang disuarakan, yaitu pelarangan pemanfaatan hutan maka terdapat kemungkinan hal ini karena strategi dagang saja,” katanya.

    Ia menambahkan, saat ini beberapa komoditas yang menjadi keunggulan Indonesia mampu menggeser posisi dominan negara-negara maju. Seperti pangsa minyak sawit dunia yang pada 1997 baru 21,3% dan posisinya berada di bawah pangsa minyak kedelai asal Amerika yang sebesar 28,6%. Namun kini, pangsa minyak sawit Indonesia sudah mencapai 30,8% dan berada di atas pangsa pasar minyak kedelai AS yang 24,4%.

    Selasa, 08 Maret 2016 / 06:10 WIB

    Reporter Hendra Gunawan

    Editor Hendra Gunawan

    http://industri.kontan.co.id/news/pelaksanaan-forum-tfa-diminta-terbuka-untuk-publik

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on