Edisi 22-03-2016

JAKARTA – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mematok target investasi langsung (foreign direct investment /FDI) asal China pada tahun ini bisa mencapai USD30 miliar atau sekitar Rp405 triliun dalam bentuk izin prinsip.

Dari rencana tersebut, pemerintah berharap setidaknya 50% atau USD15 miliar (sekitar Rp200 triliun) bisa terealisasi. Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan, per 21 Maret 2016 rencana investasi asal Negeri Tirai Bambu tercatat USD10,8 miliar (Rp145,8 triliun). Rencana tersebut diperoleh dari hasil kunjungan kerjanya ke tiga kota besar di China, yaitu Beijing, Shanghai, serta Huzhou dalam tiga bulan terakhir.

”Sepanjang 2015 izin prinsip dari China USD22,2 miliar atau naik 42%. Realisasi langsung memang turun 21%, tetapi realisasi digabungkan dengan tidak langsung itu naik 47%,” kata Franky saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, kemarin. Franky mengatakan, pihaknya menemukan fakta bahwa sebagian perusahaan asal China melakukan investasi langsung di Indonesia, tidak melalui asal negaranya.

Hal itu disebabkan Pemerintah China memiliki kebijakan yang membatasi uang keluar dalam jumlah tertentu. Akibatnya, banyak perusahaan China yang merelokasi kantornya, terutama ke Hong Kong dan Singapura. Kendati demikian, tingkat keberhasilan eksekusi dari rencana investasi China di Indonesia tergolong masih rendah.

Franky menyebut, faktor bahasa, mitra bisnis, dan persyaratan tenaga kerja asing (TKA) di Ta-nah Air yang rumit merupakan tiga faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan investasi China di Indonesia. I h w a l persoalan tenaga kerja, Franky menyatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Direktorat Imigrasi untuk memberikan keleluasaan kepada industri yang sudah ada di Indonesia untuk merekrut tenaga kerja asing.

Dia menilai, beberapa jenis industri seperti mebel, garmen, dan sepatu membutuhkan tenaga kerja asing sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas produk. Dia juga menuturkan, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk fokus menggaet investor China yang membangun kawasan industri.

Dia mengungkapkan, cara ini cukup efektif karena pengusaha kawasan industri China kerap mengajak rekan-rekan bisnis lainnya untuk berinvestasi di kawasan industri tersebut. Data FDI Market menyebut, investasi asal China ke luar negeri mencapai USD116 miliar pada tahun 2014 atau tumbuh 15,5% secara antartahun.

Namun, di tingkat ASEAN Indonesia harus berhadapan dengan Vietnam dan Thailand untuk memperebutkan investasi China, terutama di sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki atau sepatu. ”Pasar sepatu bermerek di dunia itu 40% di AS (Amerika Serikat), 30% di Eropa, 25% di China. Dari 300 juta pasang sepatu yang ada di dunia, 31% diproduksi di Indonesia, 29% diproduksi di China, dan 39% di Vietnam,” ucap Franky.

Vietnam merupakan kompetitor utama dalam hal persaingan industri berorientasi ekspor. Negara komunis tersebut, kata Franky, memiliki keunggulan tidak hanya karena memiliki kedekatan kultural dengan China, tetapi juga satu langkah di depan dalam kerja sama perdagangan Trans-Pasifik (TPP) yang diikuti AS.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong sebelumnya menyatakan, Indonesia relatif tertinggal dengan beberapa negara ASEAN dalam hal perjanjian perdagangan internasional. Kondisi tersebut mengancam daya saing industri manufaktur nasional.

Oleh karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah mempercepat proses tersebut, terutama perjanjian dengan Uni Eropa dan TPP. ”Jadi, fokus kita bagaimana kita bisa mengejar waktu karena mulai mengerikan, pabrik sudah mulai pindah ke Vietnam dari Indonesia,” ucap dia.

rahmat fiansyah

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=2&n=2&date=2016-03-22

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Edisi 22-03-2016

    JAKARTA – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mematok target investasi langsung (foreign direct investment /FDI) asal China pada tahun ini bisa mencapai USD30 miliar atau sekitar Rp405 triliun dalam bentuk izin prinsip.

    Dari rencana tersebut, pemerintah berharap setidaknya 50% atau USD15 miliar (sekitar Rp200 triliun) bisa terealisasi. Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan, per 21 Maret 2016 rencana investasi asal Negeri Tirai Bambu tercatat USD10,8 miliar (Rp145,8 triliun). Rencana tersebut diperoleh dari hasil kunjungan kerjanya ke tiga kota besar di China, yaitu Beijing, Shanghai, serta Huzhou dalam tiga bulan terakhir.

    ”Sepanjang 2015 izin prinsip dari China USD22,2 miliar atau naik 42%. Realisasi langsung memang turun 21%, tetapi realisasi digabungkan dengan tidak langsung itu naik 47%,” kata Franky saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, kemarin. Franky mengatakan, pihaknya menemukan fakta bahwa sebagian perusahaan asal China melakukan investasi langsung di Indonesia, tidak melalui asal negaranya.

    Hal itu disebabkan Pemerintah China memiliki kebijakan yang membatasi uang keluar dalam jumlah tertentu. Akibatnya, banyak perusahaan China yang merelokasi kantornya, terutama ke Hong Kong dan Singapura. Kendati demikian, tingkat keberhasilan eksekusi dari rencana investasi China di Indonesia tergolong masih rendah.

    Franky menyebut, faktor bahasa, mitra bisnis, dan persyaratan tenaga kerja asing (TKA) di Ta-nah Air yang rumit merupakan tiga faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan investasi China di Indonesia. I h w a l persoalan tenaga kerja, Franky menyatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Direktorat Imigrasi untuk memberikan keleluasaan kepada industri yang sudah ada di Indonesia untuk merekrut tenaga kerja asing.

    Dia menilai, beberapa jenis industri seperti mebel, garmen, dan sepatu membutuhkan tenaga kerja asing sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas produk. Dia juga menuturkan, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk fokus menggaet investor China yang membangun kawasan industri.

    Dia mengungkapkan, cara ini cukup efektif karena pengusaha kawasan industri China kerap mengajak rekan-rekan bisnis lainnya untuk berinvestasi di kawasan industri tersebut. Data FDI Market menyebut, investasi asal China ke luar negeri mencapai USD116 miliar pada tahun 2014 atau tumbuh 15,5% secara antartahun.

    Namun, di tingkat ASEAN Indonesia harus berhadapan dengan Vietnam dan Thailand untuk memperebutkan investasi China, terutama di sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki atau sepatu. ”Pasar sepatu bermerek di dunia itu 40% di AS (Amerika Serikat), 30% di Eropa, 25% di China. Dari 300 juta pasang sepatu yang ada di dunia, 31% diproduksi di Indonesia, 29% diproduksi di China, dan 39% di Vietnam,” ucap Franky.

    Vietnam merupakan kompetitor utama dalam hal persaingan industri berorientasi ekspor. Negara komunis tersebut, kata Franky, memiliki keunggulan tidak hanya karena memiliki kedekatan kultural dengan China, tetapi juga satu langkah di depan dalam kerja sama perdagangan Trans-Pasifik (TPP) yang diikuti AS.

    Menteri Perdagangan Thomas Lembong sebelumnya menyatakan, Indonesia relatif tertinggal dengan beberapa negara ASEAN dalam hal perjanjian perdagangan internasional. Kondisi tersebut mengancam daya saing industri manufaktur nasional.

    Oleh karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah mempercepat proses tersebut, terutama perjanjian dengan Uni Eropa dan TPP. ”Jadi, fokus kita bagaimana kita bisa mengejar waktu karena mulai mengerikan, pabrik sudah mulai pindah ke Vietnam dari Indonesia,” ucap dia.

    rahmat fiansyah

    http://www.koran-sindo.com/news.php?r=2&n=2&date=2016-03-22

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on