Sorong (23/04/2016) Berawal dari pencabutan palang adat Masan (dari bambu tui) dilokasi pabrik kelapa sawit milik PT. Henrison Inti Persada (HIP) oleh dua marga, yakni Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik yang tidak sepakat dengan aksi pemalangan melibatkan 9 marga pemilik tanah adat di lokasi PT. HIP, pada selasa 19 April 2016 lalu.

Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik telah mencabut Masan dengan alasan bahwa pemalangan yang dilakukan oleh 9 marga bukan di tanah adat mereka, tetapi di Marga Gisim dan Malak Klatilik.

Tetapi dari 9 marga merasa bahwa pabrik kelapa sawit PT. HIP bukan milik Marga Gisim dan Malak Klatilik saja, “Pabrik itu milik 9 marga juga karena buah sawit tidak hanya di bawa dari Marga Gisim dan Malak Klatilik saja, tetapi ada juga dari 9 marga,” ungkap Alex Klasibin, salah satu pemilik tanah adat.

Dewan Adat Kampung Maladofok, Matias Yempolo, menjatuhkan sangsi adat kepada Marga Gisim dan Malak Klatilik, pada pertemuan tatap muka (21 April 2016) di Lokasi Wisata Bendungan Klamalu, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong. Sangsi ini bertujuan agar kedua marga kembali bersatu bersama 9 marga untuk melawan ketidak adilan yang dilakukan PT. HIP. Namun penyelesain sangsi adat tidak terlaksana karena Marga Gisim dan Malak Klatilik tidak hadir.

Matias Yempolo, saat ditanya terkait ketidakhadiran Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik menjelaskan, “Kami sudah membentuk tim kecil untuk negosiasi dengan marga Gisim dan Marga Malak Klatilik dalam waktu dekat ini” jelas Yempolo.  

NemoiYebewai

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Sorong (23/04/2016) Berawal dari pencabutan palang adat Masan (dari bambu tui) dilokasi pabrik kelapa sawit milik PT. Henrison Inti Persada (HIP) oleh dua marga, yakni Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik yang tidak sepakat dengan aksi pemalangan melibatkan 9 marga pemilik tanah adat di lokasi PT. HIP, pada selasa 19 April 2016 lalu.

    Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik telah mencabut Masan dengan alasan bahwa pemalangan yang dilakukan oleh 9 marga bukan di tanah adat mereka, tetapi di Marga Gisim dan Malak Klatilik.

    Tetapi dari 9 marga merasa bahwa pabrik kelapa sawit PT. HIP bukan milik Marga Gisim dan Malak Klatilik saja, “Pabrik itu milik 9 marga juga karena buah sawit tidak hanya di bawa dari Marga Gisim dan Malak Klatilik saja, tetapi ada juga dari 9 marga,” ungkap Alex Klasibin, salah satu pemilik tanah adat.

    Dewan Adat Kampung Maladofok, Matias Yempolo, menjatuhkan sangsi adat kepada Marga Gisim dan Malak Klatilik, pada pertemuan tatap muka (21 April 2016) di Lokasi Wisata Bendungan Klamalu, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong. Sangsi ini bertujuan agar kedua marga kembali bersatu bersama 9 marga untuk melawan ketidak adilan yang dilakukan PT. HIP. Namun penyelesain sangsi adat tidak terlaksana karena Marga Gisim dan Malak Klatilik tidak hadir.

    Matias Yempolo, saat ditanya terkait ketidakhadiran Marga Gisim dan Marga Malak Klatilik menjelaskan, “Kami sudah membentuk tim kecil untuk negosiasi dengan marga Gisim dan Marga Malak Klatilik dalam waktu dekat ini” jelas Yempolo.  

    NemoiYebewai

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on