Orang Austronesia adalah manusia raksasa.

Suwarjono : Rabu, 13 April 2016 06:24 WIB

Suara.com – Wilayah Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat merupakan tempat persinggahan pertama bagi manusia Austronesia di Tanah Papua.

Dekan Fakultas Sastra Universitas Papua (Unipa) Manokwari Andreas Deda, di Manokwari, Rabu (13/4/2016), kepada Antara mengatakan orang Papua terdiri dari Manusia Austronesia dan Papuana yang merupakan suku asli Papua.

Dia menjelaskan, orang Austronesia adalah manusia raksasa. Mereka adalah bagian dari sejarah manusia dan peradaban orang Papua.

Menurut dia, manusia Austronesia memiliki kecenderungan hidup dan menetap di wilayah pesisir pantai. Sedangkan bangsa Papuana cenderung hidup di wilayah gunung.

Manusia pertama di Papua yang hidup di pesisir pantai ini, kata dia lagi, bisa disebut sebagai manusia purba. Tinggi badan mereka mencapai tiga meter, bahkan lebih.

tanda-tanda di tebing batu karang di pesisir Mbaham Mattapublikasi_pusaka Mbaham-Matta06

tanda-tanda di tebing batu karang di pesisir Mbaham Matta (publikasi_pusaka Mbaham-Matta06)

“Mereka mencari ikan dengan cara berjalan kaki di pinggir laut pada jarak 100 meter dari bibir pantai. Tidak tenggelam, karena tubuhnya tinggi-tinggi,” kata dia pula.

Alumni Pascasarjana Universitas Hawai ini mengungkapkan, jejak manusia Austronesia di Teluk Wondama dapat ditemukan di Pulau Yogmewos. Fosil tulang belulang berukuran besar dan panjang banyak ditemukan di pulau tersebut.

Selain tulang belulang, ia meyakini masih banyak peninggalan sejarah manusia Autronesia yang bisa ditemukan di wilayah tersebut. Bukti sejarah yang dapat ditemukan berupa peralatan kerja serta cerita rakyat yang masih ada saat ini.

“Teluk Wondama dipilih, mungkin karena laut di daerah tersebut teduh serta cocok bagi mereka,” ujarnya.

Dia menuturkan, selain Teluk Wondama orang Autronesia pun tersebar di wilayah pesisir pantai utara dan selatan Tanah Papua.

Menurutnya, ada dua kelompok orang Autronesia yang masuk ke Papua, yakni kelompok Waropen dan Biak yang menguasai pesisir utara serta kelompok yang masuk di wilayah pesisir selatan.

“Yang paling menarik itu di Raja Ampat dan yang bagus itu Fakfak dan Kaimana. Di Fakfak dan Kaimana, saya sangat yakin banyak peninggalan sejarah yang bisa kita dapat di situ,” katanya lagi.

Sumber: (http://www.suara.com/news/2016/04/13/062446/teluk-wondama-diyakini-persinggahan-pertama-manusia-austronesia)

Baca Juga: ada arus utama pendapat di kalangan peneliti bahwa penutur Austronesia yang menghuni Indonesia bermigrasi dari Taiwan sekitar 5.000 tahun lalu. Namun, ada juga sebagian ilmuwan yang memercayai bahwa Nusantara justru asal dari penutur Austronesia. (http://pusaka.or.id/penelitian-genetika-manusia-indonesia-sudah-capai-60-persen/)

Baca Juga: Lengguru dan Kaimana menyimpan 100 jenis kupu-kupu, 37 jenis capung, 150 jenis jangkrik, 30 jenis amfibi, 50 jenis reptil, 20 jenis kelelawar, dan 8 jenis tikus. (http://pusaka.or.id/peneliti-ungkap-harta-karun-tanah-lengguru-manokwari-papua/)

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Orang Austronesia adalah manusia raksasa.

    Suwarjono : Rabu, 13 April 2016 06:24 WIB

    Suara.com – Wilayah Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat merupakan tempat persinggahan pertama bagi manusia Austronesia di Tanah Papua.

    Dekan Fakultas Sastra Universitas Papua (Unipa) Manokwari Andreas Deda, di Manokwari, Rabu (13/4/2016), kepada Antara mengatakan orang Papua terdiri dari Manusia Austronesia dan Papuana yang merupakan suku asli Papua.

    Dia menjelaskan, orang Austronesia adalah manusia raksasa. Mereka adalah bagian dari sejarah manusia dan peradaban orang Papua.

    Menurut dia, manusia Austronesia memiliki kecenderungan hidup dan menetap di wilayah pesisir pantai. Sedangkan bangsa Papuana cenderung hidup di wilayah gunung.

    Manusia pertama di Papua yang hidup di pesisir pantai ini, kata dia lagi, bisa disebut sebagai manusia purba. Tinggi badan mereka mencapai tiga meter, bahkan lebih.

    tanda-tanda di tebing batu karang di pesisir Mbaham Mattapublikasi_pusaka Mbaham-Matta06

    tanda-tanda di tebing batu karang di pesisir Mbaham Matta (publikasi_pusaka Mbaham-Matta06)

    “Mereka mencari ikan dengan cara berjalan kaki di pinggir laut pada jarak 100 meter dari bibir pantai. Tidak tenggelam, karena tubuhnya tinggi-tinggi,” kata dia pula.

    Alumni Pascasarjana Universitas Hawai ini mengungkapkan, jejak manusia Austronesia di Teluk Wondama dapat ditemukan di Pulau Yogmewos. Fosil tulang belulang berukuran besar dan panjang banyak ditemukan di pulau tersebut.

    Selain tulang belulang, ia meyakini masih banyak peninggalan sejarah manusia Autronesia yang bisa ditemukan di wilayah tersebut. Bukti sejarah yang dapat ditemukan berupa peralatan kerja serta cerita rakyat yang masih ada saat ini.

    “Teluk Wondama dipilih, mungkin karena laut di daerah tersebut teduh serta cocok bagi mereka,” ujarnya.

    Dia menuturkan, selain Teluk Wondama orang Autronesia pun tersebar di wilayah pesisir pantai utara dan selatan Tanah Papua.

    Menurutnya, ada dua kelompok orang Autronesia yang masuk ke Papua, yakni kelompok Waropen dan Biak yang menguasai pesisir utara serta kelompok yang masuk di wilayah pesisir selatan.

    “Yang paling menarik itu di Raja Ampat dan yang bagus itu Fakfak dan Kaimana. Di Fakfak dan Kaimana, saya sangat yakin banyak peninggalan sejarah yang bisa kita dapat di situ,” katanya lagi.

    Sumber: (http://www.suara.com/news/2016/04/13/062446/teluk-wondama-diyakini-persinggahan-pertama-manusia-austronesia)

    Baca Juga: ada arus utama pendapat di kalangan peneliti bahwa penutur Austronesia yang menghuni Indonesia bermigrasi dari Taiwan sekitar 5.000 tahun lalu. Namun, ada juga sebagian ilmuwan yang memercayai bahwa Nusantara justru asal dari penutur Austronesia. (http://pusaka.or.id/penelitian-genetika-manusia-indonesia-sudah-capai-60-persen/)

    Baca Juga: Lengguru dan Kaimana menyimpan 100 jenis kupu-kupu, 37 jenis capung, 150 jenis jangkrik, 30 jenis amfibi, 50 jenis reptil, 20 jenis kelelawar, dan 8 jenis tikus. (http://pusaka.or.id/peneliti-ungkap-harta-karun-tanah-lengguru-manokwari-papua/)

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on