Jakarta 27 Mei 2016-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire Papua pada hari rabu tanggal 25 Mei 2016 telah membentuk panitia khusus (Pansus) demi menginvestigasi persoalan investasi perkebunan sawit di wilayah suku besar Yerisiam Gua. Pansus bekerja selama satu bulan sejak pembentukanya.

Menurut sekertaris Suku Yerisiam Gua Robertino Hanebora yang mengawal proses tersebut, mengatakan pansus terbagi dalam tiga tim. Tim pertama bekerja untuk investigasi data soal keberadaan perusahaan sawit yakni PT Nabire Baru-Goodhope. Mereka (tim pertama pansus) melakukan investarisasi data dari instansi terkait di kabupaten menyangkut perusahaan. Tim kedua pansus bekerja untuk investigasi laporan dari PT Nabire Baru terkait ijin operasi dan aktivitas selama beroperasi sawit. Tim ke-III bekerja khusus untuk menggali masalah dari versi masyarakat korban investasi, khusus masyarakat adat Yerisiam Gua yang bermukim di kampung Sima distrik Yaur.

Usai bentuk pansus, sebagaimana keterangan Tino kepada suara PUSAKA, wakil rakyat terjun ke lapangan. Kamis 26 Mei 2016, jam 1 siang WS (Waktu Sima), tim pansus urusan hak warga yang dipimpin anak asli suku ini, Yurmina Money tatap muka bersama warga. Pada kesempatan tersebut, kepala suku besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi telah bersama sama warganya berkumpul untuk menyampaikan permasalahan selama ini terkait keberadaan perusahaan. Warga Sima bilang, mereka tidak tau perusahaan sawit ini, mereka dulunya hanya tau ini perusahaan kayu, kenapa dirubah jadi perusahaan sawit. Anggota dewan bisa telusuri hal ini, kata warga yang hadir.

Kami orang Sima ini penduduknya sedikit, tra (tak) sampai 100 KK, hidup kami bergantung pada alam dan dusun sagu. Kenapa tempat kami digusur oleh perusahaan. Cukup sudah! stop tambah tambah areal plasma, kami tidak mau lagi perusahaan kuasai tanah kami. Selama ini kami marah, mau melawan tapi polisi bromob selalu intimidasi kami jadi kami takut, demikian pernyataan masyarakat kepada tim pansus.

Usai tatap muka, diakhiri dengan penyerahan peta tutupan hutan yang diterbitkan oleh Pusaka jakarta. Kepala suku besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi yang menyerahkan peta tersebut kepada tim pansus DPRD mengatakan, peta tutupan ini fakta bahwa sejak tahun 2001-2004 hutan seluas 10 ribu hektar habis demi kelapa sawit. Bapa dan ibu dari pansus bisa lihat sendiri, betapa hutan kita sudah habis, ujar bapa suku Yerisiam.

Pansus DPRD ini menurut Robertino Hanebora, membuka diri untuk keterlibatan semua pihak yang selama ini konsen soal hak hak masyarakat adat dan hutan, demi mencapai sebuah penyelesaian yang bermartabat. Tino juga bilang, masyarakat korban investasi sawit khususnya suku Yerisiam Gua mendukung pansus DPRD setempat yang tengah berjuang bersama masyarakat adat.

Arkilaus Baho

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Jakarta 27 Mei 2016-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire Papua pada hari rabu tanggal 25 Mei 2016 telah membentuk panitia khusus (Pansus) demi menginvestigasi persoalan investasi perkebunan sawit di wilayah suku besar Yerisiam Gua. Pansus bekerja selama satu bulan sejak pembentukanya.

    Menurut sekertaris Suku Yerisiam Gua Robertino Hanebora yang mengawal proses tersebut, mengatakan pansus terbagi dalam tiga tim. Tim pertama bekerja untuk investigasi data soal keberadaan perusahaan sawit yakni PT Nabire Baru-Goodhope. Mereka (tim pertama pansus) melakukan investarisasi data dari instansi terkait di kabupaten menyangkut perusahaan. Tim kedua pansus bekerja untuk investigasi laporan dari PT Nabire Baru terkait ijin operasi dan aktivitas selama beroperasi sawit. Tim ke-III bekerja khusus untuk menggali masalah dari versi masyarakat korban investasi, khusus masyarakat adat Yerisiam Gua yang bermukim di kampung Sima distrik Yaur.

    Usai bentuk pansus, sebagaimana keterangan Tino kepada suara PUSAKA, wakil rakyat terjun ke lapangan. Kamis 26 Mei 2016, jam 1 siang WS (Waktu Sima), tim pansus urusan hak warga yang dipimpin anak asli suku ini, Yurmina Money tatap muka bersama warga. Pada kesempatan tersebut, kepala suku besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi telah bersama sama warganya berkumpul untuk menyampaikan permasalahan selama ini terkait keberadaan perusahaan. Warga Sima bilang, mereka tidak tau perusahaan sawit ini, mereka dulunya hanya tau ini perusahaan kayu, kenapa dirubah jadi perusahaan sawit. Anggota dewan bisa telusuri hal ini, kata warga yang hadir.

    Kami orang Sima ini penduduknya sedikit, tra (tak) sampai 100 KK, hidup kami bergantung pada alam dan dusun sagu. Kenapa tempat kami digusur oleh perusahaan. Cukup sudah! stop tambah tambah areal plasma, kami tidak mau lagi perusahaan kuasai tanah kami. Selama ini kami marah, mau melawan tapi polisi bromob selalu intimidasi kami jadi kami takut, demikian pernyataan masyarakat kepada tim pansus.

    Usai tatap muka, diakhiri dengan penyerahan peta tutupan hutan yang diterbitkan oleh Pusaka jakarta. Kepala suku besar Yerisiam Gua, Daniel Yarawobi yang menyerahkan peta tersebut kepada tim pansus DPRD mengatakan, peta tutupan ini fakta bahwa sejak tahun 2001-2004 hutan seluas 10 ribu hektar habis demi kelapa sawit. Bapa dan ibu dari pansus bisa lihat sendiri, betapa hutan kita sudah habis, ujar bapa suku Yerisiam.

    Pansus DPRD ini menurut Robertino Hanebora, membuka diri untuk keterlibatan semua pihak yang selama ini konsen soal hak hak masyarakat adat dan hutan, demi mencapai sebuah penyelesaian yang bermartabat. Tino juga bilang, masyarakat korban investasi sawit khususnya suku Yerisiam Gua mendukung pansus DPRD setempat yang tengah berjuang bersama masyarakat adat.

    Arkilaus Baho

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on