Sawit dan Bencana Diantara Goodhope Asia Holdings Ltd-Carson Cumberbatch

0
831
Peta Perubahan Tutupan Hutan Nabire 2001-2014
Peta Perubahan Tutupan Hutan Nabire 2001-2014

Orang Yerisiam di pesisir utara pulau Papua mereka tidak begitu paham apa dan siapa itu Goodhope atau pengusaha asal Srilanka yang bernama Carson Cumberbatch. Mereka hanya dengar dengar ada Brimob jaga kebun sawit PT Nabire Baru. Ada perusahaan namanya Sariwana Adi Perkasa dan Sariwana Unggul Mandiri. Bahkan sebelumnya juga Jati Dharma Indah. Sosok Imam Basrowi dari Jogja yang melakukan hubungan serah terima hak ulayat itu yang mereka kenal. Sebaliknya, grub Holding Srilanka ini tidak tahu menahu tentang apa itu otonomi khusus yang menghormati adat dan budaya orang Papua.

Lebih khusus lagi, ketika bencana banjir yang melanda kampung Sima pertengan tahun 2016, rumah dan fasilitas umum terendam air. Bencana yang terjadi pasca daerah sekitar penduduk Kampung Sima dikelilingin perkebunan sawit. Bahkan, ketika ketua-ketua koperasi di seputar perkebunan tidak tahu menahu siapa pemodal dibalik kebun-kebun sawit yang membongkar tanah untuk penanaman sawit. Jangankan masyarakat setempat pemilik hak ulayat yang tidak paham dengan sumber modal dibalik perusahaan tersebut. Pemda setempat (Kabupaten Nabire) minim informasi keberadaan pemodal yang masuk. Sebagai pejabat daerah, hanya meneruskan proyek pusat untuk peningkatan pangan dan lapangan pekerjaan.

Ekspansi bisnis sawit yang dikembangkan oleh grub asal Srilanka tidak terlepas dari kinerja pemerintah pusat yang membuka kran bagi minyak sawit dunia. Kebutuhan minyak sawit di pasar global khususnya Eropa, memaksa pemerintah Indonesia menyediakan lahan bagi perkebunan sawit. Lahan-lahan yang ada di nusantara kemudian dikonversi. Dari sawah ke sawit, dari HPH ke sawit, APL dikasi ke sawit, dusun sagu dan tempat keramat serta hutan bahkan hutan lindung pun diperuntukkan demi minyak sawit

Rangkaian persiapan dan acara MUBES Yerisiam Goa 11-13 Mei 2015 (90)

Goodhope- Carson Cumberbatch

Goodhope berawal dari Carson Cumberbatch, sebuah trading house dan investasi Sri Lanka, yang awalnya berinvestasi pada perkebunan teh dan karet di Malaysia dan Sri Lanka di awal 1900-an. Menyadari kesempatan untuk tumbuh di sektor vital, sebagimana pengembagan bisnis kalayak pengusaha lainnya, Carsons kemudian beralih bisnis kelapa sawit dengan mengubah (konversi) perkebunan mereka di Malaysia dan memperluas lebih jauh pada tahun 1996 ke Indonesia.

Jejak pengusaha ini awalnya ditemukan di wilayah kotawaringin. Perusahaan perkebunan sawit yang pertama kali masuk ke Sembuluh adalah PT Agro Indomas (PT AI) pada tahun 1996. Sebelum tahun 1996, PT AI bernama PT Bohindomas Permain yang sahamnya dimiliki oleh tiga perusahaan Malaysia yaitu Agro Hope Sdn Bhd, Shalimar Developments Sdn Bhd, and Cosville Holding Sdn Bhd, dan tujuh pengusaha asal Indonesia.

Dikutip dari situs resmi mereka (http://www.goodhopeholdings.co), Goodhope telah menguasai lebih dari 150.000 hektar lahan di Indonesia dan Malaysia. Spesialisasi grub ini; Perkebunan Kelapa Sawit, Minyak Goreng dan Lemak Refining, Crude Palm Oil Milling, ICT & Sistem Bisnis, Manajemen Proses Bisnis. Pada april 2016, bank sentral Srilanka mengumumkan saham Carson Cumberbatch Plc berakhir 3,77 persen. Jenis perseroan tertutup tersebut kedudukan kantor pusat di Level 20, East Tower, World Trade Centre, Echelon Square, Colombo 01 Colombo, Western Province Sri Lanka. Dengan mempekerjakan lebih dari 10 ribu buruh.

Dari Papua, raksasa pangan asal Srilanka tersebut dicatat dalam “Atlas Sawit Papua: Dibawah Kendali Penguasa Modal” grub agrobinis itu menguasai lahan APL (Areal Penggunaan Lain) di wilayah adat suku besar Yerisiam Gua seluas 13600 HA oleh PT Nabire Baru dan PT Sariwana Adi Perkasa Irian Jaya seluas 7160 HA.

GoodhopeSawit dan Bencana

Kebutuhan untuk membuka luasan kebun sawit tak lain untuk menyuplai permintaan pangan global. Sementara masyarakat setempat justru butuh hutan dan lahan yang alami untuk berburu, meramu dan bercocok tanam secara tradisi. Keberadaan suku asli Yerisiam saat ini hadapkan pada bencana baru. Teknologi plasma yang belum pernah mereka dengar dari leluhur mereka, kini mereka disuruh patuhi aturan tersebut. Daerah mereka dahulu dikelola dengan tangan manusia seperti menebang dengan kampak, sekarang mereka menonton eksavator masuk kasirubuh pohon dan mengunduli tanah.

Dusun cempedak dan dusun sagu yang dulunya menjadi tempat menggantungkan hidup, kini warga adat dibuat tergantung pada tetesan sawit berupa CSR dan upah harian sebagi pekerja. Bahkan tatanan nilai-nilai adat berupa ketokohan seorang kepala suku yang sudah melekat sejak orang Yerisiam ada di sekitar daerah mereka, kini dirusak oleh gerombolan baru dengan pola kepemimpinan ketua koperasi. Adalah Cara Perusahaan Hilangkan Tatanan Adat Yerisiam

Dari peta tutupan hutan yang diterbitkan oleh PUSAKA pada bulan Mei 2016, dalam kurun waktu empat tahun, sejak tahun 2001 hingga 2014, lebih dari 10.000 hektar hutan hilang menjadi kebun kelapa sawit PT. Nabire Baru, Goodhope Group. Tak saja tutupan hutan yang habis, kehadiran perusahaan (sawit/HPH) di daerah Yerisiam juga merambah hutan dan tanah, tapi tatanan adat yang melekat turun temurun juga direkayasa. Masyarakat adat yang tidak sejalan dengan perusahaan dikubur, sementara orang-orang yang pro perusahaan dibekap. Berikut ini cara perusahaan bikin palsu masyarakat

  1. S.P Hanebora yang ditunjuk selaku kepala suku besar, namun oleh perusahaan, alm disebut sebagai politisi
  2. Suku Besar Yerisiam punya 4 sub suku, oleh perusahaan dibentuk 3 koperasi yang dipimpin satu orang.
  3. Surat pelepasan tanah yang seharusnya dibuat oleh kepala suku besar setelah mendapat persetujuan seluruh orang Yerisiam, oleh perusahaan surat diteken satu orang saja.
  4. Orang Yerisiam awalnya hanya tau HPH, oleh perusahaan dialih fungsikan ke sawit
  5. Sejak era belanda maupun Indonesia, hubungan ke masyarakat selalu melalui kepala suku, sejak perusahaan masuk, hubungan ke masyarakat melalui kopermas maupun aparat brimob penjaga keamanan perusahaan.

Praktik perusahaan diatas terjadi di era otonomi khusus yang menjadikan adat dan budaya orang Papua sebagai acuan utama. Gerbong agama samawi menghapus spiritual orang adat dan menggantikannya dengan agama impor dari barat. Sedangkan pemerintah menggantikan peran kepala suku dengan kepala kampung. Perusahaan mengabaikan hubungan kebersamaan suku suku dengan koperasi atau gerombolan pengamanan bisninya. Baik pemerintah, agama dan perusahaan tidak membuat kedamaian di masyarakat adat. Yang ada hanyalah konflik, kerusakan alam dan kemelaratan bahkan terpinggirkan.

Arkilaus Baho