Suku Mairasi Menolak Perusahaan Karena Pelanggaran HAM Tidak Diselesaikan

0
267

Sore minggu lalu (18 Mei 2016), Manager perusahaan pembalakan kayu PT. Wanakayu Hasilindo, Deni Mangoli, mengumpulkan puluhan perwakilan masyarakat Suku Mairasi dari Kampung Oya dan Kampung Sararti, Distrik Naikere, di Penginapan Aitumeri, Miei, Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Deni Mangoli menjelaskan pertemuan tersebut untuk mengsosialisasikan rencana perusahaan melakukan penebangan kayu RKT (Rencana Kerja Tahunan) pada 2017 di wilayah Kampung Oya. Kementerian Kehutanan mengharuskan perusahaan melakukan sosialisasi kepada pemilik hak sejak awal sebelum perusahaan beroperasi.

“Kami juga ingin berkenalan dengan warga dan mendapat restu ijin dari masyarakat. Kalau masyarakat tidak menyetujui bisa berpengaruh kepada ijin perusahaan dan kalau perusahaan sudah keluar maka tidak akan secepatnya kembali berinvestasi”, jelas Deni Mangoli.

Menanggapi rencana perusahaan, tokoh masyarakat Suku Mairsasi dari Kampung Oya, Tomi Muray, berpendapat, “Saya tinggal di Kampung Oya sebelum kabupaten jadi. Saya tra pernah minta perusahaan masuk. Perusahan beroperasi membuat hutan rusak dan masyarakat yang tanggung akibatnya. KTS (PT. Kurniatama Sejahtera, nama perusahaan pembalakan kayu) paksa saya, juga saya tolak. Biarpun bapak berikan uang berapa banyak, sa tolak, sa sudah janji”, ungkap Tomi Muray teguh.

Bukan hanya dampak kerusakan hutan yang dikhawatirkan masyarakat, tetapi juga karena ketidakjelasan tanggung jawab pemerintah menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM Wasior Berdarah (2001) yang berlatarbelakang perampasan hak masyarakat oleh perusahaan HPH.

Peta HPH Wana Kayu Hasilindo

“Keputusan masyarakat tetap menolak perusahaan. Ketika Wasior masih menjadi kecamatan dan perusahaan datang ambil hasil hutan kami hingga terjadi konflik berdarah. Pelanggaran HAM tersebut tidak diselesaikan, tidak dianggap pemerintah. Kondisi masyarakat juga tidak berubah”, jelas Konstan Natama, tokoh masyarakat Suku Mairasi asal Kampung Sararti.

Pada tahun 2015 lalu, Suku Mairasi di Distrik Naikere dan Kuri Wamesa juga menolak rencana perusahaan PT. Menara Wasior (Salim Group) untuk mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit di wilayah adat mereka di dataran Kali Wosimi, Wasior.

Perusahaan PT. Wanakayu Hasilindo merupakan salah satu anak perusahan Sinar Wijaya Group yang sudah beroperasi di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, sejak tahun 1997 dan izinnya (IUIPHHK HA) diperpanjang hingga tahun 2022, dengan areal seluas 84.000 hektar. Sinar Wijaya Group juga mempunyai anak perusahaan pembalakan kayu PT. Wijaya Sentosa yang beroperasi di Distrik Kuri Wamesa, Kabupaten Telum Wondama.

PT. Wijaya Sentosa mengakuisisi konsesi PT. Wapoga Mutiara Timber, dengan areal konsesi seluas 130.755 ha. Sejak awal perusahaan PT. Wijaya Sentosa beroperasi tahun 2012, masyarakat melakukan protes dan perusahaan menghadirkan aparat keamanan untuk membungkam suara kritis masyarakat. (Baca: http://pusaka.or.id/bisnis-gelap-sinar-wijaya-di-kuriwamesa-tanah-papua/)

Masyarakat Mairasi didaerah ini sudah melihat kehadiran perusahaan tidak mendatangkan perubahan bagi kehidupan masyarakat Dusner dan Simiei. Masyarakat justeru kehilangan hutan sumber kehidupannya.

Konstan Natama meminta perusahaan PT. Wanakayu Hasilindo menghargai keputusan masyarakat dan menghormati hak dan budaya masyarakat setempat yang tidak bisa dipisahkan dari hutan.

Ompai (Wasior), Ank, Mei 2016