Pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Tunas Sawa Erma (TSE), Mr. Lee Jong, mengancam akan mem PHK kan tiga buruh PT. TSE, yakni: Anselmus Mbarayap, Cornelis Kindom dan Markus Kondayop.

Ketiga buruh Orang Asli Papua tersebut sebelumnya melakukan aksi demonstrasi bersama ratusan buruh asal Orang Asli Papua di depan Kantor PT. TSE POP A di Camp 19, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, pada 2 Mei 2016 lalu.

Ratusan buruh asal orang asli Papua tersebut memprotes managemen dan Kepala Bagian Personalia PT. TSE yang tidak memperhatikan kesepakatan perusahaan dengan buruh asal orang asli Papua.

Cornelis Kindom, salah seorang buruh yang diancam PHK mengatakan, “Managemen perusahaan tidak memperhatikan kesepakatan terkait prioritas dan pemerataan kesempatan kerja kepada putera dan puteri asli Papua, perusahaan secara diam-diam merekrut buruh pekerja dari luar Papua, perusahaan tidak memperhatikan kesempatan perolehan jenjang karir, pengembangan kapasitas dan pengetahuan teknologi untuk buruh asal Papua, dibandingkan dengan pekerja luar Papua”, jelasnya.

Para pekerja menganggap ini manajemen yang tidak adil dan kurangnya tanggung jawab Kepala Bagian Personalia, Leonardo Rhein, untuk memajukan hak-hak buruh orang asli Papua, “Karenanya, kami meminta juga Kepala Bagian Personalia, Leoanrdo Rheinm untuk meninggalkan jabatan dan digantikan dengan buruh pekerja asal Papua lainnya”, kata Cornelis.

Pihak perusahaan nampaknya tidak terima dengan aksi protes dan tuntutan buruh orang asli Papua. Direktur Mr. Lee Jong dalam pertemuan dengan ketiga buruh tersebut di Kantor Camp 19 PT. TSE (13 Juni 2016), Mr. Lee menyatakan dan menekan akan memutasikan ketiga buruh tersebut secara terpisah ke anak perusahaan Korindo lainnya, seperti PT. BCA, PT. PAL, yang ada didaerah lain.

“Saya terpaksa jalankan aturan perusahaan yak,  saya masih mau kerjasama dengan bapak-bapak tetapi ditempat lain, bapak-bapak siap-siap yak, kalau tidak siap (mutasi) apa boleh buat, sekarang ikut peraturan perusahaan, kalau tidak mau nanti rugi dan jangan menyesal yak”, kata Mr. Lee, sambil pergi meninggalkan ruang pertemuan.

“Kami menolak kebijakan aturan direktur untuk mutasi dan PHK. Mutasi boleh dilakukan karena dua hal, yaitu karyawan melakukan kesalahan dan atau karena promosi jabatan. Tetapi mutasi sekarang ini dilakukan karena kami dianggap bersalah, padahal kami tidak bersalah dan kami hanya menyuarakan permasalahan hak kami buruh orang asli Papua. Ini cara-cara perusahaan yang tidak benar, mengancam, menekan dan membungkam hak kami”, ungkap Cornelis kepada PUSAKA di Asiki.

Pihak Kepolisian setempat juga sudah bertemu mendengarkan keluhan para buruh orang asli Papua dan memandang tidak ada masalah tindak pidana dari aksi tersebut yang merugikan perusahaan.

Para buruh menyatakan menolak kebijakan mutasi dan jika perusahaan tetap memaksa maka seluruh buruh orang asli Papua mundur dari perusahaan PT. TSE karena hak dan aspirasi buruh orang papua tidak diperhatikan.

Cornelis dan kawan-kawan buruh orang asli Papua juga telah bertemu dengan DPRD dan Pemerintah Daerah Boven Digoel untuk menyampaikan permasalahan mereka dan ancaman perusahaan, termasuk isu-isu yang berhubungan hubungan kerja dan diskriminasi terhadap pekerja asli Papua. aturan

PUSAKA menemukan  perusahaan PT. TSE, anak perusahaan Korindo Group, PMA asal Korea ini, yang sudah beroperasi semenjak tahun 1995, memiliki ribuan buruh yang terbagi dalam beberapa unit kegiatan, diantaranya melibatkan ratusan buruh orang asli Papua, yang menarik perhatian adalah terkait dengan buruh orang asli Papua yang berasal dari penduduk asli setempat, penguasa dan pemilik tanah dari Suku Mandobo, hanya terdapat 9 (sembilan) orang saja, diantaranya dua orang yang bekerja di kantor menjadi staf administrasi.

Tidak seperti yang dijanjikan perusahaan bahwa penduduk asli dan tuan tanah setempat akan diprioritaskan dan direkrut menjadi pekerja perusahaan untuk menggantikan mata pencaharian mereka yang hilang. Ironis.

Ank, Juni 2016

Share on

Kategori

Subscribe

Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

    Berkomentar

    Leave A Comment

    Berita Terkait

    Jelajahi berita lainnya:

    BERITA LAINNYA

    Pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Tunas Sawa Erma (TSE), Mr. Lee Jong, mengancam akan mem PHK kan tiga buruh PT. TSE, yakni: Anselmus Mbarayap, Cornelis Kindom dan Markus Kondayop.

    Ketiga buruh Orang Asli Papua tersebut sebelumnya melakukan aksi demonstrasi bersama ratusan buruh asal Orang Asli Papua di depan Kantor PT. TSE POP A di Camp 19, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, pada 2 Mei 2016 lalu.

    Ratusan buruh asal orang asli Papua tersebut memprotes managemen dan Kepala Bagian Personalia PT. TSE yang tidak memperhatikan kesepakatan perusahaan dengan buruh asal orang asli Papua.

    Cornelis Kindom, salah seorang buruh yang diancam PHK mengatakan, “Managemen perusahaan tidak memperhatikan kesepakatan terkait prioritas dan pemerataan kesempatan kerja kepada putera dan puteri asli Papua, perusahaan secara diam-diam merekrut buruh pekerja dari luar Papua, perusahaan tidak memperhatikan kesempatan perolehan jenjang karir, pengembangan kapasitas dan pengetahuan teknologi untuk buruh asal Papua, dibandingkan dengan pekerja luar Papua”, jelasnya.

    Para pekerja menganggap ini manajemen yang tidak adil dan kurangnya tanggung jawab Kepala Bagian Personalia, Leonardo Rhein, untuk memajukan hak-hak buruh orang asli Papua, “Karenanya, kami meminta juga Kepala Bagian Personalia, Leoanrdo Rheinm untuk meninggalkan jabatan dan digantikan dengan buruh pekerja asal Papua lainnya”, kata Cornelis.

    Pihak perusahaan nampaknya tidak terima dengan aksi protes dan tuntutan buruh orang asli Papua. Direktur Mr. Lee Jong dalam pertemuan dengan ketiga buruh tersebut di Kantor Camp 19 PT. TSE (13 Juni 2016), Mr. Lee menyatakan dan menekan akan memutasikan ketiga buruh tersebut secara terpisah ke anak perusahaan Korindo lainnya, seperti PT. BCA, PT. PAL, yang ada didaerah lain.

    “Saya terpaksa jalankan aturan perusahaan yak,  saya masih mau kerjasama dengan bapak-bapak tetapi ditempat lain, bapak-bapak siap-siap yak, kalau tidak siap (mutasi) apa boleh buat, sekarang ikut peraturan perusahaan, kalau tidak mau nanti rugi dan jangan menyesal yak”, kata Mr. Lee, sambil pergi meninggalkan ruang pertemuan.

    “Kami menolak kebijakan aturan direktur untuk mutasi dan PHK. Mutasi boleh dilakukan karena dua hal, yaitu karyawan melakukan kesalahan dan atau karena promosi jabatan. Tetapi mutasi sekarang ini dilakukan karena kami dianggap bersalah, padahal kami tidak bersalah dan kami hanya menyuarakan permasalahan hak kami buruh orang asli Papua. Ini cara-cara perusahaan yang tidak benar, mengancam, menekan dan membungkam hak kami”, ungkap Cornelis kepada PUSAKA di Asiki.

    Pihak Kepolisian setempat juga sudah bertemu mendengarkan keluhan para buruh orang asli Papua dan memandang tidak ada masalah tindak pidana dari aksi tersebut yang merugikan perusahaan.

    Para buruh menyatakan menolak kebijakan mutasi dan jika perusahaan tetap memaksa maka seluruh buruh orang asli Papua mundur dari perusahaan PT. TSE karena hak dan aspirasi buruh orang papua tidak diperhatikan.

    Cornelis dan kawan-kawan buruh orang asli Papua juga telah bertemu dengan DPRD dan Pemerintah Daerah Boven Digoel untuk menyampaikan permasalahan mereka dan ancaman perusahaan, termasuk isu-isu yang berhubungan hubungan kerja dan diskriminasi terhadap pekerja asli Papua. aturan

    PUSAKA menemukan  perusahaan PT. TSE, anak perusahaan Korindo Group, PMA asal Korea ini, yang sudah beroperasi semenjak tahun 1995, memiliki ribuan buruh yang terbagi dalam beberapa unit kegiatan, diantaranya melibatkan ratusan buruh orang asli Papua, yang menarik perhatian adalah terkait dengan buruh orang asli Papua yang berasal dari penduduk asli setempat, penguasa dan pemilik tanah dari Suku Mandobo, hanya terdapat 9 (sembilan) orang saja, diantaranya dua orang yang bekerja di kantor menjadi staf administrasi.

    Tidak seperti yang dijanjikan perusahaan bahwa penduduk asli dan tuan tanah setempat akan diprioritaskan dan direkrut menjadi pekerja perusahaan untuk menggantikan mata pencaharian mereka yang hilang. Ironis.

    Ank, Juni 2016

    Share on

    Kategori

    Subscribe

    Berlangganan newsletter bulanan kami untuk menerima semua berita dan artikel terbaru langsung ke email Anda.

      Berkomentar

      Leave A Comment

      Berita Terkait

      Jelajahi berita lainnya:

      BERITA LAINNYA
      Share on